Murid SMA Negeri 2 Surabaya Ciptakan Solusi Lewat STEM

FACEINDONESIA.CO.ID- Pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics) di SMA Negeri 2 Surabaya mendorong murid peka terhadap persoalan di lingkungan sekitar sekaligus mencari solusi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong penerapan STEM sebagai pendekatan pembelajaran yang membiasakan murid untuk berani mencoba, kreatif mencipta, menguji, memperbaiki, dan mencoba kembali. Cara ini diharapkan membentuk generasi Indonesia yang unggul dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Di SMA Negeri 2 Surabaya, pembelajaran STEM diterapkan melalui berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan murid, mulai dari lingkungan hingga pemanfaatan teknologi. Murid diajak mengamati masalah, merancang solusi, melakukan eksperimen, mengevaluasi, hingga menghasilkan produk.

Guru Fisika SMA Negeri 2 Surabaya, Neny Else Josephine, mengembangkan pembelajaran dengan memanfaatkan perangkat sederhana dan kecerdasan artifisial (AI). Para murid membuat simulator fisika berbasis permainan untuk memahami berbagai konsep fisika.

“Mereka memanfaatkan tools yang sangat sederhana dan gratis di internet, tetapi hasilnya sangat di luar ekspektasi. Anak-anak meluncur lebih jauh dalam mengeksplorasi konsep fisika yang dikembangkan dalam lab virtual,” ujar Neny.

Salah satu murid kelas XII, Reynaldo, mengembangkan laman interaktif untuk memperdalam materi fisika sekaligus menjadi alat pembelajaran yang dapat digunakan bersama.

Penerapan STEM juga dilakukan melalui proyek lingkungan. Guru Matematika SMA Negeri 2 Surabaya, Nimas Izmi Aufa, mengintegrasikan matematika dan fisika melalui perancangan miniatur kota berbasis energi terbarukan.

Menurut Nimas, STEM tidak diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi melalui pendekatan kontekstual yang membuat murid terbiasa membaca persoalan dan mencari solusi.

“Anak-anak jadi lebih kritis dalam menghadapi atau membaca sesuatu. Kemampuan literasi anak-anak juga semakin meningkat karena diberikan permasalahan-permasalahan kontekstual yang benar-benar nyata,” jelas Nimas.

Salah satu proyek dikembangkan Ananda Aqila Zahir Diptyo, murid kelas XI, yang mengangkat persoalan polusi dan keterbatasan lahan di Surabaya. Ia merancang miniatur pulau reklamasi yang dapat menjadi sumber energi terbarukan sekaligus ruang hutan kota untuk menyerap karbon dioksida.

Sementara itu, Khalisha Zahratus Syita mengembangkan proyek “Morico”, yakni sistem pengelolaan air yang memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Air tersebut dialirkan ke kolam pengendapan dengan memanfaatkan biji kelor sebagai biokoagulan, kemudian melalui proses filtrasi dan dipantau menggunakan sensor pH serta kekeruhan.

Air hasil pengolahan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan budi daya ikan lele.

“Karena saya memiliki ketertarikan di bidang engineering, saya suka ketika ada isu-isu mengenai lingkungan yang bisa saya selesaikan. Ketika saya menemukan masalah dan saya bisa menemukan solusinya, saya merasa senang,” tutur Khalisha.

Guru Kimia SMA Negeri 2 Surabaya, Bahrul Ulum, mengatakan berbagai proyek tersebut berangkat dari ketertarikan murid terhadap kondisi lingkungan sekitar yang kemudian dikaitkan dengan materi kimia hijau, termasuk prinsip pencegahan limbah.

Penerapan STEM menunjukkan bahwa pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika pengetahuan dikaitkan dengan persoalan nyata. Melalui berbagai proyek, murid tidak hanya memahami konsep akademik, tetapi juga belajar mengidentifikasi masalah, mengembangkan gagasan, serta menghasilkan solusi bagi lingkungan sekitar.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *