FACEINDONESIA.CO.ID- Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kini mendapat kemudahan dalam mempersiapkan pengiriman barang ke luar negeri. DHL Express Indonesia menghadirkan fitur identifikasi barang berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pelanggan memberikan informasi barang secara lebih akurat.
Fitur tersebut diperkenalkan pada Agustus 2026. Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia Ahmad Mohamad mengatakan, pemenuhan persyaratan kepabeanan masih menjadi salah satu tantangan bagi UMKM yang baru memulai ekspor.
Menurutnya, deskripsi sederhana seperti kerajinan, aksesori, sampel atau suvenir terkadang belum cukup memberikan informasi yang dibutuhkan dalam proses kepabeanan.
“Bagi banyak pelaku usaha Indonesia, khususnya UMKM yang ingin memperluas pasar ke luar negeri, pemenuhan persyaratan kepabeanan masih menjadi salah satu tantangan dalam pengiriman internasional,” ujar Ahmad, Sabtu (19/9/2026).
Melalui fitur identifikasi barang berbasis AI, pelanggan cukup memotret barang menggunakan telepon seluler atau perangkat yang terhubung internet. Teknologi computer vision kemudian mengenali objek dalam gambar dan memberikan usulan deskripsi barang yang lebih terstruktur untuk kebutuhan pengiriman internasional.
Meski demikian, Ahmad menegaskan teknologi tersebut bukan pengganti keputusan manusia maupun proses kepabeanan. Pengirim tetap harus memeriksa dan menyesuaikan informasi yang dihasilkan sebelum menyelesaikan proses pengiriman.
“Perannya ditempatkan lebih awal, membantu pelanggan memberikan informasi yang lebih tepat tentang barang yang akan dikirim,” jelasnya.
Ia menambahkan, fitur tersebut juga tidak menentukan klasifikasi barang ataupun mengambil alih kewenangan otoritas kepabeanan. Teknologi ini lebih diarahkan untuk membantu menyederhanakan tahap awal persiapan pengiriman.
Peluang ekspor bagi UMKM Indonesia sendiri terus berkembang. Kementerian Perdagangan mencatat, sepanjang Januari-Juli 2026, program business matching telah memfasilitasi 1.021 UMKM dengan nilai purchase order dan potensi transaksi mencapai 333,68 juta dolar AS atau sekitar Rp5,95 triliun.
Sebagian peserta merupakan pelaku usaha yang sebelumnya belum pernah melakukan ekspor. Karena itu, kesiapan memenuhi persyaratan pengiriman menjadi bagian penting dalam menangkap peluang pasar internasional.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga mewajibkan eksportir menyiapkan dokumen pelengkap serta menyampaikan data melalui Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). Data dan dokumen tersebut kemudian diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya dengan ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai 282,91 miliar dolar AS, naik 6,15 persen dibandingkan 2024. Ekspor nonmigas juga meningkat 7,66 persen menjadi 269,84 miliar dolar AS.
Ahmad menilai, teknologi AI dapat membantu UMKM terutama dalam memberikan informasi barang secara lebih tepat sejak awal. Namun, persyaratan negara tujuan, klasifikasi barang, kualitas produk, kapasitas produksi, biaya serta modal kerja tetap harus dipenuhi.
Sementara itu, Vice President Commercial DHL Express Indonesia Poppy Ariani mengatakan, akses menjadi salah satu faktor penting bagi pelaku usaha untuk menangkap peluang pasar internasional.
“Permintaan global itu ada dan terus berkembang. Kuncinya sekarang adalah akses, cepat, konsisten dan kompetitif,” kata Poppy.
Menurutnya, bagi pembeli di luar negeri, proses administrasi di balik pengiriman tidak selalu terlihat. Hal yang lebih penting adalah kepastian barang tiba sesuai janji dan penjual mampu memberikan informasi ketika muncul pertanyaan.
Dengan demikian, pemanfaatan AI dalam proses pengiriman dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu UMKM mempersiapkan ekspor dengan lebih praktis, terutama dalam memberikan informasi barang secara akurat sejak awal.(ZID)






