FACEINDONESIA.CO.ID- PT Bio Farma (Persero) memperkuat kemampuan manufaktur vaksin dalam negeri melalui perluasan kerja sama dengan Merck Sharp & Dohme (MSD). Kolaborasi ini mencakup transfer teknologi vaksin human papillomavirus (HPV) dan vaksin pneumokokus konjugat 15-valen (PCV15).
Perjanjian kerja sama tersebut ditandatangani Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya dan Senior Vice President, Global Vaccines & Infectious Diseases Franchise MSD Gregg Szabo di New York, Amerika Serikat. Penandatanganan disaksikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir, serta Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dwisuryo Indroyono Soesilo.
Shadiq mengatakan, kerja sama tersebut merupakan kelanjutan kolaborasi strategis Bio Farma dan MSD yang telah berlangsung sejak 2016. Kemitraan ini memasuki tahap baru dengan fokus pada penguatan kapasitas manufaktur vaksin dan transfer teknologi jangka panjang.
“Penandatanganan perjanjian kerangka kerja sama transfer teknologi ini merupakan langkah penting bagi Bio Farma dalam memperkuat kapabilitas manufaktur vaksin dan kemandirian industri kesehatan nasional,” kata Shadiq dalam keterangan resmi, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, kerja sama tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang bagi penguatan penguasaan teknologi, pengetahuan, keahlian, serta kompetensi sumber daya manusia Indonesia.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma berupaya memastikan penguatan kapabilitas tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat melalui akses yang lebih berkelanjutan terhadap vaksin berkualitas. Langkah ini sekaligus mendukung pembangunan industri kesehatan nasional yang tangguh dan berdaya saing.
Kolaborasi Bio Farma dan MSD juga sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat kemandirian ekonomi, hilirisasi industri, serta sektor strategis, termasuk bidang kesehatan.
Melalui kemitraan tersebut, kedua perusahaan berupaya meningkatkan kapabilitas teknologi Indonesia, memperkuat sistem kesehatan nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta meningkatkan daya saing industri kesehatan dalam jangka panjang.
Kerja sama ini mencakup transfer teknologi vaksin PCV15 yang digunakan untuk membantu melindungi dari penyakit tertentu akibat bakteri pneumokokus, serta vaksin HPV nonavalent (9vHPV) untuk membantu mencegah penyakit tertentu yang berkaitan dengan infeksi HPV.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi Bio Farma dan MSD sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui pengembangan kapasitas produksi di dalam negeri.
“Bio Farma dan MSD juga mendukung upaya Indonesia dalam memperkuat pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin,” ujar Budi.
Sementara itu, Gregg Szabo mengatakan, inovasi dalam pencegahan penyakit memiliki peran penting dalam membangun masa depan kesehatan yang lebih baik.
Melalui kerja sama dengan Bio Farma, MSD berharap dapat memperluas manfaat inovasi kesehatan sekaligus mendukung penguatan upaya pencegahan penyakit dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan masyarakat Indonesia.
Kedua pihak akan melaksanakan transfer teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.(DRI)






