FTBI 2026, Siswa Jawa Tengah Angkat Isu Perundungan Lewat Bahasa Jawa

FACEINDONESIA.CO.ID- Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 menjadi wadah bagi para siswa untuk menunjukkan kreativitas dalam menggunakan bahasa Jawa. Melalui berbagai karya, mulai dari komedi tunggal, cerita pendek, hingga pidato, para peserta menyampaikan pesan moral sekaligus mengajak generasi muda melestarikan bahasa daerah.

Festival yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, ini menghadirkan karya-karya menarik dari para siswa. Tiga di antaranya adalah Ricky Wahyu Ramadan, Jaya Krishna, dan Nafisha Aurelia Putri Aldrin yang memanfaatkan bahasa Jawa untuk menyampaikan gagasan dan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ricky Wahyu Ramadan, siswa SMP peserta kategori komedi tunggal atau ndhagel ijen dari Kota Magelang, mengangkat cerita tentang daerah asalnya, Kaliangkrik, yang berada di kawasan Gunung Sumbing. Ia juga memperkenalkan sayuran yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan wit onclang.

Materi komedi tersebut ditulis sendiri dengan pendampingan pelatih. Ricky mengaku perlu berlatih mengatur intonasi dan membangun kejutan agar cerita yang disampaikan mampu mengundang tawa penonton.

Menurutnya, materi yang menarik harus disertai cara penyampaian yang tepat. Ia berharap keikutsertaannya dalam FTBI 2026 dapat membawa nama baik sekolah sekaligus menambah prestasi untuk bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

Sementara itu, Jaya Krishna, siswa SMP Negeri 4 Magelang, memilih kategori menulis cerita pendek berbahasa Jawa atau cerkak. Ia mengangkat cerita berjudul Wewadi yang berkisah tentang misteri uang temuan yang tidak diketahui pemiliknya.

Melalui cerita tersebut, Jaya ingin menyampaikan pesan agar seseorang tidak mengambil uang yang bukan haknya. Karya itu dikembangkan dari kata pemantik yang diberikan panitia hingga menjadi cerita sepanjang tiga halaman. Ia sebelumnya juga berhasil meraih juara pertama pada festival tingkat kabupaten.

Jaya mengungkapkan bahwa membangun konflik menjadi salah satu tantangan dalam menulis cerita. Selain menyusun alur, ia harus cermat memilih kosakata bahasa Jawa agar sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Kebiasaannya menulis telah tumbuh sejak sekolah dasar. Ia biasanya menentukan judul terlebih dahulu, menyusun alur, kemudian mengembangkan cerita secara utuh. Melalui karyanya, Jaya ingin menunjukkan bahwa bahasa Jawa tidak kuno ataupun membosankan, tetapi tetap bisa digunakan untuk menyampaikan cerita yang menarik dan sarat pesan.

Berbeda dengan Ricky dan Jaya, Nafisha Aurelia Putri Aldrin, siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Magelang, memilih kategori pidato atau sesorah. Ia mengangkat isu perundungan yang dekat dengan kehidupan remaja.

Dalam pidatonya, Nafisha menjelaskan pengertian perundungan sekaligus mengajak pendengar berperan aktif dalam mencegahnya. Ia juga memasukkan tembang macapat sebagai bagian dari materi pidato untuk memperkaya penyampaian pesan.

Nafisha mengaku bangga dapat menggunakan bahasa Jawa untuk menyuarakan persoalan sosial. Kebiasaan berbahasa daerah juga didukung lingkungan sekolahnya yang menetapkan hari Selasa untuk berbahasa Inggris dan hari Kamis untuk berbahasa Jawa.

Menurutnya, bahasa daerah tetap relevan untuk menyampaikan pesan selama digunakan dengan cara yang dapat dipahami oleh pendengarnya.

Peran Guru dalam Melestarikan Bahasa Daerah

Di balik penampilan para peserta, terdapat peran guru yang mendampingi proses latihan. Mukhtarus Shihah, guru Bimbingan Konseling sekaligus pendamping dari SMP Negeri 1 Jepara, mengatakan bahwa persiapan lomba membutuhkan pengaturan waktu agar tidak mengganggu kegiatan belajar di kelas.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah membimbing siswa dalam menulis dan membaca aksara Jawa. Kemampuan tersebut membutuhkan ketekunan, latihan berkelanjutan, serta pendampingan dari guru yang menguasai bahasa daerah.

Mukhtarus mencontohkan pengalaman seorang siswa bernama Umar yang awalnya dikenal pendiam dan belum menunjukkan potensi menonjol dalam pembelajaran. Setelah mendapatkan pendampingan, Umar berhasil meraih juara pertama tingkat provinsi pada festival sebelumnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa dapat berkembang ketika mereka memperoleh kesempatan dan bimbingan yang sesuai.

Ia pun menekankan pentingnya menjaga keberadaan bahasa ibu di tengah perkembangan zaman dan semakin beragamnya bahasa yang digunakan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

FTBI 2026 Diikuti 560 Peserta dari 35 Kabupaten/Kota

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, turut mengapresiasi kreativitas para siswa dalam Festival Tunas Bahasa Ibu 2026. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah merupakan bagian penting dari upaya menjaga kebudayaan dan identitas bangsa.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati, menyampaikan apresiasi kepada Universitas Ngudi Waluyo dan Pemerintah Kabupaten Semarang atas dukungan serta kolaborasi dalam penyelenggaraan festival tersebut.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap komitmen pelestarian bahasa Jawa, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah juga memberikan piagam penghargaan kepada 35 pemerintah kabupaten/kota.

Laily menjelaskan, upaya pelestarian bahasa daerah dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, satuan pendidikan, dan komunitas. Inovasi juga dikembangkan melalui layanan digital, antara lain kamus digital Senarai Istilah Budaya Jawa (Sibaja) dan aplikasi Sistem Adaptif Belajar Bahasa Daerah (SABDA).

Ia menilai para peserta FTBI merupakan generasi penerus yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa Jawa. Kebanggaan mereka dalam menggunakan bahasa ibu perlu terus didukung melalui berbagai kegiatan pendidikan dan kebudayaan.

FTBI Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 diikuti 560 peserta dari 35 kabupaten/kota. Jumlah tersebut terdiri atas 490 murid SD dan SMP serta 70 pendamping. Para murid merupakan peraih juara pertama festival tingkat kabupaten/kota yang melanjutkan kompetisi ke tingkat provinsi.

Diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, festival ini mempertandingkan tujuh kategori, yakni menulis dan membaca aksara Jawa, mendongeng, berpidato atau sesorah, menulis cerkak, membaca geguritan, nembang macapat, serta komedi tunggal atau ndhagel ijen.

Penyelenggaraan FTBI menjadi bagian dari rangkaian program pelindungan bahasa daerah yang diawali dengan koordinasi bersama pemerintah daerah, penyusunan bahan ajar, pelatihan guru, pengimbasan pembelajaran, hingga pelaksanaan festival secara berjenjang.

Melalui FTBI 2026, bahasa Jawa tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana berekspresi, berkarya, dan menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat. Kreativitas para siswa menjadi salah satu upaya untuk menjaga agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *