KAI Kaji Sistem Komunikasi Kereta Api Berbasis 5G

FACEINDONESIA.CO.ID- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mulai menyiapkan kajian Future Railway Mobile Communication System (FRMCS), sistem komunikasi perkeretaapian generasi berikutnya berbasis teknologi 5G. Kajian ini dilakukan untuk mendukung peningkatan keselamatan, efisiensi operasional, dan keandalan layanan kereta api dalam jangka panjang.

Pembahasan tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk FRMCS for Train Operation and Services Ultimate Solution di Jakarta Railway Center, Senin (12/10/2026). Kegiatan ini melibatkan KAI, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), akademisi, serta pelaku industri telekomunikasi.

Bacaan Lainnya

Diskusi tersebut membahas berbagai aspek pengembangan FRMCS, mulai dari kebutuhan operasional, kesiapan teknologi, penggunaan frekuensi, skema penyediaan jaringan, pembiayaan, hingga tahapan penerapannya.

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, mengatakan kajian FRMCS harus berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan. Penerapan teknologi baru perlu memberikan manfaat langsung terhadap keselamatan perjalanan, efisiensi, dan keandalan operasional kereta api.

“Teknologi harus menjawab kebutuhan yang nyata. Karena itu, kajian FRMCS melihat berbagai kemungkinan pemanfaatannya, mulai dari komunikasi yang berkaitan dengan keselamatan, pengaturan perjalanan, pemeliharaan sarana dan prasarana, hingga kebutuhan dalam kondisi darurat,” ujar I Gede.

Dalam kajian tersebut, KAI mengidentifikasi sejumlah kebutuhan operasional yang berpotensi didukung FRMCS. Di antaranya komunikasi antara petugas dan pusat kendali, penyampaian informasi posisi kereta api, pemantauan kondisi sarana, pengelolaan perjalanan, pemantauan perlintasan, penanganan gangguan, serta komunikasi dalam situasi darurat.

I Gede menegaskan, sistem komunikasi yang berkaitan langsung dengan keselamatan perjalanan harus memiliki tingkat keandalan lebih tinggi dibandingkan layanan komunikasi umum.

“Dalam operasi kereta api, ada komunikasi yang harus tersedia setiap saat karena berkaitan dengan keselamatan perjalanan. Sistem yang digunakan harus dirancang agar informasi penting dapat tersampaikan secara cepat, aman, dan sesuai prioritas,” katanya.

FRMCS dirancang untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan komunikasi dalam satu jaringan dengan tingkat prioritas berbeda. Melalui pendekatan tersebut, komunikasi untuk keselamatan, operasional, dan fungsi pendukung dapat dikelola sesuai karakteristik serta kebutuhan masing-masing layanan.

KAI Kaji Frekuensi dan Kesiapan Jaringan FRMCS

Aspek penggunaan frekuensi radio menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan sistem komunikasi kereta api berbasis 5G tersebut. Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 8 Tahun 2026 tentang Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia telah mencantumkan pita frekuensi 1.900–1.910 MHz untuk FRMCS dan teknologi lanjutan bagi kebutuhan persinyalan kereta api.

Meski telah tercantum dalam regulasi, pemanfaatan pita frekuensi tersebut masih membutuhkan pengujian dan kajian lanjutan. Langkah ini diperlukan untuk memastikan jaringan mampu mendukung komunikasi perkeretaapian secara stabil dan meminimalkan potensi gangguan dari jaringan lain di sekitarnya.

KAI juga mempertimbangkan kondisi sistem komunikasi perkeretaapian yang saat ini masih beragam. Sebagian layanan masih menggunakan teknologi analog, sedangkan layanan lainnya telah memanfaatkan sistem digital sesuai kebutuhan operasional.

Keberagaman tersebut membuat transisi menuju teknologi baru harus direncanakan secara bertahap. Sistem komunikasi yang sudah digunakan tetap perlu berfungsi selama proses persiapan dan pengembangan FRMCS berlangsung.

“Kita harus melihat kondisi yang ada sekarang, kebutuhan ke depan, kesiapan perangkat, regulasi, investasi, serta proses peralihannya. Perubahan teknologi perlu dirancang dengan hati-hati agar kegiatan operasional tetap berjalan dengan andal,” ungkap I Gede.

Selain kesiapan teknologi, KAI mengkaji sejumlah alternatif penyediaan jaringan komunikasi. Pilihan yang dipertimbangkan mencakup pembangunan dan pengelolaan jaringan secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan operator telekomunikasi.

Setiap alternatif akan dievaluasi berdasarkan kebutuhan operasional, besaran investasi, keamanan jaringan, biaya pengelolaan, serta keberlanjutan pemanfaatannya dalam jangka panjang.

Penerapan FRMCS Direncanakan Bertahap

KAI merencanakan pengembangan FRMCS melalui sejumlah tahapan, dimulai dari pemetaan kondisi sistem komunikasi saat ini dan identifikasi kebutuhan perusahaan. Tahap berikutnya mencakup perancangan sistem, pengujian lapangan, penerapan terbatas sebagai proyek percontohan, hingga kemungkinan pengoperasian secara bertahap.

Rangkaian tersebut masih menjadi rekomendasi awal yang akan dibahas lebih lanjut bersama regulator dan para pemangku kepentingan. Penyusunan peta jalan diperlukan agar setiap tahapan penerapan mempertimbangkan kesiapan teknologi, kebutuhan operasional, regulasi, dan kemampuan investasi.

I Gede menegaskan, kajian FRMCS merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang KAI. Saat ini, perusahaan berfokus mematangkan kajian agar keputusan pengembangan sistem komunikasi ke depan didasarkan pada kebutuhan operasional dan perhitungan yang terukur.

“FRMCS merupakan pembahasan jangka panjang. Fokus kami saat ini adalah memastikan kajiannya matang sehingga setiap keputusan nantinya dibuat berdasarkan kebutuhan operasional, teknologi yang sesuai, perhitungan investasi yang sehat, dan dukungan regulasi. Koordinasi dengan DJKA, Komdigi, akademisi, serta industri menjadi bagian penting dari proses tersebut,” tutup I Gede.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *