FACEINDONESIA.CO.ID – Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak generasi muda Islam, khususnya kalangan mahasiswa dan aktivis organisasi kemahasiswaan, untuk terus memperkuat tradisi akademik dan literasi keagamaan yang mendalam di tengah perkembangan ruang digital yang semakin dinamis.
Pesan tersebut disampaikan Menag saat menerima kunjungan Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) di Kediaman Dinas Menteri Agama, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Menurut Menag, media sosial merupakan ruang ekspresi yang sangat penting bagi generasi muda saat ini. Namun demikian, ia menekankan perlunya keseimbangan antara masifnya aktivitas di ruang digital dengan penguatan kapasitas intelektual dan tradisi keilmuan yang kokoh.
“Kita melihat anak-anak muda saat ini sangat aktif di media sosial, namun terkadang belum dibarengi dengan kedalaman literatur atau tradisi riset yang kuat. Media sosial adalah bagian dari perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari, tetapi karya yang mencerahkan harus lahir dari hasil pemikiran yang matang dan berdasar,” ujar Menag.
Ia mendorong organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan untuk terus membangun budaya diskusi, kajian ilmiah, serta publikasi pemikiran substantif di berbagai media arus utama. Menurutnya, dinamika dan dialektika gagasan antarmahasiswa adalah pupuk yang baik bagi kepemimpinan masa depan.
“Dinamika dan dialektika gagasan yang sehat dalam organisasi itu pasti membuahkan hasil yang positif. Tanpa adanya tantangan dan ruang adu gagasan secara intelektual, tidak akan ada perkembangan yang berarti bagi kematangan seorang mahasiswa,” paparnya.
Lebih lanjut, Menag mengingatkan kembali akan warisan kejayaan intelektual dari perguruan tinggi keagamaan Islam yang selama ini menjadi muara perpaduan pemikiran keislaman dan kebangsaan. Ia menantang generasi saat ini untuk mengambil peran tersebut.
“Ruang akademik kita harus senantiasa menjadi muara perpaduan berbagai literatur yang kuat. Sintesis pemikiran inilah yang sangat penting untuk kita hidupkan kembali sebagai panduan umat. Tradisi intelektual yang kuat akan melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dengan argumentasi yang baik, moderat, dan mencerahkan,” tegas Menag.
Di akhir arahan, Menag menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk mendukung setiap upaya penguatan literasi dan ruang-ruang dialog konstruktif di kalangan generasi muda.
“Kita merindukan ekosistem yang mampu melahirkan kembali figur-figur pemikir Islam yang tangguh. Kementerian Agama tentu akan selalu mendukung segala ikhtiar keilmuan yang memunculkan pemikir-pemikir muda demi kemaslahatan dan kejayaan bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Melalui penguatan tradisi akademik yang berkelanjutan, Menag optimistis generasi muda akan semakin berperan aktif dalam merawat nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan di tengah cepatnya perubahan zaman. (San)





