FACEINDONESIA.CO.ID- PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Danau Toba memperketat pengawasan operasional dan mengoptimalkan perangkat navigasi kapal menyusul kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengurangi jarak pandang di perairan Danau Toba, Sumatera Utara.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan keselamatan penumpang dan awak kapal tetap terjaga di tengah kondisi cuaca yang berpotensi mengganggu aktivitas penyeberangan.
Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan pada 15 Oktober 2026, jarak pandang di kawasan Danau Toba berkisar 1–3 kilometer. Bahkan, di sejumlah titik, jarak pandang dilaporkan kurang dari 1 kilometer akibat sebaran kabut asap karhutla.
Merespons kondisi tersebut, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Penyeberangan (KSOPP) Danau Toba menerbitkan Surat Edaran Nomor AP.403/1/4/KSOPP.DT/2026 tentang Imbauan Keselamatan Pelayaran pada 15 Oktober 2026.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala KSOPP Danau Toba, Torra Hasugian, meminta seluruh nakhoda dan operator kapal meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan cuaca sebelum dan selama pelayaran, serta menjaga komunikasi dengan KSOPP Danau Toba dan Vessel Traffic Service (VTS) Ajibata.
Nakhoda juga diminta menyampaikan informasi mengenai potensi bahaya kepada kapal lain. Selain itu, kesiapan alat keselamatan, kepatuhan terhadap kapasitas penumpang dan muatan, serta kelengkapan alat pemadam kebakaran harus dipastikan sesuai ketentuan.
Jika kondisi cuaca memburuk, operator dan nakhoda diwajibkan berkoordinasi dengan syahbandar dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Syahbandar juga dapat menunda keberangkatan apabila kondisi pelayaran dinilai tidak aman.
ASDP Optimalkan Perangkat Navigasi Kapal
General Manager ASDP Cabang Danau Toba, Ellenor Piri, menginstruksikan nakhoda KMP Ihan Batak, KMP Pora-pora, dan KMP Kaldera Toba untuk meningkatkan kewaspadaan serta mengoptimalkan penggunaan perangkat navigasi.
Perangkat yang digunakan meliputi radar, Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), GPS plotter, dan teropong. Seluruh peralatan tersebut dioptimalkan sesuai fungsi serta kondisi operasional masing-masing kapal.
“Dalam kondisi jarak pandang terbatas, kewaspadaan harus ditingkatkan. Kami meminta nakhoda dan awak kapal mengoptimalkan perangkat navigasi, memperkuat pengawasan di anjungan, serta menjaga koordinasi dengan tim darat dan otoritas pelayaran. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional,” ujar Ellen dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Nakhoda KMP Ihan Batak, Harto Samosir, mengatakan keterbatasan jarak pandang mengharuskan seluruh awak kapal lebih fokus dalam mengamati kondisi perairan dan lingkungan sekitar.
Menurutnya, penggunaan perangkat navigasi harus disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi operasional kapal, disertai pengamatan yang lebih cermat selama perjalanan.
“Jarak pandang memang terbatas, sehingga kami harus lebih waspada dan fokus. Perangkat navigasi digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi operasional kapal, disertai pengamatan yang lebih cermat selama pelayaran,” kata Harto.
Ellenor menegaskan, ASDP terus memantau perkembangan kabut asap dan berkoordinasi dengan KSOPP Danau Toba serta berbagai pihak terkait. Penyesuaian operasional, termasuk penundaan keberangkatan, akan dilakukan apabila diperlukan berdasarkan kondisi aktual dan ketentuan keselamatan yang berlaku.
Pengguna Jasa Diminta Pantau Jadwal Penyeberangan
ASDP memahami pentingnya layanan penyeberangan Danau Toba bagi mobilitas masyarakat dan wisatawan, khususnya yang menuju Pulau Samosir. Namun, kelancaran perjalanan harus tetap mengutamakan keselamatan penumpang dan awak kapal.
Perusahaan mengimbau pengguna jasa untuk memantau informasi operasional dan jadwal keberangkatan melalui kanal resmi ASDP, mengikuti arahan petugas, serta mematuhi ketentuan keselamatan selama berada di pelabuhan maupun di atas kapal.
Masyarakat juga diminta memahami bahwa perubahan cuaca dan keterbatasan jarak pandang dapat memengaruhi jadwal penyeberangan. Jika terjadi penundaan berdasarkan pertimbangan keselamatan, pengguna jasa diharapkan mengikuti keputusan petugas dan tidak memaksakan perjalanan.
“Dukungan dan kerja sama pengguna jasa sangat dibutuhkan agar operasional penyeberangan tetap berjalan dengan mengedepankan keselamatan. Mari bersama-sama mematuhi arahan petugas dan mengutamakan keselamatan agar perjalanan di Danau Toba tetap aman dan tertib,” pungkas Ellen.
Melalui peningkatan pengawasan, optimalisasi perangkat navigasi, kesiapan peralatan keselamatan, dan koordinasi dengan otoritas pelayaran, ASDP berkomitmen menjaga keamanan serta keandalan layanan penyeberangan di Danau Toba.
Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dan wisatawan sekaligus menjaga konektivitas menuju Pulau Samosir di tengah kondisi kabut asap yang membatasi jarak pandang pelayaran.(ZID)






