FACEINDONESIA.CO.ID- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat 2.553.523 aktivitas naik dan turun pelanggan di Stasiun Sukabumi, Kebumen, dan Banyuwangi Kota selama Januari–September 2026. Angka tersebut meningkat 6,61 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yakni sebanyak 2.395.115 aktivitas.
Ketiga stasiun tersebut menjadi akses perjalanan menuju daerah yang memiliki kekayaan alam dan budaya, termasuk kawasan UNESCO Global Geopark. Ketiganya meliputi Ciletuh–Palabuhanratu di Sukabumi, Kebumen UNESCO Global Geopark di Jawa Tengah, serta Ijen UNESCO Global Geopark di wilayah Banyuwangi dan Bondowoso.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, kereta api memberikan pilihan transportasi bagi masyarakat untuk menjelajahi beragam destinasi wisata di Indonesia, mulai dari kawasan pegunungan, pantai, hingga wilayah dengan kekayaan geologi dan tradisi lokal.
“Indonesia memiliki banyak kawasan dengan cerita alam yang luar biasa. Perjalanan menuju Sukabumi, Kebumen, atau Banyuwangi dapat menjadi awal untuk mengenal bentang pegunungan, pantai, bebatuan purba, kawasan vulkanik, hingga budaya masyarakat yang tumbuh bersama lingkungan tersebut,” ujar Anne.
Dari ketiga stasiun tersebut, Stasiun Sukabumi mencatat aktivitas pelanggan tertinggi. Sepanjang Januari–September 2026, stasiun ini melayani 1.209.381 aktivitas pelanggan, terdiri atas 613.678 pelanggan naik dan 595.703 pelanggan turun. Jumlah tersebut meningkat 6,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 1.139.780 aktivitas.
Sukabumi merupakan salah satu pintu akses menuju Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark, yang masuk dalam jaringan UNESCO Global Geoparks sejak 2018. Kawasan ini memiliki bentang alam beragam, mulai dari pantai, perbukitan, air terjun, hingga formasi batuan yang menyimpan jejak sejarah geologi. Kehidupan masyarakat pesisir selatan Jawa Barat juga menjadi bagian dari daya tarik kawasan tersebut.
Sementara itu, Stasiun Kebumen mencatat 558.571 aktivitas pelanggan selama sembilan bulan pertama 2026, terdiri atas 282.220 pelanggan naik dan 276.351 pelanggan turun. Angka ini meningkat 9,10 persen dibandingkan periode Januari–September 2025 yang mencapai 511.993 aktivitas. Persentase tersebut menjadi kenaikan tertinggi di antara ketiga stasiun.
Kebumen memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2025. Salah satu kawasan pentingnya adalah Karangsambung, yang menyimpan rekaman geologi berupa batuan dasar laut dan tepian benua purba. Selain itu, Kebumen memiliki gua, sungai bawah tanah, serta kawasan pesisir selatan yang berpadu dengan aktivitas dan budaya masyarakat setempat.
Adapun Stasiun Banyuwangi Kota membukukan 785.571 aktivitas pelanggan pada Januari–September 2026. Jumlah tersebut terdiri atas 386.626 pelanggan naik dan 398.945 pelanggan turun, atau meningkat 5,68 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 743.342 aktivitas.
Banyuwangi menjadi salah satu wilayah Ijen UNESCO Global Geopark bersama Kabupaten Bondowoso. Kawasan ini masuk dalam jaringan UNESCO Global Geoparks pada 2023 dan dikenal dengan lanskap vulkanik Gunung Ijen, kawah, pegunungan, serta kawasan perkebunan. Kekayaan alam tersebut berpadu dengan tradisi dan budaya masyarakat Banyuwangi yang menjadi daya tarik wisata.
Peningkatan aktivitas pelanggan di ketiga stasiun tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan perjalanan wisata nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 104,30 juta perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2026, meningkat 11,47 persen dibandingkan Agustus 2025. Pada bulan yang sama, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 1,60 juta, naik 6,27 persen secara tahunan.
Anne menjelaskan, aktivitas naik dan turun di stasiun mencakup berbagai kebutuhan perjalanan pelanggan sehingga tidak dapat disamakan dengan jumlah pengunjung geopark. Meski demikian, data tersebut memberikan gambaran mengenai mobilitas masyarakat menuju daerah yang memiliki potensi wisata alam, budaya, kuliner, dan pendidikan.
“Menikmati Indonesia dapat dimulai sejak perjalanan menuju daerah tujuan. Sukabumi, Kebumen, dan Banyuwangi memiliki karakter yang sangat berbeda, tetapi ketiganya mengajak kita melihat bagaimana alam, sejarah bumi, budaya, dan kehidupan masyarakat bertemu dalam satu perjalanan,” tutup Anne.
Melalui konektivitas kereta api, KAI turut memberikan alternatif perjalanan bagi masyarakat yang ingin menjelajahi berbagai daerah di Indonesia. Keberadaan akses transportasi tersebut diharapkan dapat mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperluas pilihan perjalanan menuju destinasi wisata berbasis alam dan budaya.(ZID)






