PLN EPI Digitalisasi Rumah Bibit Biomassa di Gunungkidul

Dok.PLN EPI

FACEINDONESIA.CO.ID – PT PLN Energi Primer Indonesia atau PLN EPI bersama PT PLN mempercepat modernisasi pertanian melalui program Electrifying Agriculture di Kalurahan Gombang, Gunungkidul, DIY. Program ini dilakukan lewat digitalisasi rumah bibit tanaman energi berbasis Internet of Things (IoT) guna mendukung cofiring di PLTU.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan mengatakan, program tersebut menjadi bagian pengembangan sistem pertanian terpadu untuk menekan emisi gas rumah kaca.

Bacaan Lainnya

“Program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan berbasis masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital agar lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan,” ujar Mamit.

Melalui teknologi IoT, penyiraman bibit tanaman energi seperti indigofera dan kaliandra kini dilakukan otomatis dan dapat dikontrol lewat ponsel.

Sistem ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus menjaga kualitas bibit.
Panewu Kapanewon Ponjong, Asih Tri Wahyuni mengapresiasi inovasi tersebut, terutama untuk wilayah Gunungkidul yang memiliki lahan kering dan kritis.

“Pendampingannya tidak hanya berhenti pada program, tetapi juga sampai masyarakat mampu mandiri mengelola rumah bibit,” katanya.

Sementara itu, Manager PLN UP3 Jogja dan Wonosari, Agung Pratomo menilai kolaborasi ini menjadi model keberlanjutan energi nasional berbasis partisipasi masyarakat.

“Tanaman energi ini nantinya digunakan sebagai campuran bahan bakar batu bara di PLTU melalui cofiring, sehingga masyarakat ikut berkontribusi menjaga keberlanjutan energi,” ujarnya.

Ketua Gapoktan Tani Mulya, Satiman menyebut digitalisasi memudahkan pengelolaan rumah bibit berkapasitas hingga 25 ribu bibit.

“Dengan sistem listrik dan digital ini, pengelolaan rumah bibit menjadi lebih mudah dan efisien. Kami juga lebih yakin menghasilkan bibit berkualitas sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi anggota kelompok,” kata Satiman.

Program berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem energi mandiri di tingkat desa sekaligus menjaga pasokan biomassa nasional secara berkelanjutan. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *