FACEINDONESIA.CO.ID-Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pendidikan karakter murid di 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) melalui kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dan pencak silat.
Upaya tersebut dilakukan dengan menyiapkan 102 pembina dan pelatih melalui Kursus Pengelola Gugus Depan serta Penataran Pelatih Pencak Silat Nasional yang digelar di Tangerang, Banten.
Program ini merupakan hasil kolaborasi Kemendikdasmen dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI). Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperkuat pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, serta ketangguhan fisik dan mental.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, SNT diarahkan untuk membentuk generasi Indonesia yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki karakter kuat serta keseimbangan jasmani dan rohani.
“Bagaimana agar lembaga pendidikan khususnya sekolah-sekolah unggul ini memang tidak hanya mencetak generasi yang unggul secara intelektual, tapi juga harus anggun secara moral dan memiliki fisik dan jasmani serta rohani yang kuat,” ujar Abdul Mu’ti, Rabu (7/10).
Menurutnya, pendidikan karakter harus dikembangkan secara menyeluruh melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga. Dalam konteks tersebut, Pramuka dan pencak silat menjadi sarana pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada murid.
Pencak silat tidak hanya mengajarkan keterampilan bela diri, tetapi juga melatih pengendalian diri, ketahanan mental, kedisiplinan, dan pembentukan kepribadian. Sementara Pramuka mendorong kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, serta kepedulian sosial.
“Kami memiliki prinsip bahwa mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua itu tidak dapat kita lakukan tanpa dukungan dan partisipasi semesta,” kata Abdul Mu’ti.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Budi Waseso mengatakan, gugus depan memiliki peran penting sebagai wadah pendidikan kepramukaan yang berlangsung secara berkesinambungan.
“Di sanalah peserta didik kita belajar tentang arti kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, kepedulian sosial, serta rasa cinta terhadap tanah air,” ujarnya.
Menurut Budi, pendidikan formal dan kepramukaan harus saling melengkapi. Integrasi kegiatan Pramuka di SNT diharapkan mampu menjadikan gugus depan sebagai wadah pembinaan karakter yang unggul dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Dukungan terhadap pengembangan pencak silat di sekolah juga disampaikan Sekretaris Jenderal PB IPSI Abdul Karim Aljufri. Ia menilai pencak silat memiliki peran strategis dalam menanamkan kedisiplinan, keberanian, sportivitas, pengendalian diri, sekaligus kecintaan terhadap budaya bangsa.
IPSI, kata Abdul Karim, siap bekerja sama dengan Kemendikdasmen untuk meningkatkan kualitas pelatih dan mengembangkan pembelajaran pencak silat di lingkungan sekolah. Peningkatan kompetensi pelatih diharapkan dapat memperkuat pembinaan secara berkelanjutan, baik untuk pembentukan karakter maupun pengembangan prestasi murid.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menjelaskan bahwa 17 SNT yang mulai beroperasi sejak Agustus 2026 telah menjadikan Pramuka dan pencak silat sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler wajib.
Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, Kemendikdasmen menetapkan 102 orang melalui proses seleksi untuk menjadi pembina Pramuka dan pelatih pencak silat di 17 SNT.
Gogot menegaskan, pembekalan para pembina dan pelatih harus menghasilkan tindak lanjut nyata di setiap sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler diharapkan terintegrasi dengan proses pendidikan dan pembentukan karakter murid.
“Selain membangun karakter, kami berharap pembinaan yang terstruktur dapat membuka kesempatan bagi murid untuk mengembangkan bakat dan meraih prestasi, termasuk dalam pencak silat,” ujar Gogot.
Melalui penguatan Pramuka dan pencak silat tersebut, Kemendikdasmen berharap kegiatan ekstrakurikuler di SNT tidak sekadar menjadi rutinitas sekolah. Program ini diharapkan menjadi bagian dari pengalaman belajar yang bermakna sehingga murid tumbuh sebagai generasi yang cerdas, mandiri, tangguh, berkarakter, peduli terhadap sesama, serta memiliki kecintaan terhadap bangsa.(ZID)






