FACEINDONESIA.CO,ID – Industri keuangan nasional dinilai masih memiliki fundamental yang kuat di tengah tantangan ekonomi global. Namun, perubahan perilaku pasar dan lanskap bisnis mendorong pelaku industri untuk terus bertransformasi agar tetap relevan dan tumbuh berkelanjutan.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, kondisi perbankan nasional saat ini masih sehat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang positif, permodalan yang kuat, likuiditas terjaga, serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang relatif rendah.
Menurut Agus, tantangan utama saat ini bukan pada fundamental industri, melainkan perubahan dinamika pasar yang semakin cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, perbankan menghadapi berbagai tekanan mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga perubahan kebijakan perdagangan global.
Selain itu, biaya dana (cost of fund) juga mengalami tekanan. Agus mengungkapkan bunga deposito pada lelang dana antarbank sempat mencapai 11,5 persen, menandakan meningkatnya biaya penghimpunan dana.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bank Jakarta menjalankan transformasi di berbagai lini, mulai dari penguatan model bisnis, digitalisasi layanan, peningkatan manajemen risiko, hingga penguatan budaya kerja.
Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemprov DKI Jakarta, Bank Jakarta fokus memperkuat ekosistem pemerintah daerah dan memaksimalkan potensi perputaran anggaran sebagai sumber pertumbuhan berkelanjutan.
Transformasi digital juga dipercepat melalui pembaruan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi, dan peningkatan kompetensi SDM. Di saat yang sama, penguatan manajemen risiko menjadi prioritas, termasuk menghadapi ancaman keamanan siber yang semakin kompleks.
Dalam forum yang sama, Direktur Pengembangan BEI Jeffry Hendrik menegaskan pentingnya peningkatan kualitas investor untuk memperkuat pasar modal Indonesia.
BEI bersama OJK dan SRO terus mendorong transparansi pasar, pendalaman pasar modal, serta keterbukaan informasi guna meningkatkan kepercayaan publik.
Jumlah investor domestik kini telah melampaui 28 juta. Namun, menurut Jeffry, pertumbuhan jumlah investor harus dibarengi peningkatan literasi agar investor mampu memahami profil risiko, melakukan analisis, dan tidak sekadar mengikuti tren atau fenomena FOMO.
Bank Jakarta juga menegaskan fokus perusahaan bukan hanya mengejar pertumbuhan besar, tetapi pertumbuhan yang sehat dan berkualitas.
Transformasi digital, tata kelola yang kuat, transparansi, serta peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi fondasi penting menjaga ketahanan industri keuangan di tengah dinamika ekonomi.(ZID)






