Kemenag Siapkan Afirmasi dan Beasiswa untuk Peningkatan Mutu Ma’had Aly

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Kementerian Agama telah menerbitkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1495 Tahun 2025 tentang Standar Mutu Pendidikan Pesantren pada Ma’had Aly Marhalah Ula, Marhalah Tsaniyah, dan Marhalah Tsalitsah. Sebagai tindaklanjut, Kemenag siapkan sejumlah kebijakan afirmasi, termasuk pemberian beasiswa bagi mudir dan mahasiswa Ma’had Aly.

Direktur Pesantren, Basnang Said, menegaskan bahwa peningkatan mutu Ma’had Aly harus ditopang kebijakan afirmatif pada penguatan muhadlir melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB). Menurutnya, pemanfaatan BIB di perguruan tinggi dalam dan luar negeri sangat penting sebagai instrumen strategis hasil kolaborasi Kementerian Agama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam mendorong akselerasi mutu pendidikan tinggi pesantren.

Bacaan Lainnya

“Beasiswa Indonesia Bangkit adalah instrumen transformasi mutu. Kita ingin muhadlir Ma’had Aly tidak hanya kuat di turats, tetapi juga memiliki kapasitas akademik global dan jejaring internasional,” tegasnya saat memberikan sambutan pada Sosialisasi Peningkatan Layanan Mutu Ma’had Aly di Bogor, Rabu (8/4/2026). Acara yang berlangsung tiga hari, 8–10 April 2026, ini diikuti para Naib Mudir (Wakil Rektor) Ma’had Aly dari berbagai daerah.

“Investasi pada kualitas muhadlir merupakan kunci untuk menjadikan Ma’had Aly sebagai pusat kaderisasi ulama berkelas dunia,” sambungnya.

Selain itu, Basnang juga menekankan urgensi desain kebijakan afirmatif yang berpihak pada Ma’had Aly, agar akses terhadap beasiswa semakin terbuka, adaptif terhadap karakter pesantren, dan selaras dengan kebutuhan pengembangan takhassus keilmuan.

Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menegaskan bahwa penguatan mutu Ma’had Aly harus berangkat dari integrasi tradisi keilmuan pesantren dengan tuntutan global. “Tantangan utama kita adalah menggabungkan khazanah klasik dengan kebutuhan zaman. Ma’had Aly harus mampu menjembatani turats dengan realitas global,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa modernisasi tidak identik dengan penyeragaman total, melainkan penetapan standar mutu yang dapat dicapai oleh seluruh Ma’had Aly secara bertahap dan terukur.

“Standar mutu harus jelas, tetapi bentuk dan kekhasan masing-masing Ma’had Aly tetap dijaga. Yang penting, seluruhnya bergerak menuju kualitas terbaik,” tegasnya.

Selain mendorong transformasi pembelajaran berbasis problem-based learning dan penguatan riset turats, Arskal juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya kualifikasi akademik muhadlir (dosen), serta pembentukan ekosistem akademik yang mendorong kolaborasi, komunikasi, dan kepemimpinan mahasantri.

Anggota Majelis Masyayikh, KH. Abdul Ghofur Maimoen menegaskan bahwa Ma’had Aly memiliki mandat strategis dalam mencetak ulama yang mendalam secara keilmuan sekaligus responsif terhadap kebutuhan masyarakat. “Ma’had Aly memadukan tradisi kitab kuning dengan sistem akademik terstruktur untuk melahirkan ulama yang relevan dengan perkembangan zaman,” jelasnya.

Ia juga menekankan tiga pilar utama mutu Ma’had Aly, yakni tarbiyah, bahts, dan khidmah, sebagai fondasi implementasi standar mutu pendidikan pesantren.

Melalui kegiatan ini, Ditjen Pendidikan Islam berharap terbangun kesamaan persepsi, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta komitmen bersama dalam menerapkan standar mutu pendidikan pesantren secara konsisten dan berkelanjutan. Kegiatan ini juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi Ma’had Aly sebagai pusat kaderisasi ulama, pengembangan keilmuan Islam, serta kontributor penting dalam pembangunan peradaban bangsa di era global. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *