Membaca Al-Qur’an sebagai Surat Cinta, Bukan Hanya Khatam #5

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Sejak kecil, banyak kalangan muslim diajarkan membaca Al-Qur’an dengan ukuran jumlah: berapa halaman, berapa juz, berapa kali khatam. Lebih-lebih selama bulan Ramadhan, target  mengkhatamkan Al-Qur’an mendapatkan momentum sangat kuat sebagai sayyid al-syuhur, rajanya bulan.

Semua itu baik. Sebagai amaliyah, tak ada yang salah.
Namun ketika target menjadi orientasi, kadang makna tertinggal di belakang.

Bacaan Lainnya

Bukankah Allah menurunkan Al-Qur’an bukan sekadar untuk dilafalkan, tetapi ditadabburi.

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Ayat ini seperti mengetuk lembut: yang dibutuhkan bukan hanya suara yang membaca, tetapi hati yang membuka diri.

Seorang santri di Jawa Timur pernah bercerita, ia dulu bangga bisa khatam Al-Quran berkali-kali. Karena ndaras menjadi rutinitas para penghafal Al-Quran. Namun suatu malam, kyainya dawuh:

“Nak, coba baca satu ayat saja… sampai kamu merasa Allah sedang berbicara kepadamu.”

Tengah malam jelang Subuh ia membaca sangat pelan. Hanya satu ayat yang ditadabburi. Tentang rahmat Allah.

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56)

Ia berhenti lama. Merenungkan maknanya. Air matanya meleleh. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang menyelesaikan bacaan, tetapi sedang disapa Tuhan.

Sejak itu ia berkata,
“Lebih baik satu ayat yang mengubah hati, daripada satu juz yang hanya lewat di bibir.”

 

Al-Qur’an sebagai Surat Cinta

Para ulama sejak dahulu menggambarkan Al-Qur’an dengan bahasa yang sangat indah. Imam Hasan al-Basri berkata: “Al-Qur’an diturunkan untuk direnungi dan diamalkan, tetapi manusia justru menjadikan membacanya sebagai amal utama tanpa tadabbur.”

Sementara Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menulis: “Barang siapa ingin berbicara dengan Allah, maka hendaklah ia shalat. Dan barang siapa ingin Allah berbicara kepadanya, maka hendaklah ia membaca Al-Qur’an.”

Betapa lembut makna kalimat itu:
membaca Al-Qur’an berarti membuka ruang percakapan dengan Tuhan.

Tak pelak jika kalimat mantra ini berbekas di jiwa. Bayangkan di sebuah madrasah, seorang guru bertanya ramah kepada murid-muridnya:

“Siapa yang tadi pagi membaca Al-Qur’an?”

Hampir semua tangan terangkat.
Lalu ia bertanya lagi,

“Siapa yang merasa Allah sedang berbicara kepadamu saat membaca?”

Kelas hening seketika.

Pertanyaan kedua itu terasa lebih dalam daripada yang pertama. Karena banyak di antara kita membaca Al-Qur’an, tetapi belum tentu mendengar pesannya.

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mengajak kita menggeser cara pandang: Al-Qur’an bukan hanya kewajiban yang dibaca, tetapi pesan atau surat cinta yang ditujukan kepada hati.

Pada saat pelatihan KBC, fasilitator mengajak peserta menemukan kembali makna membaca Al-Qur’an lebih kepada pesannya:

Bukan sekadar cepat selesai, tetapi dalam meresap.
Bukan cuma tajwid yang benar, tetapi hati yang hadir.
Bukan hanya suara yang indah, tetapi rasa disapa yang menyentuh.

Karena cinta tidak diukur dari seberapa banyak kata diucapkan, tetapi seberapa dalam makna dirasakan.

KBC bukan hanya dipraktikkan di madrasah. Seorang ibu muda di bilangan BSD Tangerang mengungkapkan, suatu malam ia merasakan dirinya sangat lelah. Sepekan bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta membuat hidupnya seperti berjalan di atas labirin. Masalah rumah tangga, ekonomi, dan pekerjaan datang bersamaan laiknya tagihan yang menyapa banyak keluarga di akhir bulan.

Selepas shalat isya, suatu malam, ibu itu membuka Al-Qur’an tanpa tujuan.
Tanpa dinyana, matanya tertuju pada ayat:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Ia baca terjemahannya. Ia eja kata per kata.

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Az-Zumar: 53).

Hatinya bergemuruh. Ia menemukan pesan yang diam-diam meresap ke kalbunya. Ia baca berulang-ulang. Seperti ada yang berbicara langsung kepadanya. Kalimat “janganlah berputus asa dari rahmat Allah” menghunjam hatinya.

Malam itu tidak mengubah keadaan si ibu,
tetapi mengubah hatinya.

Dan kadang, itulah mukjizat Al-Qur’an yang paling sunyi: menyelamatkan jiwa tanpa suara.

Praktik Satu Ayat yang Menyapa

Di beberapa madrasah yang menerapkan pendekatan KBC, guru tidak lagi menuntut murid mendaras Al-Quran hanya dengan target halaman. Mereka menambahkan satu kebiasaan kecil: “Ayat Hari Ini.”

Setiap murid dimintanya membaca ayat yang disukai dan ingin dibaca. Setelah membaca, murid diminta menulis:

· satu ayat yang paling menyentuh,
· alasan mengapa ayat itu terasa dekat,
· satu tindakan kecil yang ingin dilakukan.

Hasilnya mengejutkan.

Ada siswa yang memilih ayat tentang sabar, lalu berhenti bertengkar.
Ada yang memilih ayat tentang jujur, lalu mengembalikan barang temuan.
Ada yang memilih ayat tentang doa, lalu mulai rajin shalat.

Di situlah Al-Quran berubah dari teks menjadi arah hidup.

KBC tidak berhenti di sekolah. Ia melibatkan orang tua dan masyarakat. Beberapa praktik sederhana mulai tumbuh. Ada pembiasaan “Membaca Satu Ayat Bersama Keluarga”. Targetnya bukan banyaknya ayat, tetapi obrolan setelahnya.

Sang ayah membuka ruang dialog: “Menurutmu, ayat ini sedang mengajarkan apa?”

Anak sulungnya menjawab, “mengajarkan berbuat baik pada tetangga”.

Di hari berikutnya keluarga itu membaca ayat “etika jual-beli”. Terjadi diskusi yang mengasyikkan antar anggota keluarga. Karena pesan ayat diperoleh, mereka memahami. Saat surat cinta dari Tuhan sampai pada kesadaran, keluarga itu makin rajin membaca Al-Quran.

Berbeda lagi praktik tadabbur singkat di masjid salah satu perumahan di Depok. Imam masjid membacakan satu ayat setelah Maghrib. Lima menit saja. Namun konsisten. Para jemaah diajak mengenal sapaan Allah lewat setiap ayat yang dibaca. Direfleksikan. Dijadikan inspirasi untuk implementasi dalam kehidupan keseharian.

Fasilitator KBC, dalam satu sesi pelatihan di Raudlatul Athfal Raushan Fikr, memperkenalkan “Jurnal Ayat Cinta”. Ia ajak guru-guru RA menulis: “Hari ini, Allah menyapaku lewat ayat…”

Tradisi kecil itu perlahan menumbuhkan relasi hangat dengan Al-Qur’an.

Amalan KBC: Membaca dengan Hati

Melengkapi praktik-baik KBC, berikut latihan sederhana namun mendalam:

1. Niat sebelum membaca

Ucapkan pelan: “Ya Allah, aku ingin memahami pesan cinta-Mu hari ini.”

Diam sejenak.
Biarkan hati siap.

2. Catat satu ayat yang menyapa

Tidak perlu banyak. Cukup satu ayat yang terasa dekat. Lalu tuliskan:

ayatnya,
perasaanmu,
tindakan kecil setelahnya.

3. Nikmati, bukan mengejar

Jangan hanya mengejar target khatam, tetapi nikmati setiap ayat seolah ditujukan langsung kepadamu. Karena memang…
Al-Qur’an turun untuk menyapa manusia.

Banyak di antara kita belajar membaca Al-Qur’an, tetapi belum tentu mencintainya.

Padahal ketika cinta tumbuh:

· membaca menjadi kebutuhan, bukan beban
· ibadah menjadi kerinduan, bukan tekanan
· akhlak berubah tanpa paksaan

Inilah inti Panca Cinta KBC: menghubungkan iman dengan rasa dicintai.

 

Ketika Surat Cinta Menjadi Tanda Cinta

Suatu ketika, seorang murid berkata kepada gurunya:

“Ustadz, dulu saya membaca Al-Qur’an supaya cepat selesai. Sekarang saya ubah modenya membaca supaya hati tenang.”

Kalimat itu sederhana. Namun di sanalah pendidikan menemukan maknanya. Bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab hukum, tetapi surat cinta dari Tuhan. Dan siapa pun yang membacanya dengan kesadaran, akan menemukan satu hal yang paling menenangkan: bahwa ia tidak pernah sendirian. Ada Tuhan yang menyapa lewat kalam.

Saat kalam membekas di kesadaran, itu pertanda cinta Tuhan yang diam-diam membekas dalam kesadaran. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *