Atdikbud KBRI Tokyo: Pengabdian Masyarakat PTK di Jepang Perlu Sentuh Kebutuhan Agama dan Bahasa Indonesia

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Tokyo, Amzul Rifin menekankan urgensi reorientasi program pengabdian masyarakat bagi perguruan tinggi Indonesia, termasuk Perguruan Tinggi Keagamaan, yang ingin menyasar komunitas Muslim di Jepang.

Hal ini disampaikan Amzul Rifin saat menerima kunjungan Ketua Dompet Dhuafa Japan Dr. H Ach. Firman Wahyudi, S.E., M.Sc, Dr. Mohammad Ikhwanuddin, S.H.I., M.H.I (Ketua Prodi Hukum Keluarga, Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Surakarta atau UMSURA, Dr. M. Shohibul Mujtaba, M.Ag (Direktur Pusat Studi al-Quran dan Sirah Nabawiyah, UNIDA Gontor) dan Dr. H. Abd. Rahim Dani, M.A (Dosen Magister Ilmu al-Quran dan Tafsir PTIQ, Jakarta), di Kantor KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), Tokyo-Jepang, Senin (2/3/2026).

Bacaan Lainnya

Dalam pertemuan itu, Prof. Amzul menyoroti bahwa kebutuhan mendesak diaspora saat ini adalah penguatan identitas melalui pendidikan agama dan penguasaan Bahasa Indonesia.

 

Menjaga Identitas di Tengah Arus Budaya Lokal

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi diaspora Indonesia di Jepang, khususnya generasi kedua dan ketiga, adalah terkikisnya kemampuan berbahasa ibu. Prof. Amzul mengungkapkan bahwa banyak anak-anak diaspora yang lebih fasih berkomunikasi dalam bahasa Jepang, bahkan saat berada di lingkungan sesama warga Indonesia.

“Di Jepang ini, pembelajaran penting yang perlu dijadikan proyek pengabdian masyarakat adalah tentang Bahasa Indonesia dan Pancasila,” ungkap Prof. Amzul.

Hal ini diperkuat oleh temuan Dr. Mohammad Ikhwanuddin, saat mengunjungi komunitas Muslim di Chiba dan Tokyo. Ia mendapati fenomena di mana anak-anak Indonesia yang bersekolah di sekolah lokal Jepang secara otomatis menjadikan bahasa Jepang sebagai bahasa pergaulan utama, sehingga pendampingan intensif Bahasa Indonesia menjadi krusial agar mereka tidak kehilangan akar nasionalismenya.

 

Urgensi Pendidikan Agama Islam Dasar

Selain aspek bahasa, aspek pendidikan agama menjadi pilar kedua yang sangat dinantikan. Dengan jumlah diaspora Indonesia yang mencapai 230.000 jiwa—di mana lebih dari 80 persennya adalah Muslim—permintaan terhadap akses pendidikan Islam yang berkualitas sangatlah tinggi.

Prof. Amzul menekankan bahwa pengabdian masyarakat ke depan harus mulai fokus pada dua hal. Pertama, Pendidikan Islam Dasar yang emberikan pemahaman tauhid dan akhlak yang kokoh bagi anak-anak di perantauan. Kedua, Tahsin Al-Qur’an yang membantu komunitas dalam memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an secara tartil dan benar.

“Kebutuhan akan pelajaran agama Islam dasar, juga tahsin al-Qur’an, menjadi hal yang sangat dinantikan oleh diaspora Muslim Indonesia di Jepang,” tambahnya.

 

Membuka Peluang Kerja Sama Strategis

Meskipun KBRI Tokyo menerima banyak tawaran kerja sama (MoU) dari berbagai PTN maupun PTKIN/PTKIS, Prof. Amzul mengingatkan agar program-program tersebut tidak sekadar formalitas. Ia mendorong akademisi dan lembaga sosial untuk merancang program yang memiliki kebermanfaatan berkelanjutan (sustainable benefit).

Ke depan, KBRI Tokyo membuka peluang luas bagi kemitraan yang spesifik menangani tiga poin utama: Penguatan Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, serta Pemahaman Dasar Islam. Langkah ini diharapkan dapat mempererat pembinaan komunitas sekaligus memastikan generasi muda Indonesia di Jepang tetap memiliki karakter religius dan nasionalis yang kuat. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *