FACEINDONESIA.CO.ID-Indonesia membuka peluang investasi global untuk mempercepat pengembangan energi surya dengan target kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mencapai 100 gigawatt peak (GWp).
Peluang tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Indonesia Solar Investment Forum 2026 yang digelar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Tenggara Strategics, dan SANARA di Konsulat Jenderal RI di New York, Amerika Serikat, Kamis (24/9/2026), dalam rangkaian Climate Week New York.
Tahap awal program mencakup 14 proyek PLTS dengan total kapasitas 5,3 GWp yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun ke depan.
Deputi Direktur IIPC New York Yoga Adhi Pratama mengatakan, target pengembangan energi surya perlu diterjemahkan menjadi proyek dengan profil risiko dan skema komersial yang jelas agar dapat dinilai investor internasional.
“Ambisi besar energi surya Indonesia harus disajikan sebagai rangkaian peluang yang jelas, lengkap dengan profil risiko dan skema komersial yang dapat diukur oleh investor,” ujar Yoga.
Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari mengatakan, target 100 GWp membutuhkan berbagai model pengembangan, mulai dari PLTS skala besar, PLTS terapung di waduk, PLTS atap komersial hingga sistem kelistrikan untuk wilayah pedesaan.
“Target 100 GWp adalah mandat kerja langsung, dan peluang bagi investor sudah terbuka saat ini,” kata Mada.
Sejumlah proyek juga telah disiapkan, antara lain program Mentari 1 dan Mentari 2 dengan kapasitas sekitar 2,7 GWp serta tender elektrifikasi pedesaan yang ditargetkan menjangkau lebih dari 600 desa pada 2027.
AESI turut mendorong penyederhanaan akses energi surya melalui skema tagihan tunggal atau single billing melalui PT PLN (Persero). Skema ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan energi surya di gedung pemerintah, sektor komersial, dan rumah tangga.
Dari sisi regulasi, AESI mendorong percepatan penyelesaian Peraturan Presiden mengenai energi surya yang masih dalam proses harmonisasi antar kementerian. Aturan tersebut diharapkan memberikan kepastian terkait segmen pengembangan, jadwal proyek, pembeli listrik, serta ketentuan komponen dalam negeri.
AESI juga mengusulkan daftar proyek yang transparan dan memiliki jadwal jangka panjang. Untuk PLTS atap, asosiasi mendorong mekanisme kuota yang lebih adaptif berdasarkan kapasitas jaringan listrik serta aturan khusus untuk sistem surya yang terintegrasi dengan baterai.
Pengembangan 100 GWp membutuhkan kombinasi pembiayaan publik, pembangunan domestik, pengembang independen, dan modal internasional. Kerja sama global juga diarahkan untuk memperkuat rantai pasok melalui transfer teknologi produksi sel surya, inverter, dan sistem baterai di dalam negeri.
Direktur IIPC New York Tessal Febrian mengatakan, pemerintah telah menyediakan fasilitas pendukung investasi, termasuk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 serta sejumlah insentif fiskal untuk investasi hijau, seperti tax allowance, pembebasan bea masuk, dan super tax deduction.
Sementara itu, Wakil Presiden US-ASEAN Business Council Mario Masaya menyebut peluang investasi energi surya Indonesia mencakup teknologi, infrastruktur, dan jasa pendukung. Menurutnya, kepastian kebijakan dan dialog antara pemerintah dengan dunia usaha penting untuk mempertemukan investor dengan mitra lokal.
Forum tersebut juga menghadirkan sesi konsultasi bisnis antara investor dengan AESI dan IIPC New York untuk mempertemukan calon pemodal dengan pengembang proyek, penyedia teknologi, dan lembaga keuangan.
Melalui penguatan regulasi, kesiapan proyek, pembiayaan, dan konektivitas dengan investor global, pengembangan 100 GWp energi surya diharapkan dapat meningkatkan kapasitas energi terbarukan sekaligus memperkuat ekosistem industri surya di Indonesia.(DRI)






