IFG Rampungkan Konsolidasi Asuransi BUMN hingga 2027

FACEINDONESIA.CO.ID-Transformasi industri asuransi BUMN memasuki babak baru. Indonesia Financial Group (IFG) memfinalisasi kajian konsolidasi perusahaan asuransi dan penjaminan sebagai bagian dari transformasi Danantara Indonesia. Proses tersebut ditargetkan berlangsung bertahap hingga awal 2027.

Direktur Utama IFG, Hexana Tri Sasongko, mengatakan kajian mencakup penentuan entitas, skema transaksi, tahapan pelaksanaan, serta pemenuhan aspek regulasi dan tata kelola. Seluruh proses dilakukan bersama konsultan independen.

Menurutnya, skema konsolidasi masih difinalisasi dengan mempertimbangkan skala bisnis, efisiensi operasional, kecukupan modal, kualitas portofolio, kesiapan organisasi, dan kepatuhan terhadap regulasi. Langkah ini ditujukan untuk membentuk perusahaan yang lebih sehat, efisien, dan memiliki kapasitas pengelolaan risiko yang lebih kuat.

IFG juga tengah menjalankan due diligence yang mencakup aspek bisnis, keuangan, operasional, investasi, teknologi informasi, perpajakan, risiko, kepatuhan, hingga hukum. Hasilnya akan menjadi dasar penyelesaian berbagai legacy issues serta penataan portofolio agar tidak membebani entitas hasil konsolidasi.

Hexana menegaskan, konsolidasi merupakan inisiatif strategis Danantara Indonesia dengan IFG sebagai koordinator pelaksana sektor asuransi dan penjaminan. Nantinya, struktur akhir akan terdiri dari satu entitas untuk setiap segmen usaha, mulai dari asuransi umum, asuransi jiwa, penjaminan, hingga entitas pendukung.

Ia optimistis konsolidasi akan melahirkan perusahaan asuransi BUMN yang lebih kuat dari sisi bisnis, permodalan, dan efisiensi operasional.
Sementara itu, pengamat asuransi Irvan Rahardjo mendukung pembentukan holding asuransi BUMN.

Namun, ia mengingatkan agar penyelesaian kewajiban PT Asuransi Jiwasraya, terutama tunggakan polis hasil restrukturisasi, tetap menjadi prioritas demi memulihkan kepercayaan masyarakat.

Di sisi lain, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menekankan pentingnya pembenahan pengelolaan investasi.

Menurutnya, persoalan misinvestment selama ini menjadi salah satu penyebab ketidakseimbangan antara kewajiban dan aset investasi perusahaan asuransi BUMN.

Karena itu, IFG didorong memperkuat manajemen risiko, menerapkan pengelolaan investasi yang lebih disiplin, serta mengembangkan produk asuransi berbasis analisis risiko yang sehat agar permasalahan serupa tidak terulang.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *