FACEINDONESIA.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, sesuai proyeksi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut angka ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan kontribusi 2,94 persen.
Peningkatan konsumsi didorong mobilitas masyarakat saat libur nasional dan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri. Selain itu, kebijakan pemerintah seperti diskon transportasi, pencairan THR, serta suku bunga 4,75 persen turut menjaga daya beli.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih juga berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi, khususnya di sektor konstruksi dan pertanian.
Sektor konstruksi tumbuh 5,49 persen secara tahunan, didorong pembangunan fasilitas layanan gizi dan koperasi desa. Hingga Mei 2026, tercatat lebih dari 27 ribu unit layanan gizi telah beroperasi.
Sementara itu, sektor pertanian tumbuh 4,97 persen dengan kontribusi 12,57 persen terhadap PDB, didukung peningkatan produksi dan permintaan domestik, termasuk subsektor peternakan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut capaian ini termasuk yang tertinggi di antara negara G20. Ia menegaskan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi pendorong utama.
Belanja pemerintah pada kuartal I-2026 tumbuh 21,81 persen atau sekitar Rp815 triliun, termasuk pencairan THR ASN sebesar Rp51,65 triliun.
Dari sisi makro, inflasi April tercatat 2,42 persen, indeks keyakinan konsumen di level 122,9, serta neraca dagang surplus 3,32 miliar dolar AS selama 71 bulan berturut-turut.
Di sektor keuangan, dana pihak ketiga tumbuh 13,55 persen dan kredit perbankan naik 9,49 persen secara tahunan.
Kondisi sosial juga membaik. Penyerapan tenaga kerja bertambah 1,89 juta orang menjadi 147,67 juta orang. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,68 persen, sementara angka kemiskinan berada di 8,25 persen dengan rasio gini 0,363.
Purbaya menilai capaian ini menunjukkan akselerasi ekonomi nasional. Ia optimistis pertumbuhan bisa melampaui 5,5 persen, sekaligus membantah proyeksi lembaga global yang lebih rendah.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai tantangan global yang berpotensi memengaruhi ekspor dan stabilitas ekonomi domestik.
Di sisi lain, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyebut kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 32 persen atau setara 1,8 persen poin.
Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai pertumbuhan awal tahun juga dipengaruhi percepatan belanja pemerintah. Namun, dampaknya dinilai belum merata, terutama bagi kelompok menengah bawah. (San)





