Kisah Dai 3T Menyapa Warga di Ujung Negeri

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari sebuah ruangan sederhana di Desa Kuala Lupak, Kecamatan Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Dari tempat inilah dakwah tumbuh di wilayah yang masuk kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Seorang dai Program Dai 3T Kementerian Agama, Ahmad Rizki, mengabdi dan membina masyarakat setempat. Bagi warga Kuala Lupak, ia bukan hanya penceramah, tetapi juga guru, sahabat, dan rujukan dalam menyelesaikan persoalan keagamaan.

Bacaan Lainnya

Puluhan anak duduk rapi di atas sajadah. Sebagian memegang mushaf, sebagian lainnya menyimak penjelasan. Dengan pengeras suara sederhana, Ahmad Rizki menyampaikan materi akhlak, dasar-dasar ibadah, serta pentingnya cinta tanah air. Meski sarana terbatas, pembinaan berlangsung dengan antusias.

“Di tempat sederhana ini, kami belajar dengan penuh semangat. Anak-anak datang dengan antusias, dan itu menjadi energi bagi saya untuk terus membersamai mereka,” ujar Ahmad Rizki melalui pesan singkat dari Kuala Lupak, Rabu (4/3/2026).

Ia mengatakan, dakwah di wilayah 3T tidak sebatas ceramah, tetapi juga pelayanan keagamaan yang berkelanjutan. “Pelayanan keagamaan adalah bagian dari penguatan umat. Masyarakat di kawasan perbatasan membutuhkan pendampingan berkelanjutan, bukan kegiatan sesaat,” katanya.

Menurutnya, akses pendidikan dan pembinaan keagamaan di wilayah tersebut belum merata. Karena itu, ia berupaya menghadirkan ruang dialog bagi masyarakat. “Kami hadir bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga mendengar, berdialog, dan membantu mencarikan solusi atas persoalan keagamaan yang dihadapi warga,” ujarnya.

Pembinaan yang dilakukan meliputi baca tulis Al-Qur’an, penguatan akidah dan akhlak, praktik ibadah harian, pembinaan remaja masjid, serta layanan konsultasi keagamaan. Anak-anak menjadi prioritas sebagai generasi penerus penjaga nilai agama dan kebangsaan.

“Kami berharap lahir generasi setempat yang mampu menjadi penggerak dakwah. Dakwah akan lebih kuat jika tumbuh dari masyarakat sendiri,” tambah Ahmad Rizki.

Secara terpisah, Pelaksana Tugas Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Ali Sibromalisi, mengungkapkan, program Dai 3T dirancang untuk memperluas akses pembinaan sekaligus memperkuat harmoni sosial.

“Dakwah di wilayah 3T harus mengedepankan moderasi beragama, menghargai kearifan lokal, membangun dialog, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh masyarakat. Dai tidak datang untuk menghakimi, tetapi untuk membersamai,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program diukur dari tumbuhnya kemandirian masyarakat. “Keberhasilan sejati adalah ketika masyarakat mampu melanjutkan pembinaan secara mandiri. Karena itu, kami mendorong lahirnya kader lokal agar keberlanjutan tetap terjaga. Keberlanjutan adalah kunci. Kami ingin cahaya dakwah tetap menyala, bahkan ketika program telah usai,” tandasnya.

Program Dai 3T menjadi upaya menghadirkan pelayanan keagamaan di wilayah terpencil, menumbuhkan harapan di tengah keterbatasan, serta merawat persaudaraan dalam keberagaman di ujung negeri. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *