FACEINDONESIA.CO.ID – PT Astra International Tbk terus menjalankan strategi korporasi baru dengan menerapkan struktur pelaporan yang diperbarui sejak semester I 2026. Perseroan kini memusatkan fokus pada tiga bisnis inti (core businesses), sementara unit usaha di luar pilar utama dikelompokkan dalam segmen lainnya.
Di tengah tantangan ekonomi global, bisnis otomotif menjadi penopang utama kinerja Astra. Pada semester I 2026, laba bersih segmen otomotif naik 9 persen menjadi Rp5,9 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut didorong pertumbuhan penjualan mobil baru serta kontribusi positif dari bisnis komponen.
Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan penjualan sepeda motor nasional meningkat 1 persen menjadi 3,1 juta unit. Penjualan sepeda motor Honda juga naik 1 persen dengan pangsa pasar mencapai 77 persen.
Sementara itu, penjualan mobil nasional tumbuh 16 persen menjadi 437 ribu unit. Penjualan mobil Grup Astra ikut meningkat 10 persen dengan Toyota dan Daihatsu tetap menjadi dua merek terlaris di Indonesia. Pangsa pasar Grup Astra tercatat sebesar 51 persen.
Kinerja divisi komponen juga menguat. Laba bersih naik 23 persen menjadi Rp921 miliar berkat peningkatan kontribusi dari seluruh lini usaha. Di sisi lain, divisi mobilitas mencatat penjualan mobil bekas sebanyak 15.700 unit atau naik 4 persen, sedangkan jumlah kendaraan dalam kontrak bertambah 13 persen menjadi 29.200 unit.
Pada sektor jasa keuangan, Astra membukukan laba bersih Rp4,6 triliun atau meningkat 6 persen. Pertumbuhan ini ditopang kenaikan pembiayaan otomotif dan multi-cycle, dengan nilai pembiayaan baru mencapai Rp61,8 triliun atau naik 10 persen.
Namun, segmen solusi pertambangan dan alat berat masih menghadapi tekanan. Laba bersih turun 46 persen menjadi Rp2,7 triliun akibat berkurangnya penjualan emas dari tambang Martabe serta dampak penurunan kuota produksi batu bara nasional yang memengaruhi permintaan alat berat dan jasa penambangan.
Di sisi lain, segmen lainnya mencatat laba bersih Rp1,6 triliun atau tumbuh 31 persen. Peningkatan ini didukung membaiknya kinerja agribisnis seiring kenaikan harga minyak sawit serta kontribusi lebih besar dari bisnis properti.
Rudy menegaskan Astra akan tetap konsisten menjalankan strategi korporasi baru dengan mengandalkan efisiensi operasional, ketahanan bisnis, dan disiplin alokasi modal untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang sekaligus mendukung perekonomian Indonesia.(ZID)





