Jasaraharja Putera Perkuat Mitigasi Risiko Desa Adat Sade

FACEINDONESIA.CO.ID- PT Jasaraharja Putera mendorong penguatan pengelolaan risiko dalam proses pemulihan Desa Adat Sade, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang terdampak kebakaran pada 22 Agustus 2026.

Komitmen tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan pascakebakaran di Politeknik Pariwisata Lombok, Jumat (28/8/2026). Rapat dipimpin Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta mitra strategis.

Bacaan Lainnya

Sebelum rapat, para pemangku kepentingan meninjau langsung kondisi Desa Adat Sade untuk melihat dampak kebakaran sekaligus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat terdampak. Hasil peninjauan menjadi bahan pembahasan dalam menentukan langkah pemulihan kawasan.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, pemulihan Desa Adat Sade membutuhkan langkah terencana dalam jangka menengah dan panjang.

“Pemulihan Desa Adat Sade perlu dilakukan secara terarah dan berkelanjutan agar masyarakat dapat kembali aktif bekerja dan anak-anak kembali sekolah,” ujar Widiyanti.

Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan tim kerja untuk mendata masyarakat yang terdampak kebakaran serta mengoordinasikan berbagai dukungan yang diperlukan, termasuk penampungan donasi.

Widiyanti juga menekankan pentingnya keterlibatan sektor swasta dan berbagai pemangku kepentingan dalam proses pemulihan. Pembangunan kembali rumah adat, kata dia, harus memperhatikan teknologi dan aspek keselamatan agar Desa Adat Sade menjadi kawasan yang lebih tangguh menghadapi bencana.

Dalam rapat tersebut, PT Jasaraharja Putera menyampaikan pandangan terkait pengelolaan risiko dan perlindungan. Upaya ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung destinasi wisata yang aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Direktur Utama PT Jasaraharja Putera Abdul Haris menyampaikan keprihatinan atas kebakaran yang menimpa Desa Adat Sade dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Kami memandang pengelolaan risiko sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya membangun destinasi pariwisata yang aman dan berkelanjutan,” ujar Abdul Haris.

Ia menjelaskan, pengelolaan risiko perlu menjadi bagian dari proses pemulihan kawasan. Evaluasi potensi risiko serta penguatan langkah mitigasi penting dilakukan agar masyarakat dan wisatawan memperoleh perlindungan yang lebih baik.

PT Jasaraharja Putera juga berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan pemahaman serta pengelolaan risiko.

“Kami berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam penguatan pemahaman dan pengelolaan risiko, sehingga pelindungan bagi masyarakat maupun wisatawan dapat semakin optimal. Hal ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk terus Melayani Sepenuh Hati,” katanya.

Rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama lintas sektor dalam memulihkan Desa Adat Sade. Pemulihan tidak hanya dilakukan melalui pembangunan kembali rumah dan fasilitas yang terdampak, tetapi juga perlu disertai evaluasi sistem keselamatan dan penguatan mitigasi risiko.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah kejadian serupa sekaligus memastikan Desa Adat Sade kembali menjadi kawasan wisata yang aman dan berkelanjutan.

Dengan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, pemulihan Desa Adat Sade diharapkan mampu mengembalikan aktivitas masyarakat sekaligus membangun kawasan yang lebih siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *