FACEINDONESIA.CO.ID – Mendung yang sedari pagi menggelayut di langit kota perlahan melindap seperti tirai yang ditarik pelan dari panggung alam ketika matahari mengirimkan berkas cahaya kecilnya. “Puji Tuhan, rasanya tidak sabar menunggu sore,” Megy Lusi berceloteh. “Ada apa dengan sore ibu?” “Bapak ni mau tau sa urusan ema-ema. Biasa, berburu takjil. Pak Umar yang berpuasa katong yang ngabuburit,” ia merespons cepat kayak notif WA langsung centang biru. Pak Umar adalah seorang muslim yang mengajar di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang.
Dan begitu alarm pulang di hpnya, teng si Megy langsung go. Kayak loading bar 100% langsung finish. “Buruan bestie,” ia berteriak kepada Shelly Laukamang dari halaman parkir. “Duluan, be masih tunggu misua, terus ke rumah jemput anak.” “OK. Be duluan. Sampai ketemu di Gereja Katedral. Ingat GPL, gak pake lama, jangan ghosting takjil dong.”
***
Gereja Katedral Kristus Raja Kupang. Inilah lokasi war takjil paling seru dan unik di Kota Kupang. Lokasi yang berada di simpang Soekarno-Hata ini memang identik dengan surga takjil di bulan Ramadan. Selama sebulan penuh, Gereja merenegosiasi dirinya sendiri demi mewadahi kebutuhan bulan Ramadan. Warga mengambil lebih banyak ruang yang pada bulan-bulan biasanya tidak pernah mereka klaim.
Setiap sore sepanjang bulan Ramadan berjejer tenda warna-warni semeriah warna-warni makanan yang tersaji. Aromanya menggoda selera. One must stop here for the best Ramadan delights.
“Bestie, ini spotaesthetic banget. Ayo selfie dulu baru takjil, biar feed son kalah sama selebgram,” seorang remaja putri berceloteh riang kepada teman-temannya. “lu kayak admin akun meme sa. Captionnya pasti auto ngakak,” rekannya menimpali. “Tenang sa, nanti be bikin captionnya: GPL vibes. Ayo geng buruan, takjilnya limited edition, kalau telat tinggal gorengan sisa.”
Lalu merekapun berselfie, ria dan jenaka, sesuai jiwa mereka yang remaja. Merayakan sebuah liminalitas yang memberi mereka peluang berekspresi. This view feels like a dream. Grateful to witness this beauty.
Ya sungguh indah. Keindahan simpang Soekarno-Hata ini bukan karena ia menjadi titik temu yang menghubungkan seluruh arteri utama kota, tapi ia mengisahkan sebuah kehidupan religius yang berdampingan penuh damai. Ada Gereja Katedral, Masjid Raya Kupang dan Gereja Kota Kupang. Semua bisa ditempuh dengan jalan kaki. A place where beauty speaks. Sebuah landmark perkembangan umat Katolik, Kristen dan Islam di kota ini.
***
War takjil di depan Gereja Katedral Kupang ini sudah mentradisi. Setiap kali Ramadan orang-orang berdatangan bagai gelombang dari berbagai penjuru. Lokasi ini menjadi festival kemanusiaan bernuansa keagamaan yang tulus. Salib Kristus di menara Katedral seperti menyapa umat menyampaikan salam yang paling hangat: “Ahlan wasahlan wamarhaban, ya Ramadan”. Aku menyambut kedatanganmu dengan kegembiraan, rasa syukur dan hati yang lapang bulan rahmat bagi umat Islam.
Betapa tidak. Penyedia takjil adalah emak-emak dari Kampung Solor, Bonipoi, Lai Lai Besi Kopan dan Fontein, kampung-kampung yang mengitari Gereja Katedral dengan tradisi Islam yang panjang. Tapi yang datang ke sini adalah umat lintas agama. Muslim dan non-muslim berbaur jadi satu. Semua dilayani dengan penuh kasih, melampaui sekat agama bahkan hirarki sosial. Orang-orang yang datang, bukan sebagai atasan dan bawahan atau umat yang tidak saling kenal, melainkan sebagai sesama yang berbagi moment kegembiraan di waktu Ramadan yang hanya datang sekali setahun.
Nuraini S. Wahid, Ketua Muslimat NU NTT, memberi kesaksikan. Inilah gambaran agama sebagai rahmat bagi semua yang sesungguhnya. “Kita tahu lokasi Gereja Katedral ini adalah ruang spiritual umat Katolik. Namun setiap datang Ramadan berubah menjadi pasar takjil. Maka di sini kita menjual sembari menjaga nirwana,” ujarnya.
Meskipun suatu kelaziman, Nuraini mengingatkan, ijin membuka pasar takjil di depan Gereja Katedral bukan hal yang boleh dianggap remeh dan biasa-biasa saja. “Tidak semua tempat di Indonesia mau membuka pintunya selebar ini. Inilah pesona ktong pung kota,” ujarnya sambal memberi saranghaeyo.
Pastor Paroki Katedral Kristus Raja Kupang, Romo Vinsenaius Tamelab, Pr., menegaskan hal yang sama. Sejak dulu halaman depan gereja ini dimanfaatkan warga untuk berjualan takjil selama Ramadan. Gereja sama sekali tidak melarang. Mereka juga tahu jam-jam ibadat umat Katolik di Gereja ini dan sangat menjaga suasana serta kebersihan agar tidak mengganggu umat yang sedang beribadat.
“Kita hidup berdampingan,” katanya “momentum ini justru menjadi kesempatan untuk saling memahami dan menghargai. Toleransi itu harus dirawat lewat komunikasi dan sikap saling menghormati.”
Fenomena ini sejalan dengan visi dan program Asta Cita Menteri Agama Nasaruddin Umar: Agama sebagai sumber kasih, rumah ibadat sebagai pusat kebudayaan dan harmoni sosial sebagai kekuatan bangsa. Halaman Katedral Kristus Raja Kupang menjadi potret keindahan terberi bahwa rumah ibadat seyogyanya menjadi ruang persaudaraan dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, tempat semua orang bisa datang dan pergi dengan rasa nyaman. Karena agama sejatinya adalah untuk kemanusiaan. Bukan sebuah konsep abstrak yang berada di langit plato dan mantap dalam keabadian.
***
Fenomena war takjil memang bukan sekadar tradisi kuliner ala Ramadanan. Seperti ditulis Neli Triana dalam kolomnya di harian Kompas (Kompas. id, 6/3), fenomena yang ditemui hampir di semua kota di Indonesia adalah cerminan dari perilaku beragama yang menghidupkan. Enegergi positifnya melampaui puasa Ramadan dan Lebaran.
Ia menjadi bagian dari infra struktur sosial yang membuat kota tetap hidup sebagai sebuah komunitas. Membangun modal sosial yang bekerja jauh setelah puasa Ramadan bahkan Lebaran berakhir. Karena menemukan kembali dimensi kolektifnya dari kehidupan yang tengah dijalani.
Dalam bahasa yang lebih spiritual, Menag Nasaruddin Umar menulis dengan gaya prosa liris yang indah dalam kolomnya di harian yang sama (Kompas.id, 8/3). “Ketika hati dan pikiran kita tidak lagi merasakan kesejukan sentuhan agama, karena dirasakan terlalu ritual-dogmatis, kaku dan tekstual. Ketika kenyamanan tak lagi bisa dirasa di hotel berbintang, ketika kelesatan tidak lagi bisa terasa di restoran mewah. Bahkan ketika hidup dan kehidupan terasa gersang, kering dan hambar, saat-saat seperti itu kita perlu menyiapkan waktu khusus atau melakukan wisata rohani mengevaluasi pandangan hidup kita.”
Hemat saya, war takjil adalah sebuah wisata rohani. Puasa menjadi momentum khusus yang disiapkan Tuhan untuk menghidupkan kembali semangat keberagamaan kita yang terkulai. Ia menjadi ruang spiritual baru di tengah kesumpekan hidup.
Di tengah ritme kota dan ekonomi yang kian meredup, war takjil menghadirkan ruang kompromi antara spiritualitas, pergaulan, dan ekonomi mikro. Pedagang kecil, hingga komunitas hobi menemukan momennya saat ngabuburit. Orangtua, anak-anak, remaja dan orang muda duduk berlomba merenda rindu. Saya pung bersepakat dengan si Megy: Rasanya tak sabar menunggu sore.
***
2026 Istimewa. Tahun ini memang istimewa. Umat Katolik dan Umat Islam, melaksanakan puasa bersamaan. Umat Katolik menyebutnya masa Prapaskah, Umat Islam menyebutnya bulan suci Ramadan. Sebelumnya kita bersama merayakan Imlek.
