Bappenas Siapkan Peta Besar Penguatan Industri Sawit Nasional

Dok.Humas UNS

FACEINDONESIA.CO.ID – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyiapkan peta besar penguatan industri sawit nasional. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat hilirisasi, tata kelola, serta meningkatkan nilai tambah industri sawit secara berkelanjutan.

Menurut Rachmat, program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto terkait Proyek Strategis Nasional (PSN) Percepatan Penguatan Tata Kelola, Hilirisasi, dan Ekosistem Agribisnis Kelapa Sawit.

Bacaan Lainnya

“Arahan Presiden ini penting untuk segera ditindaklanjuti,” kata Rachmat saat menerima audiensi Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani di Jakarta, Senin (8/6).

Rachmat menjelaskan, pengembangan industri sawit membutuhkan sinergi antara sektor hulu (on farm) dan hilir (off farm). PT Agrinas Palma Nusantara akan memperkuat sektor hulu, sementara Bappenas fokus mengawal kebijakan hilirisasi.

Ia menegaskan, pengembangan industri hilir tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan sektor hulu yang kuat. Karena itu, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan pengembangan sawit nasional.

Salah satu agenda utama yang akan dibenahi adalah penyusunan data tunggal sawit nasional. Saat ini luas perkebunan sawit tercatat sekitar 17 juta hektare, namun angka di lapangan diperkirakan lebih besar. Untuk itu, Bappenas akan bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) guna menghadirkan basis data yang lebih akurat.

Pemerintah juga berkomitmen memperkuat kemitraan dengan petani sawit guna meningkatkan kesejahteraan pekebun sekaligus mendorong produktivitas nasional. Model pengembangan berbasis koperasi dinilai perlu diperluas agar manfaat ekonomi sawit dapat dirasakan lebih merata.

Dalam pengembangannya, prinsip keberlanjutan tetap menjadi perhatian utama. Pemerintah akan mendorong industri sawit yang lebih efisien, rendah emisi, dan memiliki daya saing tinggi di pasar global.

Selain itu, Bappenas tengah menyusun kerangka besar penguatan tata kelola dan ekosistem agribisnis sawit yang sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs).

Rachmat juga menekankan pentingnya hilirisasi berbasis riset dan inovasi.

Menurutnya, masa depan industri sawit tidak lagi bergantung pada ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan tandan buah segar (TBS), melainkan pada pengembangan produk bernilai tambah tinggi.

Bersama sejumlah perguruan tinggi, termasuk IPB, Bappenas mendorong lahirnya inovasi baru di sektor sawit. Berbagai produk seperti kosmetik, suplemen kesehatan hingga material komposit dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan dari komoditas sawit.

“Sudah saatnya Indonesia tidak hanya menjual CPO dan TBS, tetapi juga menghasilkan produk hilir bernilai tinggi,” ujar Rachmat.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri mampu mempercepat transformasi industri sawit nasional menjadi sektor yang berbasis teknologi, inovasi, dan nilai tambah tinggi.(HER)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *