FACEINDOESIA.CO.ID – Bertepatan dengan dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027 dan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah, Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) di Satuan Pendidikan resmi diluncurkan sebagai upaya memperkuat perlindungan anak melalui lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan.
Peluncuran Gernas RANA menjadi momentum untuk mengonsolidasikan upaya perlindungan anak secara lebih terpadu dan berkelanjutan melalui kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
Gerakan ini menegaskan komitmen bersama untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh hak belajar di lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya secara utuh, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun digital.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa menciptakan ruang aman dan nyaman bagi anak sangat penting bagi masa depan bangsa. Menurutnya, dampak kekerasan terhadap anak dapat memengaruhi perkembangan mereka dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan, ruang aman dan nyaman bagi anak harus diwujudkan di empat lingkungan utama, yakni keluarga sebagai tempat pertama anak memperoleh kasih sayang, satuan pendidikan, ruang publik, serta ruang digital yang kini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan anak.
“Kalian semua berhak berada di lingkungan yang aman dan nyaman. Kalau melihat atau mengalami kekerasan, jangan ragu melapor kepada guru maupun orang tua. Kita harus bersama-sama menjaga agar sekolah menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar,” pesan Menko Pratikno kepada para murid.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa semangat Gernas RANA sejalan dengan komitmen Kemendikdasmen dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026. Implementasi ini juga telah dimulai sejak hari pertama peserta didik memasuki sekolah melalui pelaksanaan MPLS Ramah.
“Melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak, kami tidak hanya ingin menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga, masyarakat, dan ruang digital,” ujar Mendikdasmen.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menekankan bahwa perlindungan anak tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat agar anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangan mereka.
“Bunda berharap mulai saat ini kita saling menjaga teman, saling menghormati, dan tidak ada lagi bullying di mana pun anak-anakku berada. Mari kita jaga bersama-sama,” tutur Menteri Arifah.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal, Gogot Suharwoto, menjelaskan bahwa momentum peluncuran Gernas RANA sekaligus menjadi penguatan implementasi berbagai kebijakan Kemendikdasmen yang berpihak pada kepentingan terbaik anak.
Kemendikdasmen telah mengintegrasikan semangat Gernas RANA melalui sejumlah kebijakan, antara lain MPLS Ramah, Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, serta Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Ketiga kebijakan tersebut menjadi fondasi dalam mewujudkan satuan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.
Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak Dirasakan di Berbagai Daerah
Semangat menciptakan ruang aman dan nyaman juga dirasakan langsung oleh peserta didik di berbagai daerah. Putri, siswi SMA Negeri 4 Pekanbaru, mengaku merasakan suasana yang hangat sejak mengikuti MPLS di sekolah barunya.
“Kami tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan sekolah, tetapi juga mendapat banyak edukasi yang sudah disiapkan sekolah. Saya berharap semua murid baru bisa memperoleh pembelajaran yang bermanfaat selama MPLS,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Kepala TK IT Ar Rajwaa Samarinda, Nuridah. Menurutnya, menciptakan ruang aman dan nyaman dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menyambut setiap anak dengan senyum, salam, dan sapa agar mereka merasa diterima sejak hari pertama.
Sekolah juga memastikan lingkungan belajar tetap bersih, aman, serta menyediakan sarana bermain yang sesuai dengan usia anak sehingga mereka dapat belajar dan berkembang dengan nyaman.(ZID)





