FACEINDONESIA.CO.ID- PT Astra International Tbk (Astra) membukukan laba bersih sebesar Rp 24,6 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, di luar pos nonberulang. Capaian tersebut relatif stabil meski turun sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hingga akhir September 2026, Astra mencatat pendapatan bersih konsolidasian mencapai Rp 243,9 triliun. Pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan menjadi penopang utama kinerja perusahaan di tengah tekanan pada sektor solusi pertambangan dan alat berat.
Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan perusahaan mampu menjaga ketahanan bisnis di tengah berbagai tantangan ekonomi dan industri.
Menurutnya, perbaikan kinerja mulai terlihat pada kuartal III 2026, terutama didukung peningkatan aktivitas kontrak pertambangan, kembali beroperasinya tambang emas Martabe, serta pertumbuhan bisnis otomotif.
“Kami memperkirakan faktor-faktor tersebut akan terus menunjang kinerja Grup pada kuartal keempat,” ujar Rudy dalam keterangan resmi, Rabu (28/10/2026).
Otomotif dan Jasa Keuangan Tumbuh
Bisnis otomotif menjadi kontributor laba terbesar Astra. Sepanjang Januari-September 2026, laba bersih sektor ini meningkat 8 persen menjadi Rp 9,8 triliun dari Rp 9 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan penjualan kendaraan dan kontribusi bisnis komponen otomotif.
Penjualan sepeda motor nasional tumbuh 4 persen menjadi sekitar 5 juta unit. Sementara penjualan sepeda motor Honda meningkat 3 persen dengan pangsa pasar tetap mencapai 77 persen.
Di segmen mobil, penjualan nasional meningkat 21 persen menjadi 679.000 unit. Penjualan mobil Grup Astra tumbuh 13 persen, dengan Toyota dan Daihatsu mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar. Pangsa pasar mobil Astra tercatat sebesar 49 persen.
Bisnis komponen otomotif juga menunjukkan perkembangan positif. Laba bersih divisi ini naik 15 persen menjadi Rp 1,4 triliun.
Sementara itu, sektor jasa keuangan membukukan laba bersih Rp 7,2 triliun atau tumbuh 6 persen. Peningkatan ini didukung pembiayaan konsumen untuk kendaraan baru maupun pembiayaan berulang.
Nilai pembiayaan baru Grup Astra mencapai Rp 92,5 triliun, meningkat 8 persen. Piutang pembiayaan bersih juga naik 6 persen menjadi Rp 132 triliun dibandingkan akhir Desember 2025.
Bisnis Pertambangan Mulai Pulih
Berbeda dengan otomotif dan jasa keuangan, bisnis solusi pertambangan dan alat berat masih menghadapi tekanan. Laba bersih sektor ini, di luar pos nonberulang, tercatat Rp 5,1 triliun atau turun 28 persen.
Penurunan dipengaruhi berkurangnya penjualan emas akibat penghentian sementara operasional tambang Martabe pada awal tahun serta berkurangnya alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi batu bara nasional.
Penjualan alat berat Komatsu turun 17 persen menjadi 3.000 unit. Volume pengupasan lapisan tanah mencapai 766 juta bank meter kubik atau turun 7 persen. Adapun penjualan batu bara tercatat 7,1 juta ton, turun 23 persen.
Penjualan emas juga menurun menjadi 54.000 ons dari 178.000 ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, aktivitas bisnis mulai membaik setelah tambang emas Martabe kembali beroperasi pada kuartal II 2026. Pada kuartal III, kinerja bisnis solusi pertambangan dan alat berat tumbuh 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Astra Perkuat Strategi Pengelolaan Modal
Pertumbuhan juga dicatatkan segmen Wider Businesses yang mencakup sejumlah usaha di luar tiga bisnis utama Astra. Laba bersih di luar pos nonberulang mencapai Rp 2,6 triliun atau meningkat 36 persen, terutama didukung bisnis agribisnis dan properti.
Selain memperkuat operasional, Astra menjalankan strategi pengelolaan modal melalui program pembelian kembali saham atau share buyback.
Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup Astra telah menyelesaikan pembelian kembali saham senilai Rp 10 triliun. Perusahaan juga masih menjalankan program buyback senilai Rp 8 triliun.
United Tractors turut mengumumkan program pembelian kembali saham hingga Rp 2 triliun untuk periode Oktober-Desember 2026. Sementara Astra Agro Lestari menetapkan nilai maksimal Rp 400 miliar pada periode yang sama.
Astra juga melakukan penawaran tender sukarela untuk meningkatkan kepemilikan saham di Astra Otoparts. Penawaran maksimal mencakup 4,95 persen saham dengan harga Rp 3.600 per saham atau nilai transaksi sekitar Rp 858 miliar.
Apabila seluruh saham berhasil diperoleh, kepemilikan Astra di Astra Otoparts akan meningkat dari 80 persen menjadi 84,95 persen.
Dari sisi keuangan, Astra mencatat kas bersih sebesar Rp 1,8 triliun di luar anak perusahaan jasa keuangan per 30 September 2026. Sementara utang bersih anak perusahaan jasa keuangan mencapai Rp 66,7 triliun.
Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 4 persen menjadi Rp 238,1 triliun. Nilai aset bersih per saham juga naik 5 persen menjadi Rp 5.999.
Memasuki kuartal IV 2026, Astra optimistis pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan serta pemulihan aktivitas pertambangan dapat mendukung kinerja perusahaan.
Rudy menegaskan, Astra akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga kekuatan neraca keuangan, dan mengembangkan peluang bisnis secara selektif di tengah dinamika pasar.(ZID)






