FACEINDONESIA.CO.ID-Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri bertemu Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, pelaku industri, dan asosiasi pariwisata di Labuan Bajo untuk membahas pemulihan sektor pariwisata Flores pascagempa bumi berkekuatan M7,7.
Pertemuan yang berlangsung Jumat (28/8/2026) tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), ASITA, pelaku wisata bahari, pramuwisata, kelompok usaha, serta berbagai pemangku kepentingan pariwisata.
Menpar Widiyanti menyampaikan duka dan empati kepada masyarakat yang terdampak gempa, khususnya keluarga korban meninggal dunia, korban luka, serta warga yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
“Kementerian Pariwisata hadir di Labuan Bajo dengan fokus pada pemulihan dan keberlanjutan sektor pariwisata. Saya datang untuk mendengar langsung kondisi, tantangan, dan kebutuhan mereka pascabencana,” ujar Widiyanti.
Menurutnya, pemulihan pariwisata harus mempertimbangkan tingkat kerusakan, kesiapan destinasi dan pelaku usaha untuk beroperasi kembali, serta ketergantungan masyarakat terhadap aktivitas pariwisata.
Pemulihan juga harus mencakup seluruh ekosistem pariwisata, mulai dari destinasi, hotel, restoran, desa wisata, kapal wisata, pemandu hingga UMKM. Dengan demikian, pemulihan tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi juga mengembalikan pekerjaan dan pendapatan masyarakat.
Menpar menekankan empat langkah utama pemulihan pariwisata Flores, yakni memastikan keselamatan dan komunikasi publik berbasis data, memulihkan destinasi serta ekonomi masyarakat, mengembalikan kepercayaan pasar melalui reaktivasi pariwisata secara bertahap, dan memperkuat ketangguhan destinasi menghadapi risiko bencana.
“Pemulihan tidak berhenti pada perbaikan kerusakan fisik. Momentum ini harus digunakan untuk memperkuat manajemen risiko bencana, SOP tanggap darurat, jalur dan titik evakuasi, sistem komunikasi, hingga kesiapan seluruh pelaku pariwisata,” katanya.
Aktivitas Wisata Labuan Bajo Tetap Berjalan
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melaporkan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo tetap berjalan dan arus kunjungan wisatawan relatif terjaga setelah gempa.
Berdasarkan laporan per 28 Agustus 2026, tercatat 2.854 keberangkatan kapal dan 32.692 pergerakan wisatawan sejak 15 Agustus 2026. Arus penerbangan domestik maupun internasional juga dilaporkan relatif stabil.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar telah kembali dibuka setelah sempat ditutup sementara untuk asesmen keselamatan. Sejumlah atraksi wisata darat juga tetap beroperasi.
Menpar meminta informasi mengenai kondisi destinasi disampaikan secara akurat dan konsisten berdasarkan situasi terkini di lapangan.
“Keselamatan wisatawan dan masyarakat tetap menjadi prioritas. Informasi harus berbasis data yang sama, diperbarui secara cepat, dan disampaikan secara konsisten,” ujarnya.
Melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Kementerian Pariwisata terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, dan pelaku pariwisata. Pemantauan dilakukan terhadap daya tarik wisata, akomodasi, restoran, fasilitas pariwisata, serta aksesibilitas.
Perkuat Keselamatan Wisata Bahari
Selain pemulihan, Kementerian Pariwisata mendorong penguatan keselamatan wisata, terutama aktivitas bahari yang menjadi salah satu daya tarik utama Labuan Bajo.
Penguatan dilakukan melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penerapan SOP, kepatuhan terhadap standar keselamatan, serta kesiapan menghadapi kondisi darurat di darat maupun laut.
Pada 2026, Kementerian Pariwisata telah menjalankan sejumlah program peningkatan kompetensi, termasuk Sertifikasi Tenaga Kerja Pariwisata Indonesia (SATRIA) bidang kepemanduan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) untuk wisata tirta, wisata gunung, dan snorkeling.
Pelaku usaha dan asosiasi juga mendorong penguatan pelatihan mitigasi gempa dan tsunami bagi nakhoda, awak kapal, pemandu, serta operator wisata.
“Pariwisata yang berkualitas selalu dimulai dari hal paling mendasar, yaitu keselamatan masyarakat dan wisatawan,” kata Widiyanti.
Kembangkan Destinasi di Luar Komodo
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas pengembangan destinasi wisata di luar kawasan Taman Nasional Komodo.
Kementerian Pariwisata mendorong penguatan daya tarik wisata di sisi darat untuk menciptakan pengalaman yang lebih beragam, memperpanjang lama tinggal wisatawan, dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Sejumlah destinasi yang menjadi pembahasan antara lain Pulau Kukusan, Pulau Kelor, dan Gua Rangko, serta berbagai potensi wisata lainnya di Manggarai Barat dan Flores.
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengatakan gempa 15 Agustus 2026 tidak memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas pariwisata secara keseluruhan di Labuan Bajo.
“Kunjungan wisatawan relatif sama dibandingkan sebelum gempa. Penerbangan domestik maupun internasional juga relatif stabil,” ujar Edistasius.
Ia menambahkan, pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan terus melakukan pemantauan dan memastikan kegiatan wisata tetap memperhatikan keselamatan, termasuk berkoordinasi dengan KSOP terkait keselamatan pelayaran.
Menpar Widiyanti menegaskan seluruh masukan dari pemerintah daerah, asosiasi, dan pelaku industri akan menjadi bahan tindak lanjut bersama.
“Labuan Bajo harus pulih, dan pada saat yang sama kita ingin Labuan Bajo semakin tangguh dan siap menghadapi berbagai risiko di masa depan,” tegasnya.(DRI)






