Kementan Kenalkan Benih Bioteknologi untuk Dongkrak Panen

FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pemanfaatan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas panen dan efisiensi usaha tani. Salah satunya melalui pengenalan benih bioteknologi kepada petani, termasuk pengembangan padi lokal Rojolele di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Pengenalan inovasi tersebut dilakukan melalui kegiatan Farmer Field Day (FFD) Pengenalan Benih Bioteknologi pada Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini melibatkan pemerintah, akademisi, peneliti, pelaku industri, penyuluh, dan petani untuk memperluas pemahaman mengenai teknologi benih unggul.

Bacaan Lainnya

Ketua Kelompok Substansi Pendaftaran dan Pelepasan Varietas Tanaman Pusat Pelindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP), Nani Suwarni, menegaskan pentingnya inovasi pertanian dalam menghadapi perubahan iklim dan meningkatkan hasil panen.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi pemuliaan tanaman dan perbenihan perlu didukung pemahaman yang objektif serta berbasis bukti ilmiah. Setiap inovasi juga harus memenuhi persyaratan teknis dan melalui pengkajian serta pengujian keamanan sesuai ketentuan.

Di Klaten, pengembangan padi Rojolele menjadi salah satu contoh penerapan teknologi untuk mempertahankan keunggulan varietas lokal sekaligus memperbaiki karakteristik tanaman.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, Lilik Nugraharja, menjelaskan bahwa Rojolele dikenal memiliki cita rasa dan kualitas beras khas. Namun, varietas aslinya memiliki masa panen lebih dari lima bulan, tanaman berpostur tinggi, serta rentan terhadap serangan hama dan penyakit.

Untuk mengatasi kendala tersebut, penelitian bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dimulai pada 2013 dengan memanfaatkan teknologi mutasi radiasi sinar gamma. Penelitian ini menghasilkan varietas Rojolele Srinar, Srinuk, dan Sriten.

Varietas Rojolele Srinar dan Srinuk telah memperoleh pelindungan varietas tanaman sebagai varietas turunan esensial dari Rojolele lokal. Adapun Rojolele Srinuk memiliki produktivitas rata-rata sekitar 6,6 ton per hektare, dengan potensi hasil mencapai 9 ton per hektare, sekaligus mempertahankan cita rasa khasnya.

Meski demikian, pengembangan varietas tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan benih bersertifikat. Peningkatan produksi benih resmi diperlukan agar budidayanya dapat diperluas.

Guru Besar IPB University, Antonius Suwanto, menjelaskan bahwa pengembangan varietas unggul dapat dilakukan melalui persilangan, iradiasi, maupun rekayasa genetika. Setiap metode memiliki mekanisme berbeda untuk menghasilkan karakteristik tanaman yang diinginkan.

Persilangan menggabungkan sifat unggul dari tanaman berbeda, sedangkan iradiasi memicu perubahan genetik yang kemudian diseleksi. Sementara itu, bioteknologi modern memungkinkan pemanfaatan gen tertentu untuk menghasilkan sifat spesifik, termasuk ketahanan terhadap hama sasaran.

Antonius menilai pemahaman yang memadai diperlukan agar masyarakat dapat menilai inovasi pertanian secara objektif dan tidak mudah terpengaruh informasi keliru.

Kegiatan FFD juga dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Dalam kesempatan tersebut, petani dan penyuluh mengamati langsung perbedaan pertumbuhan jagung konvensional dan jagung bioteknologi.

Varietas jagung bioteknologi yang diperkenalkan memiliki dua karakteristik utama, yakni tahan terhadap hama sasaran dan toleran terhadap herbisida berbahan aktif glifosat.

Kombinasi kedua sifat tersebut berpotensi membantu pengendalian hama dan gulma serta meningkatkan efisiensi usaha tani. Namun, penerapannya tetap perlu mengikuti rekomendasi teknis budidaya dan ketentuan penggunaan herbisida yang berlaku.

Melalui pengenalan dan pengamatan langsung, Kementan mendorong pemanfaatan inovasi benih secara bertanggung jawab. Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, industri, penyuluh, dan petani diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai manfaat sekaligus keterbatasan teknologi bioteknologi.

Dengan dukungan benih berkualitas, edukasi yang tepat, dan penerapan teknologi sesuai ketentuan, inovasi pertanian diharapkan mampu meningkatkan produktivitas panen, menekan biaya usaha tani, serta memperkuat daya saing pertanian Indonesia.(SAN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *