Daya Beli Tertekan, Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut 45 Persen

FACEINDONESIA.CO.ID- Fenomena makan tabungan atau mantab semakin menjadi sorotan di tengah tekanan daya beli masyarakat. Rata-rata saldo rekening dengan simpanan di bawah Rp100 juta tercatat menyusut sekitar 45 persen dalam delapan tahun terakhir. Kondisi ini menjadi sinyal perlunya langkah konkret untuk memperkuat daya beli dan menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga.

Ekonom Bank CIMB Niaga, Martumpal Mika, menjelaskan ketidakpastian ekonomi mendorong sebagian masyarakat menggunakan dana cadangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pandemi Covid-19 dan besarnya porsi pekerja informal dinilai turut memengaruhi kemampuan masyarakat dalam mempertahankan daya beli.

Bacaan Lainnya

Tekanan tersebut tercermin dari perlambatan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada rekening bersaldo di bawah Rp100 juta. Pertumbuhannya yang berada di kisaran 8–10 persen pada 2019, menurun menjadi sekitar 2–4 persen pada 2026.

Head of Investment & Insurance DANA Group, Ivan Kusuma, menilai berkurangnya tabungan tidak semata-mata disebabkan oleh pengeluaran berlebihan. Salah satu persoalannya adalah bercampurnya dana kebutuhan harian, dana darurat, dan tabungan untuk tujuan keuangan jangka panjang dalam satu rekening.

Akibatnya, masyarakat kerap menganggap seluruh uang yang tersedia dapat digunakan untuk belanja. Ketika kebutuhan meningkat, tabungan pun menjadi sumber dana pertama yang dikorbankan.

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2026, porsi pendapatan masyarakat untuk konsumsi meningkat dari 72,7 persen menjadi 74,2 persen dalam satu bulan. Sebaliknya, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan turun dari 16,8 persen menjadi 15,8 persen.

Sementara itu, porsi pendapatan untuk membayar cicilan atau utang menurun tipis dari 10,5 persen menjadi 10 persen.

Dengan komposisi tersebut, dari setiap Rp1 juta pendapatan, rata-rata Rp742 ribu digunakan untuk konsumsi, Rp100 ribu untuk membayar cicilan, dan Rp158 ribu disisihkan sebagai tabungan.

Menurut Ivan, meningkatnya kebutuhan belanja sehari-hari menjadi salah satu faktor yang menggerus kemampuan masyarakat untuk menabung. Tekanan terhadap keuangan rumah tangga juga terlihat dari pertumbuhan kredit konsumen yang pada 2026 berkisar 5 persen, lebih rendah dibandingkan kredit industrial yang tumbuh sekitar 15–20 persen.

Data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) yang dikutip Ivan menunjukkan rata-rata saldo rekening dengan simpanan di bawah Rp100 juta terus menipis. Saldo rata-rata yang mencapai Rp3,1 juta pada 2018 turun menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026. Penurunan tersebut setara sekitar 45 persen dalam kurun waktu delapan tahun.

Untuk mengatasi kondisi ini, Ivan menilai pemerintah perlu mendorong penciptaan lebih banyak lapangan kerja formal agar pendapatan dan daya beli masyarakat semakin kuat.

Di tingkat individu, pengelolaan keuangan juga perlu dilakukan secara realistis. Masyarakat disarankan menerapkan prinsip conscious spending, yakni menentukan tujuan penggunaan uang sebelum melakukan pengeluaran.

Langkah awal dapat dilakukan dengan mengenali pola belanja, termasuk pengeluaran kecil atau micro-spending, seperti membeli jajanan, membayar parkir, dan berlangganan aplikasi. Meski nominalnya relatif kecil, pengeluaran tersebut dapat terakumulasi menjadi jumlah yang signifikan jika tidak dipantau.

Masyarakat juga perlu menyusun anggaran sesuai kemampuan finansial dan menetapkan prioritas antara kebutuhan utama, dana darurat, serta tabungan masa depan.

Ivan menyarankan penerapan prinsip jeda sebelum membeli barang yang tidak mendesak. Memberi waktu selama 24 jam sebelum mengambil keputusan belanja dapat membantu membedakan kebutuhan dari keinginan sesaat sekaligus mengurangi pembelian impulsif.

Penggunaan cicilan pun tidak selalu menjadi masalah selama dilakukan secara terukur, sesuai kemampuan membayar, dan memiliki tujuan yang jelas.

Menurut Ivan, solusi menghadapi fenomena makan tabungan bukan sekadar menghentikan belanja, melainkan memastikan kebutuhan hari ini tidak terus mengorbankan keamanan finansial pada masa mendatang.

LPS: Simpanan Semua Kelompok Nasabah Masih Tumbuh

Di sisi lain, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebelumnya menegaskan bahwa data perbankan belum menunjukkan penurunan simpanan secara agregat di seluruh kelompok nasabah.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menyampaikan bahwa simpanan di bawah Rp100 juta masih tumbuh 5,16 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga Juni 2026.

Pertumbuhan juga tercatat pada rekening bersaldo di bawah Rp5 juta yang meningkat 7,36 persen secara tahunan. Sementara itu, simpanan dengan saldo Rp5 juta hingga Rp10 juta tumbuh 10,01 persen.

Adapun simpanan di atas Rp5 miliar mencatat pertumbuhan 15,44 persen secara tahunan dan menjadi salah satu pendorong peningkatan DPK perbankan.

Anggito menjelaskan, pertumbuhan simpanan secara agregat tidak berarti seluruh individu mengalami kondisi keuangan yang sama. Sebagian masyarakat masih mampu menambah tabungan, sedangkan sebagian lainnya menggunakan simpanan untuk memenuhi kebutuhan atau mengalami penurunan saldo.

Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membaca data simpanan secara menyeluruh. Penguatan daya beli, penciptaan lapangan kerja formal, serta pengelolaan keuangan yang lebih terencana menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan finansial masyarakat.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *