FACEINDONESIA.CO.ID- Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengajak mahasiswa mengubah pola pikir dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja dengan menjadikan kewirausahaan sebagai salah satu pilihan karier setelah menyelesaikan pendidikan.
Dalam orasi ilmiah di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Kamis (20/8/2026), Menteri Maman mengatakan perubahan pola pikir generasi muda semakin penting di tengah tantangan ketenagakerjaan. Saat ini, sekitar 7,2 juta orang tercatat menganggur di Indonesia, sementara sekitar 85,3 juta pekerja berada di sektor informal.
Menurut Maman, keberhasilan mahasiswa setelah lulus tidak semestinya hanya diukur dari kemampuan mendapatkan pekerjaan, tetapi juga dari keberanian membangun usaha dan menciptakan lapangan kerja.
“Masih sangat jarang yang berpikir, bagaimana caranya saya lulus cepat, setelah itu saya menjadi pencipta pekerja atau entrepreneur,” kata Maman.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendorong mahasiswa menjadikan kewirausahaan sebagai pilihan karier. Kampus dapat menjadi laboratorium sekaligus inkubator untuk melahirkan pengusaha-pengusaha baru.
“Kalau jumlah entitas atau pengusahanya semakin banyak, maka tingkat pertumbuhan ekonomi sebuah negara konsekuensinya akan semakin meningkat. Salah satu solusi untuk menekan angka pengangguran adalah mendorong kampus sebagai laboratorium atau inkubator untuk menghasilkan pengusaha-pengusaha hebat di Tanah Air,” ujarnya.
Maman mencontohkan perjalanan pengusaha Chairul Tanjung yang mulai merintis bisnis sejak mahasiswa dengan berjualan buku dan membuka jasa fotokopi bahan kuliah. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kewirausahaan dapat dimulai dari lingkungan kampus melalui usaha sederhana yang menjawab kebutuhan sekitar.
Potensi wirausaha generasi muda dinilai cukup besar. Berdasarkan data UNDP yang disampaikan Maman, sekitar 81 persen anak muda Indonesia memiliki keinginan menjadi wirausaha. Tantangannya adalah menerjemahkan minat tersebut menjadi usaha yang tumbuh, berkelanjutan, dan mampu membuka lapangan kerja.
Karena itu, Maman mendorong perguruan tinggi memperkuat inkubator bisnis sebagai tempat mahasiswa memperoleh pelatihan, pendampingan, pengembangan model bisnis, hingga akses terhadap ekosistem usaha.
Kementerian UMKM juga siap memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam menyiapkan wirausaha muda secara terstruktur. Pemerintah terus mendorong kemudahan legalitas dan sertifikasi UMKM melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah.
Selain itu, Maman menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar dapat memberikan manfaat ekonomi.
“Sebagus apa pun hasil riset yang dimiliki kampus, jangan hanya menjadi pajangan di laboratorium. Bagaimana hasil riset tersebut mampu memberikan efek atau nilai komersial, memberikan nilai tambah dan pemberdayaan bagi dosen maupun mahasiswa yang terlibat,” katanya.
Mahasiswa juga diminta mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Transformasi digital diperkirakan mengubah berbagai model bisnis sekaligus melahirkan pekerjaan dan peluang usaha baru.
Dalam kesempatan tersebut, Maman turut memperkenalkan SAPA UMKM, terobosan digital Kementerian UMKM untuk memperluas akses layanan bagi sekitar 57 juta UMKM di Indonesia. Platform ini diarahkan untuk menghubungkan pelaku UMKM dengan layanan pelatihan, akses pembiayaan, hingga pemasaran.
Melalui penguatan inkubasi bisnis di perguruan tinggi, hilirisasi riset, kemudahan legalitas, pemanfaatan teknologi, dan perluasan ekosistem usaha, Kementerian UMKM berharap semakin banyak generasi muda berani menjadi pengusaha sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.(SAN)