Imlek memang lebih dihayati sebagai perayaan budaya ketimbang perayaan keagamaan umat Konghucu. Namun sentimentalitas suasana dan paraphernalia pestanya yang sangat mudah dijual, menjadikan Imlek sebagai perayaan bersama yang juga dinanti-nantikan setiap tahunnya.
Imlek adalah perayaan penuh kemeriahan, sementara Prapaskah dan Ramadan menyiratkankan pengendalian diri dan hawa nafsu.
“Tidak perlu dipertentangkan” tegas Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, SVD., ketika saya menghubunginya. “Kita semua dapat menjalankannya secara beriringan, sekaligus menunjukkan kekuatan toleransi di negeri ini. Momentum seperti ini menjadi kesempatan indah agar kita saling memperkuat kerukunan, silaturahmi dan persaudaraan di antara kita.”
Lebih lanjut, mantan Superior General SVD ini, mengatakan suasana saling menghargai yang sudah selalu ada, terasa lebih intensif pada masa ini. Ia mencontohkan, hari Jumad ada rekoleksi, ada jalan salib di gereja yangg berhadapan dengan masjid di mana umat Islam sedang melaksanakan sholat. Tidak ada yang saling mengganggu. Masing-masing mendalami imamnya, serentak melihat kesaksian dan kesungguhan iman orang lain.
Drs. KH. Pua Monto Umbu Nay, Ketua PWNU NTT, mengatakan puasa 2026 yang berbarengan antara umat Islam dan Kristiani bahkan juga sebentar lagi umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian di hari Nyepi, sebagai bukti bahwa puasa itu ada pada semua umat beragama tentu dengan caranya masing-masing.
“Karena itu dalam beberapa moment cerama, saya selalu menegaskan kebenaran ayat 183 surat al Baqarah tentang perintah puasa : “Hai orang-orang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sblm kalian agar kalian bertaqwa,” katanya.
Ia menjelaskan, puasa adalah ibadah yang paling privasi, kerahasiaannya 100% hanya antara hamba dan Pencipta. Maka umat yang berpuasa lebih sibuk bermeditasi dan tirakat yang berdampak pada meningkatnya nilai-nilai kemanusiaan, agar bisa mengantarkannya mencapai target diperintahkannya berpuasa yakni taqwa.
Ketua PW Muhammadiyah NTT, H. Mukhsin Masri, menyatakan kegembiraannya atas peristiwa yang terjadi bersamaan ini. “Aalhamdulillah atas suasana yang begitu harmonis antar umat beragama saat puasa Prapaskah dan Ramadan. Suasana ini dapat kita lihat tatkala pelaksanaan ibadah di gereja dan juga di Masjid berjalan begitu aman,” ujarnya.
Menurutnya, kedua ibadah ini memiliki nilai spritual yang hampir sama yaitu pengendalian diri sebagai mana Alloh berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 183: wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
“Sebagai orang muslim kami menghormati saudara kami yang sedang menjalankan masa Prapaskah. Sebaliknya sama saudara kamu non muslim menghormati kami melaksanakan ibadah Ramadan. Menariknya kita selalu melaksanakan pembagian ta’jil berbuka puasa dan bazar Ramadan yang melibatkan semua agama. Sebagai pimpinan wilayah Muhammadiyah NTT kami terus menjaga dan memelihara agar toleransi yang begitu indah dan harmonis ini terus lestari.”
***
Di hamparan Gereja Katedral Kristus Raja saya terenyuh. Tuhan Mahakuasa, satu kehendak-Nya mampu menyatukan dunia, satu agama, satu jalan, satu suara. Namun dari dalam rumahNya, Ia memilih menebar banyak jalan, seperti pelangi yang memancarkan warna, agar manusia belajar menghargai perbedaan, saling berbagi, saling peduli dan saling menumbuhkan harapan dalam ziarah bersama menuju haribaanNya.
Maka betapapun besarnya retakan dalam jagat raya, tak akan mampu melawan cinta kasih. Betapapun perihnya luka di bumi, Allah sembuhkan dalam sehari. Karena Allah kita Yang Agung, Yang Mahakuasa, Yang Akbar, juga “Ar-Rahmān” dan “Ar-Rahīm”. Maka gelisah hati segenap makhluk sebelum memperoleh istirahnya dalam Tuhan.
Tiba-tiba suara Azan Magrib dan bunyi Lonceng Angelus Gereja bersama bergema di langit kota. Satu iman banyak kepercayaan, masing-masing tradisi iman berusaha mengungkapkan iman yang satu dan sama dengan cara yang berbeda. Gema suara itu terasa merdu. A thing of beauty is a joy for ever.
***
CEMARA menderai sampai jauh, terasa hari akan malam” tulis Chairil Anwar dalam sajak “Derai-Derai Cemara. Hari memang akan menjadi malam. Di langit terdapat beribu-ribu tanda yang tak sepenuhnya kita mengerti. Perlahan orang mulai beranjak pulang.
Apakah takjil dalam genggaman itu untaian rahmat atau sekadar kepingan nikmat? Saya tak berani meramal. “Di luar segala pikiran tentang apa yang salah dan benar, ada sebuah tempat,” kata Rumi, “aku akan menemuimu di sana”.
Mungkin penyair yang sufi ini tidak berbicara tentang agama. Ia memang bicara tentang suatu tempat di luar sana. Seseorang menulis ”Aku mencari jiwaku, tapi tak kutemukan jiwaku. Aku mencari Tuhan, tetapi Tuhan menghindar dariku. Tetapi ketika aku mencari sesamaku, aku malah menemukan ketiganya.”
Dalam dunia yang semakin banyak dilandasi problem, ketika perang di Timur Tengah yang terus menyisakan luka kemanusiaan, agama-agama yang banyak harus saling mempengaruhi demi menyatakan iman yang satu untuk pembaikan kehidupan bersama. Karena sejatinya agama itu, hadir untuk membebaskan, ditulis Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam kolomnya (Kompas.id 5/3).
“Misi suci setiap agama dimaksudkan untuk membebaskan dan menyelamatkan Amat mengherankan jika ada orang yang mengatasnamakan agama untuk menghalangi kemerdekaan dan kebebasan orang untuk berekspresi. Kemerdekaan dan kebebasan beragama di sini tentu saja tidak untuk mengacak-acak dan merenggut kebebasan dan kemerdekaan orang lain. Kemerdekaan dan ksebebasan agama bersifat komprehensif dan holistik, bukan lokal subyektif. Sungguh indah jika seluruh umat beragama memahami secara komprehensif ajaran luhur agamanya.”
Dari Ndona, Flores, Uskup Agung Ende, Mgr.Paul Budi Kleden, SVD., mengingatkan, agar agama-agama berani keluar dari dirinya dan menjumpai yang lain sebagai yang lain dalam rangkuman kasih persaudaraan. Karena itulah yang dibutuhkan dan menjadi kemendesakkan dunia saat ini.
“Ancaman yang paling melumpuhkan kehidupan beragama adalah ketika ia kehilangan perspektif missioner untuk keluar dari dirinya, dari kesibukan mengurus diri sendiri, atau membiarkan diri menjadi tawanan ketersinggungan atau rasa sakit hati yang berkepanjangan. Menghidupi dan mewartakan kasih persaudaraan adalah perutusan agama-agama di tengah dunia.”
Dunia membutuhkan suara dari agama-agama yang mengingatkan akan pentingnya tali persaudaraan yang menghubungkan kita dan membutuhkan contoh kongkrit yang melihat perbedaan tidak sebagai perintang, melainkan kekayaan yang membawa kita kepada pemahaman, dan pengalaman yang lebih luas tentang Tuhan.
Di jantung Kota Kupang, Gereja Katedral Kristus Raja, Masjid Raya dan Gereja Kota Kupang terus berdiri kokoh sepanjang masa, bukan karena ketiganya bertetangga baik. Tetapi karena mereka telah menjadi saudara, yang saling bertanggungjawab atas yang lain sebagai saudara. War Takjil di halaman Gereja Katedral Kupang setiap bulan Ramadan adalah bentuk nyata umat beragama di Kota Kupang menghidupi visi persaudaraan ini.
Inilah mutiara terindah Prapaska dan Ramadan dari halaman Gereja Katedral Kristus Raja Kota Kupang untuk dunia. Karena katong semua basodara…..
“Kasih adalah bentuk terakhir dari realitas, dan hanya di dalam kasih segala sesuatu menemukan maknanya. (San)





