FACEINDONESIA.CO.ID-Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng PT Nestlé Indonesia untuk memperkuat ekspor produk manufaktur nasional dengan target nilai ekspor minimal Rp 10 triliun dalam tiga tahun ke depan. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua pihak dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, Kamis (15/10/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Kemendag melepas ekspor produk kopi siap minum atau ready-to-drink (RTD) Nestlé Indonesia ke Australia. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas pasar produk Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional di tingkat global.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, pelepasan ekspor tersebut tidak hanya mencerminkan pengiriman produk ke Australia, tetapi juga menggambarkan potensi produk kopi Indonesia untuk menembus berbagai pasar internasional.
“Secara simbolis kita melepas ekspor ke Australia, tetapi sebenarnya kita juga melakukan ekspor ke berbagai negara untuk produk kopi dari Indonesia,” kata Budi di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang.
Budi mengapresiasi kontribusi Nestlé yang telah beroperasi lebih dari 50 tahun di Indonesia. Menurutnya, investasi dan kemitraan perusahaan tersebut turut mendorong pengembangan produk lokal agar mampu memenuhi standar internasional.
Kerja sama itu juga melibatkan petani kopi, peternak sapi perah, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keterlibatan berbagai pelaku usaha tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai pasok domestik sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menjelaskan, komitmen ekspor minimal Rp 10 triliun selama tiga tahun menjadi salah satu poin utama dalam kesepakatan tersebut. Nilainya masih berpotensi meningkat seiring dengan perluasan pasar dan penguatan rantai pasok.
Menurut Fajarini, kerja sama ini tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai ekspor, tetapi juga bertujuan meningkatkan produktivitas dan daya saing petani Indonesia.
Upaya tersebut sejalan dengan program Desa Bisa Ekspor yang mendorong petani meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas hasil pertanian agar sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.
Melalui kemitraan dengan perusahaan global seperti Nestlé, produk pertanian lokal diharapkan semakin mudah terhubung dengan jaringan rantai pasok internasional. Dengan demikian, petani berpeluang memperoleh akses pasar yang lebih luas.
Fajarini menambahkan, penguatan rantai pasok berpotensi membuka peluang ekspor bagi sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti kopi, kakao, kelapa, santan, dan rempah-rempah.
Pemerintah berharap pembinaan petani dan peningkatan produktivitas dapat membantu produk-produk tersebut memenuhi standar pasar global sekaligus menarik lebih banyak pembeli dari luar negeri.
Sementara itu, CEO Nestlé Indonesia Georgios Badaro menyampaikan, volume ekspor produk jadi dari empat pabrik Nestlé di Indonesia diperkirakan melampaui 50.000 ton hingga akhir 2026.
Produk-produk tersebut ditujukan ke lebih dari 30 negara yang tersebar di tiga benua. Capaian ini menunjukkan peran fasilitas produksi di Indonesia dalam mendukung jaringan bisnis global perusahaan.
Georgios menegaskan, dukungan pemerintah, khususnya Kemendag, menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong peningkatan ekspor. Namun, kualitas dan daya saing harga tetap menjadi penentu utama agar produk Indonesia mampu mempertahankan kepercayaan pasar internasional.
Dukungan terhadap pemasok lokal juga menjadi bagian dari strategi rantai pasok Nestlé. Direktur Corporate Affairs PT Nestlé Indonesia Fajar Dewantara mengatakan, perusahaan telah membina sekitar 12.500 petani kopi di Indonesia, terutama di wilayah Lampung.
Selain sektor kopi, Nestlé turut menjalankan program pembinaan peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur selama lebih dari 50 tahun. Program tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan produksi susu dalam negeri.
Melalui kerja sama ini, Kemendag dan Nestlé berharap peningkatan ekspor nasional dapat berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas petani, peningkatan produktivitas pertanian, dan perluasan akses produk lokal ke pasar internasional.
Target ekspor minimal Rp 10 triliun dalam tiga tahun ke depan diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat peran industri manufaktur serta komoditas pertanian Indonesia dalam rantai perdagangan global.(ZID)





