FACEINDONESIA.CO.ID – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, resmi mengukuhkan 17 anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) periode 2026–2029 di Balairung, Balai Kota DKI Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.
Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat peran DTKJ sebagai mitra strategis dalam memberikan masukan, rekomendasi, dan solusi terhadap berbagai persoalan transportasi di ibu kota.
Salah satu sosok yang turut dikukuhkan dalam kepengurusan periode ini adalah Jessica Shally Anisa. Jessica menjadi anggota termuda DTKJ 2026–2029 sekaligus Gen Z pertama dalam jajaran 17 anggota DTKJ periode tersebut. Ia dipercaya menjalankan tugas di Komisi Hukum dan Humas.
Dalam sambutannya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa tantangan transportasi Jakarta masih berkaitan erat dengan kemacetan, tingginya mobilitas warga dari wilayah penyangga, serta kebutuhan untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Menurut Pramono, pembangunan transportasi tidak hanya dapat dilihat dari sisi infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh perubahan perilaku masyarakat, kualitas layanan, integrasi antarmoda, keamanan, kenyamanan, dan kemudahan akses.
Pramono juga menyoroti bahwa konektivitas sistem transportasi Jakarta saat ini telah mencapai sekitar 93 persen. Namun, masyarakat yang memanfaatkan transportasi umum secara rutin masih berada di kisaran 27 hingga 28 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Jakarta masih memiliki pekerjaan besar untuk meningkatkan minat masyarakat dalam menggunakan transportasi publik.
Karena itu, Pramono berharap DTKJ dapat bekerja bersama Dinas Perhubungan, operator transportasi, akademisi, komunitas, serta seluruh pemangku kepentingan untuk mewujudkan sistem transportasi Jakarta yang semakin terhubung, aman, nyaman, inklusif, dan berorientasi pada pelayanan publik.
DTKJ diharapkan tidak hanya menjadi mitra strategis, tetapi juga mitra kritis yang mampu memberikan masukan objektif berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
“Transportasi harus menjadi tulang punggung pelayanan publik kepada masyarakat, sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi. Karena itu, peningkatan pelayanan, integrasi antarmoda, serta kampanye untuk mengubah kebiasaan masyarakat menggunakan transportasi umum menjadi langkah penting dalam mengatasi kemacetan di Jakarta,” ujar Pramono Anung.
Di tengah agenda besar transformasi transportasi tersebut, kehadiran Jessica Shally Anisa menjadi relevan. Jessica memiliki latar belakang akademik yang beririsan langsung dengan isu perkotaan. Ia menempuh pendidikan di salah satu kampus di Turki, pada bidang Urban and Regional Planning.
Bekal pendidikan tersebut memberinya pemahaman mengenai tata ruang, konektivitas kawasan, integrasi antarmoda, serta pentingnya perencanaan kota yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Selain latar belakang akademik, Jessica juga memiliki pengalaman praktis di bidang infrastruktur.
Ia pernah terlibat dalam riset proyeksi penumpang LRT Jakarta Fase 1B serta mendukung diskusi mengenai kendaraan listrik. Pengalaman tersebut menjadi bekal awal baginya untuk memahami bahwa pembangunan transportasi modern tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga memerlukan data, koordinasi antarpemangku kepentingan, komunikasi publik yang efektif, serta keberpihakan pada kebutuhan warga.
Sebagai anggota Komisi Hukum dan Humas, Jessica diharapkan dapat membantu memperkuat fungsi komunikasi publik DTKJ, mendorong keterbukaan informasi, serta memastikan aspirasi masyarakat dapat tersampaikan secara lebih inklusif dalam proses penyusunan rekomendasi kebijakan transportasi.
Perannya juga diharapkan dapat menjadi jembatan antara isu teknis transportasi, kebutuhan warga, dan perspektif generasi muda yang semakin akrab dengan perkembangan teknologi serta perubahan pola mobilitas perkotaan.
Bagi Jessica, amanah sebagai Anggota DTKJ bukan sekadar posisi, melainkan kesempatan untuk terus belajar, mendengar, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Ia memandang keterlibatannya sebagai bagian dari tanggung jawab generasi muda untuk ikut serta dalam merumuskan solusi bagi persoalan publik, khususnya dalam mendorong sistem transportasi Jakarta yang lebih inklusif, modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Keterpilihan Jessica sebagai anggota termuda DTKJ juga menjadi pengingat bahwa masa depan transportasi Jakarta adalah tanggung jawab bersama lintas generasi. Tantangan besar seperti kemacetan, konektivitas kawasan Jabodetabek, integrasi antarmoda, digitalisasi layanan, serta pengembangan transportasi rendah emisi tidak dapat diselesaikan secara instan.
Namun, melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, operator transportasi, komunitas, dan masyarakat, harapan untuk mewujudkan mobilitas Jakarta yang lebih nyaman, aman, mudah diakses, dan ramah lingkungan akan terus terjaga.
Dengan bekal pendidikan urban planning dari Turki, pengalaman di bidang infrastruktur, serta semangat untuk mendengar kebutuhan warga, Jessica diharapkan dapat memperkuat peran DTKJ dalam menghadirkan rekomendasi kebijakan transportasi yang adaptif, berbasis data, komunikatif, dan berpihak pada kepentingan publik.
Pengukuhan Jessica bersama anggota DTKJ periode 2026–2029 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun transportasi Jakarta yang lebih baik.
Di tengah visi Jakarta menuju kota global yang modern dan humanis, kehadiran generasi muda seperti Jessica diharapkan dapat membawa perspektif baru bagi masa depan mobilitas ibu kota.(ALA)






