FACEINDONESIA.CO.ID- Pemerintah mengandalkan konsumsi masyarakat, belanja negara, investasi, dan ekspor untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen sepanjang 2026. Percepatan realisasi anggaran dan investasi menjadi strategi utama untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2026.
Sejumlah stimulus disiapkan untuk mempertahankan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi pada kuartal terakhir tahun ini tetap terjaga dan mendekati capaian kuartal sebelumnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,4 persen dapat tercapai.
“Pemerintah mempertahankan target pertumbuhan secara tahunan sebesar 5,4 persen hingga akhir 2026,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III-2026. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi secara kumulatif hingga periode tersebut mencapai 5,45 persen.
Untuk menjaga konsumsi domestik, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Penguatan belanja negara juga dilakukan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Selain konsumsi dan belanja pemerintah, peningkatan investasi menjadi prioritas untuk menopang pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.
Airlangga mengatakan, pemerintah juga mengevaluasi berbagai regulasi yang berpotensi menghambat perdagangan internasional, khususnya kegiatan ekspor. Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar proses ekspor semakin dipermudah.
“Pemerintah juga tengah menyiapkan kebijakan kemudahan impor untuk tujuan ekspor guna mendukung aktivitas industri dan perdagangan,” jelas Airlangga.
Dari sisi konsumsi, pemerintah memberikan sejumlah insentif transportasi untuk menjaga daya beli sekaligus meningkatkan mobilitas masyarakat selama libur akhir tahun.
Insentif tersebut meliputi Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100 persen untuk tiket pesawat kelas ekonomi domestik pada 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027. Program ini ditargetkan menjangkau 3,75 juta penumpang.
Pemerintah juga memberikan diskon tiket kereta api sebesar 30 persen untuk perjalanan pada 22 Desember 2026 hingga 4 Januari 2027, dengan sasaran 1,04 juta penumpang.
Sementara itu, insentif transportasi laut disiapkan bagi 414 ribu penumpang kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) selama 17 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027.
Pemerintah turut menggratiskan tarif jasa pelabuhan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) di 14 pelabuhan. Kebijakan ini ditargetkan menjangkau 1,42 juta orang pada periode 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 5,4-5,5 persen. Menurutnya, kondisi ekonomi domestik masih cukup kuat berkat dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berfungsi sebagai peredam guncangan atau shock absorber.
Suahasil menjelaskan, ketahanan ekonomi nasional juga didukung berbagai stimulus, stabilisasi harga pangan, serta upaya pemerintah menjaga harga energi.
“Berbagai kebijakan tersebut diharapkan mampu mempertahankan aktivitas ekonomi domestik di tengah tekanan eksternal,” ujar Suahasil di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Meski demikian, perekonomian global masih menghadapi sejumlah tantangan. Eskalasi konflik geopolitik menjadi salah satu risiko yang mendorong harga minyak dan berbagai komoditas bertahan pada level tinggi.
Tekanan lainnya berasal dari kebijakan moneter global yang lebih ketat. Sejumlah bank sentral utama, yakni Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ), tercatat menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada September 2026.
Di sisi lain, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury masih bertahan tinggi. Kondisi tersebut membuat minat investor global terhadap aset portofolio di negara berkembang relatif terbatas.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen sepanjang 2026 masih realistis. Namun, pertumbuhan hingga 5,6 persen dinilai lebih sulit dicapai karena membutuhkan akselerasi ekonomi yang signifikan dalam dua bulan terakhir tahun ini.
“Namun, pencapaian hingga 5,6 persen akan jauh lebih menantang karena membutuhkan akselerasi pertumbuhan yang signifikan pada dua bulan terakhir tahun ini,” ujar Josua kepada Rakyat Merdeka, Jumat (6/11/2026).
Dengan berbagai stimulus Nataru, percepatan belanja negara, serta dorongan investasi, pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat aktivitas ekonomi nasional hingga penutupan 2026.(ZID)






