FACEINDONESIA.CO.ID – Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong penguatan tradisi literasi dan kajian kitab turats di kalangan generasi muda Nahdliyin melalui program Pojok Baca Nahdliyin. Hal ini disampaikan saat menerima audiensi pengurus Pojok Baca Nahdliyin di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Menag menekankan pentingnya membangun tradisi keilmuan berbasis literasi yang tidak hanya berhenti pada membaca, tetapi juga menulis.
“Kita berharap Pojok Baca Nahdliyin membangkitkan tradisi turats Nahdliyin muda. Kita harus memikirkan penguatan kebahasaan anak-anak kita dan bagaimana akhlakul karimah diciptakan melalui kelompok-kelompok kajian,” ujarnya.
Ia menambahkan, budaya literasi yang kuat akan berdampak pada kualitas generasi muda. “Saya yakin kalau anak-anak kita cinta buku dan literasi itu pasti akan lebih terukur,” katanya.
Menag juga menyoroti lemahnya tradisi menulis di kalangan masyarakat. “Kelemahan kita itu pintar membaca, tapi lemah dalam menulis. Jadi Pojok Baca ini bukan hanya membaca, tapi harus mengkaji dan menulis, termasuk menuliskan tokoh atau kiai-kiai yang selama ini belum dipopulerkan,” lanjutnya.
Menurutnya, penguatan tradisi turats melalui pembiasaan membaca kitab kuning dan penulisan karya ilmiah dapat menjadi kontribusi nyata bagi penguatan umat Islam di Indonesia. Ia berharap inisiatif ini dapat direplikasi di berbagai daerah.
Ketua Umum Pojok Baca Nahdliyin, Arif Budiman Mahdi, menyatakan pihaknya berkomitmen menjaga independensi gerakan literasi tersebut. “Sebagaimana yang disampaikan Pak Menag, Pojok Baca Nahdliyin diminta agar tidak terlalu tergantung pada pihak manapun, serta menjaga ruh gerakan ini agar tidak terlibat dalam arus dukung-mendukung dalam kancah politik,” ujarnya.
Arif menjelaskan, Pojok Baca Nahdliyin telah menjalankan sejumlah program literasi dan dokumentasi keislaman, seperti penerjemahan Al-Qur’an ke bahasa daerah, penyusunan biografi ulama, terutama yang belum banyak dikenal publik, serta pengembangan pojok baca mini di berbagai pesantren.
Saat ini, program tersebut telah hadir di 56 titik yang tersebar di masjid, musala, majelis taklim, lembaga pendidikan, hingga pondok pesantren. Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas akses literasi keislaman sekaligus memperkuat tradisi keilmuan di tengah masyarakat. (San)





