FACEINDONESIA.CO.ID – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Rabu (31/12/2025), dipengaruhi dinamika kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed), data ekonomi China, serta perkembangan geopolitik global. Kondisi eksternal tersebut turut memengaruhi pergerakan mata uang di negara berkembang, termasuk rupiah.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan dolar AS dipicu oleh rilis risalah rapat kebijakan The Fed bulan Desember yang menunjukkan perbedaan pandangan tajam di antara para pembuat kebijakan terkait arah suku bunga pada 2026.
“Meski The Fed telah menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sebagian pejabat mulai bersikap lebih hati-hati untuk melanjutkan pelonggaran. Mereka khawatir tekanan inflasi masih tinggi dan prospek ekonomi ke depan penuh ketidakpastian,” ujar Ibrahim.
Di sisi lain, beberapa pejabat The Fed menilai kebijakan moneter yang terlalu ketat berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi secara signifikan jika dipertahankan terlalu lama.
Dari Asia, sentimen pasar mendapat dorongan moderat setelah data aktivitas manufaktur China kembali menunjukkan ekspansi. Indeks Manajer Pembelian (PMI) resmi China tercatat berada di atas level 50 pada Desember, menandakan peningkatan permintaan domestik menjelang akhir tahun.
“Data ini dipandang sebagai sinyal positif yang hati-hati bagi ekonomi terbesar kedua dunia setelah beberapa bulan mengalami perlambatan,” jelasnya.
Sementara itu, faktor geopolitik masih menjadi sumber volatilitas pasar global. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia di tengah konflik Ukraina, eskalasi konflik Israel–Hamas, serta ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Ketidakpastian juga meningkat akibat tensi antara Washington dan Caracas yang berdampak pada ekspor minyak Venezuela. Selain itu, keputusan Uni Emirat Arab menarik pasukan dari Yaman turut menambah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Tantangan dan Prospek Ekonomi Domestik
Dari dalam negeri, Ibrahim memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5 persen, angka yang dinilai masih wajar di tengah tantangan global. Namun, ia menekankan bahwa pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan.
“Investasi harus terus ditingkatkan untuk membuka lapangan kerja baru dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan ekonomi ke depan masih cukup berat seiring ketidakpastian geopolitik global, fragmentasi perdagangan internasional, serta pemulihan ekonomi domestik yang belum sepenuhnya optimal. Tekanan harga komoditas pangan dan energi, serta daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, menjadi faktor pembatas pertumbuhan.
Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor—mulai dari barang modal hingga bahan pangan—menyebabkan aliran devisa ke luar negeri masih tinggi, sehingga membuat fundamental ekonomi relatif lebih rentan dibandingkan negara lain di Asia Tenggara.
“Penguatan fundamental ekonomi domestik perlu dilakukan dengan memperbesar peran belanja pemerintah agar memberi efek berganda bagi perekonomian rakyat, serta mendorong ekspor berbasis nilai tambah,” tegas Ibrahim.
Pergerakan Rupiah
Pada penutupan perdagangan akhir tahun, rupiah tercatat menguat 91 poin ke level Rp16.680 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 95 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.771 per dolar AS.
Namun, pada perdagangan Jumat, 2 Januari 2026, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di kisaran Rp16.680–Rp16.710 per dolar AS. (Zid)





