FACEINDONESIA.CO.ID – Para musyrif dan musyrifah (pembimbing asrama) pada Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) menjalani proses pendidikan dan pelatihan di Pusat Pengembangan Kompetensi (Kapusbangkom) SDM Pendidikan dan Keagamaan.
Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi (Kapusbangkom) SDM Pendidikan dan Keagamaan, Mastuki, memberi pesan khusus kepada para musyrif dan musyrifah (pembimbing asrama) pada Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) dan Madrasah Aliyah Kejuruan Negeri (MAKN). Mastuki mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan di asrama bukan ditentukan oleh ketatnya aturan, melainkan oleh kekuatan “Kurikulum Berbasis Cinta” (KBC).
Pesan ini disampaikan Mastuki saat menutup Pelatihan Kepala Asrama MAN IC & MAKN. Di hadapan para musyrif dan musyrifah (pembimbing asrama), Mastuki menyampaikan bahwa peran pengasuh asrama jauh melampaui sekadar penegak disiplin. Mereka adalah “penjaga air mata” dan “guru spiritual” bagi para santri di saat dunia mulai sepi.
“Asrama adalah ruang paling jujur. Di sana anak-anak tidak sedang berperan, tetapi sedang menjadi manusia seutuhnya—ada yang rindu rumah, ada yang menyembunyikan luka, dan ada yang pura-pura kuat. Di situlah KBC menemukan tanah paling subur untuk ditanam. KBC adalah kekuatan pendidikan asrama,” ujar Mastuki di Ciputat, Rabu (4/3/2026).
Mastuki mengajak para peserta untuk meninggalkan pola pengasuhan konvensional yang melukai jiwa. Ia memperkenalkan transformasi dari 5M Lama (Memerintah, Membandingkan, Marah-marah, Melarang, Menyalahkan) menuju 5M Baru yang lebih memuliakan, yaitu: Mengajak, Mengelola emosi, Memahami, Memberi pilihan, dan Menguatkan potensi.
“Kita tidak sedang menghasilkan anak yang takut. Kita sedang mendidik anak yang sadar. Disiplin positif bukan tentang hukuman, melainkan pemulihan. Santri boleh salah, tapi tidak boleh dipatahkan jiwanya,” tambahnya.
Mastuki juga menekankan pentingnya pendekatan ARKA (Aktivitas, Refleksi, Konseptualisasi, dan Aplikasi) agar nilai-nilai agama dan adab tidak sekadar menjadi teori, tetapi dirasakan langsung melalui pengalaman hidup—seperti memaknai napas dan rasa syukur saat makan.
Dalam pelatihan ini, para pembimbing asrama juga dibekali dengan teknik coaching melalui metode GROW (Goal, Reality, Option, Will) dan keterampilan storytelling untuk menyentuh hati santri tanpa perlu ceramah panjang yang membosankan.
“Pekerjaan Anda mungkin tidak tampak di panggung besar, tapi setiap kali Anda menguatkan anak yang kesepian dan menjaga martabat mereka, Anda sedang menyelamatkan masa depan satu generasi. Biarlah kelak santri mengenang asrama bukan karena bentakannya, tapi karena ada musyrif/ah yang percaya pada mereka saat mereka jatuh,” pungkasnya. (San)





