Kemenag Jelaskan Status Pembangunan Basilika Nusantara Santo Fransiskus Xaverius di IKN

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik (Ditjen Bimas Katolik) Kementerian Agama memberikan penjelasan terkait status penamaan dan progres pembangunan Gereja Basilika Nusantara Santo Fransiskus Xaverius di Ibu Kota Nusantara (IKN), yang belakangan menjadi perhatian publik.

Direktur Urusan Agama Katolik Ditjen Bimas Katolik, Salman Habeahan, menegaskan bahwa hingga saat ini status basilika bagi gereja yang sedang dibangun tersebut masih dalam proses dan menunggu keputusan dari Takhta Suci. “Status basilika belum ditetapkan secara resmi karena masih menunggu persetujuan dari Otoritas Kepausan di Vatikan. Ini merupakan prosedur yang lazim dalam tata kelola Gereja Katolik universal,” ujar Salman di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Bacaan Lainnya

 

Mekanisme Sesuai Hukum Gereja

Salman menjelaskan bahwa penamaan Basilika Nusantara Santo Fransiskus Xaverius mengacu pada Surat Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Nomor 218/SK.III/SETJEN–KWI/VII/2024 tertanggal 11 Juli 2024 tentang Usulan Nama Basilika IKN. Surat tersebut merupakan bentuk dukungan dan rekomendasi kolegial Gereja Katolik Indonesia atas nama yang diusulkan.

Secara kanonik, permohonan penetapan status Basilica Minor diajukan oleh Uskup diosesan setempat, dalam hal ini Uskup Agung Samarinda, kepada Takhta Suci. Penetapan dilakukan setelah melalui kajian menyeluruh atas aspek historis, pastoral, liturgis, dan spiritual gereja yang bersangkutan. Dengan demikian, proses yang berjalan saat ini sepenuhnya mengikuti struktur hierarkis dan tata kelola Gereja Katolik universal.

 

Simbol Kerukunan dan Spiritualitas Misioner

Sebagai bagian dari kawasan peribadatan di IKN, gereja ini diharapkan menjadi simbol kebhinnekaan dan persaudaraan nasional. Kehadiran rumah ibadah berbagai agama di IKN menegaskan komitmen negara terhadap toleransi dan kehidupan beragama yang harmonis.

Pemilihan Santo Fransiskus Xaverius sebagai pelindung mengandung makna misioner yang kuat. Ia dikenal sebagai pewarta Injil di Asia yang menjunjung dialog dan keberanian melintasi batas budaya.

“Nama Santo Fransiskus Xaverius bukan sekadar referensi historis, tetapi menjadi inspirasi bagi Gereja Indonesia untuk hadir sebagai Gereja yang mendengarkan, berjalan bersama, dan menjadi pelopor kerukunan,” ujar Salman.

Secara arsitektural, pencahayaan atap basilika yang membentuk siluet salib besar pada malam hari menghadirkan simbol Kristus sebagai Terang Dunia (bdk. Yoh 8:12). Hal ini menjadi pesan spiritual bahwa Gereja dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Progres Pembangunan Hampir Rampung

Dari sisi konstruksi, pembangunan Gereja Basilika Santo Fransiskus Xaverius dan Wisma Uskup di IKN telah mencapai sekitar 99 persen dan kini memasuki tahap finishing. Fokus pekerjaan meliputi penyempurnaan interior, ornamen, fasad, serta penataan lanskap.

Gereja ini dirancang mampu menampung sekitar 1.500 umat di ruang dalam dan 1.000 umat di selasar luar, sehingga dapat mengakomodasi perayaan liturgi berskala besar maupun kegiatan keagamaan nasional. Pembangunan konstruksi dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dengan total anggaran sebesar Rp704,9 miliar.

Kebutuhan anggaran untuk sarana peribadatan diperkirakan mencapai Rp38 miliar. Melalui DIPA Ditjen Bimas Katolik, telah tersedia anggaran sebesar Rp19.992.530.000 dalam bentuk bantuan kepada KWI untuk kelengkapan interior dan perlengkapan sakramental. Selain itu, Otorita Ibu Kota Nusantara memberikan dukungan sebesar Rp5 miliar untuk kebutuhan loose furniture Wisma Uskup yang terdiri dari 41 kamar.

KWI bersama Ditjen Bimas Katolik juga telah membentuk Panitia Misa Syukur Peresmian dan Dedikasi Gereja yang akan ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Agama. Peresmian direncanakan terlaksana pada akhir Juli mendatang.

 

Penguatan Identitas Liturgi Karya Anak Bangsa

Seluruh mebel liturgis, interior artistik, relief, patung, perlengkapan misa, tabernakel, piala, sibori, monstrans, hingga busana liturgi yang akan digunakan merupakan karya anak bangsa. Hal ini menegaskan bahwa basilika ini tidak hanya dibangun sebagai struktur fisik yang representatif, tetapi juga sebagai perwujudan iman Gereja Indonesia yang berakar dalam tradisi Katolik universal dan bertumbuh dalam kekayaan seni dan budaya Nusantara.

Rm. Mikael Adi Siswanto, Konsultan Desain Sarana Kompleks Basilika, menyampaikan bahwa seiring hampir rampungnya pembangunan fisik, fokus kini diarahkan pada penyediaan sarana peribadatan dengan pendekatan kualitas liturgis dan pendalaman teologis yang dapat dipertanggungjawabkan. Setiap unsur dirancang selaras dengan norma Gereja universal serta memperhatikan makna simbolik dan nilai sakramental yang mendalam.

Dengan demikian, kehadiran Basilika Nusantara Santo Fransiskus Xaverius di IKN diharapkan menjadi penanda bahwa pembangunan bangsa tidak hanya menyentuh aspek infrastruktur, tetapi juga dimensi spiritual dan moral. Basilika ini diproyeksikan menjadi ruang doa, ruang dialog, dan ruang persaudaraan yang memperkuat kehidupan keagamaan yang harmonis serta menjadi simbol kontribusi Gereja Katolik Indonesia dalam membangun peradaban Nusantara yang damai, inklusif, dan berkeadaban. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *