Mengenal Jejak Perjuangan Imran Siregar Menjaga Etika Birokrasi Melayani

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Upaya mewujudkan birokrasi melayani sudah dilakukan sejak dulu. Hal ini salah satunya terekam dalam buku “Titian Terjal: 70 Tahun Imran Siregar bin Djadjuang Siregar”.

Buku ini diluncurkan kali pertama pada Kamis (14/5/2026), di Auditorium KH Hasyim Asy’ari, Gedung Pusbangkom BMBPSDM Kementerian Agama RI, Ciputat. Tampak hadir, sejumlah tokoh antara lain Prof Atho’ Mudzhar, Prof Abdurrahman Mas’ud, dan Prof M Ridwan Lubis.

Buku Titian Terjal ini, bukan sekadar otobiografi seorang peneliti senior, melainkan jejak panjang seorang anak kampung yang meniti hidup melalui jalan sunyi pendidikan, kesabaran, dan pengabdian birokrasi.

Peluncuran buku dimulai dengan sambutan atas nama keluarga, diwakili oleh Noval Siregar, putra kedua Imran Siregar. Setelah menyampaikan ucapan terima kasih dan rasa hormat dari kedua orang tuanya atas kehadiran tamu undangan hari itu, Noval berkata:

“Menyimak perjalanan panjang hidup ayah, kami sebagai anak-anaknya, dapat menyimpulkan bahwa ayah kami adalah seorang perintis, bukan pewaris. Kamilah pewarisnya. Melalui tangannya, kami sebagai anak-anaknya, mendapatkan ‘kemudahan’ untuk dapat melanjutkan perjuangan hidup.”

Peneliti Ahli Utama BRIN, Imran Siregar, menegaskan bahwa kehadiran otobiografi ini bukan untuk membangun monumen bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, untuk merawat ingatan tentang bagaimana keluarga menjadi madrasah pertama bagi pembentukan manusia. Baginya, ayah dan ibu bukan sekadar orang tua, tetapi “mahaguru kehidupan” yang mengajarkan ketabahan, kejujuran, dan kemuliaan ilmu.

Buku ini tidak disusun dengan gaya akademik yang dingin dan penuh angka-angka, melainkan dengan denyut pengalaman hidup yang manusiawi. Ia menolak biografi yang hanya menjadi tumpukan prestasi administratif tanpa jiwa. Dengan nada filosofis, ia mengibaratkan biografi akademik yang berlebihan seperti “menggarami lautan yang sudah penuh garam.” Sebuah sindiran halus terhadap tradisi intelektual yang kerap kehilangan kehangatan kemanusiaannya sendiri.

 

Birokrasi Melayani

Imran Siregar mengatakan bahwa upaya mewujudkan birokrasi yang melayani sudah berlangsung sejak dulu. Ia lalu mengenang teladan Profesor Atho’ Mudzhar sebagai sosok yang memandang jabatan bukan singgasana untuk dihormati, melainkan amanah untuk melayani masyarakat.

“Birokrasi yang melayani, bukan birokrat yang dilayani,” demikian pesan yang ia tegaskan. Kalimat itu terdengar seperti mata air di tengah gurun birokrasi Indonesia yang sering kehausan empati. Sebab, ukuran kemuliaan seorang pejabat bukanlah seberapa banyak penghormatan diterimanya, melainkan seberapa jauh ia menghadirkan manfaat bagi manusia lain.

Ketika menyampaikan sambutan atas peluncuran buku “Titian Terjal: 70 Tahun Imran Siregar bin Djadjuang Siregar,” Prof Atho’ Mudzhar memberikan kesaksian yang mengesankan atas isi buku ini. “Saya membaca buku otobiografi Imran Siregar ini dengan penuh minat,” ujar prof Atho’, mantan Kepala Badan Litbang Kementerian Agama RI ini memulai.

“Karena buku ini,” katanya lebih jauh, “dalam setiap tema yang disajikan, selalu digambarkan terlebih dahulu situasi alam di mana peristiwa itu terjadi, sebelum ia masuk menceritakan isi dari peristiwanya. Dilihat dari cara ia menggambarkan peristiwa, saya berpendapat bahwa ia seperti Buya Hamka yang dengan indah menggambarkan alam Minangkabau dalam bukunya “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.” Jadi, kawan kita ini, rupanya sastrawan juga,” ucapnya disambut tawa hadirin.

“Lebih mengejutkan lagi, otobiogari Imran Siregar ini, merupakan otobiografi kedua yang paling komprehensif dalam menggunakan pendekatan filsafat, sejarah, dan sastra, setelah biografi Jean-Jacques Rousseau (1712-1778). Rousseau melalui Confessions sering dianggap membuka tradisi otobiografi modern: pengakuan diri yang sangat personal, filosofis, dan puitik sekaligus. Ia tidak sekadar menceritakan hidup, tetapi membedah batin manusia. Alam, kesunyian, dan renungan menjadi pintu masuk sebelum peristiwa-peristiwa besar hadir,” kata Prof Atho’.

Sementara Hamka, lanjut Prof Atho’, memiliki kekuatan yang hampir serupa dengan Jean-Jacques Rousseau, terutama dalam tradisi Melayu-Islam. Hamka mampu menyatukan sejarah, tasawuf, falsafah hidup, dan sastra dalam satu aliran narasi yang cair. Pembaca merasa sedang diajak berjalan menyusuri sungai kenangan, bukan sedang membaca dokumen biografis yang kaku.

“Karena itu, bagi saya, buku Imran Siregar terasa menarik dan sangat berani bahwa ia memakai pola yang sama—melukis lanskap alam dan suasana batin terlebih dahulu sebelum memasuki inti peristiwa. Teknik seperti itu memang membuat biografi berubah menjadi ‘pengalaman estetik,’ bukan sekadar catatan hidup. Dan sesungguhnya, di situlah letak perbedaan antara biografi biasa dengan biografi yang hidup: yang satu hanya menyusun peristiwa, sementara yang lain menghidupkan kembali ruh zaman,” papar Prof Atho’.

Pada saat yang sama, peluncuran buku ini juga seperti mengetuk kesadaran generasi muda yang sedang hidup di tengah banjir informasi digital dan kecerdasan buatan. Imran mengingatkan bahwa pengetahuan tidak cukup hanya diakses dengan sentuhan jari, tetapi harus diolah dengan kedalaman berpikir dan ketajaman nurani.

Dulu, generasi pembaca harus menekuni kitab-kitab tebal berjilid-jilid dengan kesabaran seorang pengembara ilmu. Kini, manusia sering merasa cukup hanya dengan membaca potongan-potongan informasi yang melintas di layar.

Dari kegelisahan itulah, buku tersebut menemukan relevansinya bahwa peradaban besar tidak pernah lahir dari manusia yang malas berpikir. Ia lahir dari manusia-manusia yang tekun meniti “titian terjal” kehidupan dengan kesabaran, daya kritis, dan kesediaan untuk terus belajar.

Maka, peluncuran “Titian Terjal” sejatinya bukan sekadar perayaan usia 70 tahun seorang intelektual, melainkan ikhtiar menjaga bara keteladanan di tengah zaman yang mulai kehilangan arah moralnya. Buku ini seperti ingin berkata kepada bangsa ini: bahwa ilmu pengetahuan tanpa adab hanya akan melahirkan kecerdasan yang bising, dan birokrasi tanpa nurani hanya akan melahirkan kekuasaan yang dingin.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar kecepatan, Imran Siregar justru mengingatkan kita tentang sesuatu yang lebih penting: kedalaman. Sebab manusia tidak dikenang karena seberapa cepat ia berlari, melainkan karena jejak nilai yang ia tinggalkan setelah dirinya pergi. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *