Investigasi USTR ke Indonesia Disiapkan, Kadin Pastikan Ekspor Utama Tidak Terdampak

Pemerintah menyiapkan langkah menghadapi investigasi United States Trade Representative (USTR) terhadap Indonesia.

FACEINDONESIA.CO.ID – Pemerintah menyiapkan langkah menghadapi investigasi United States Trade Representative (USTR) terhadap Indonesia. Fokus investigasi mencakup isu dumping dan tenaga kerja paksa.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan persiapan dilakukan bersama dunia usaha. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas industri nasional.

Bacaan Lainnya

“Untuk investigasi ini, persiapan matang harus dilakukan baik oleh pemerintah maupun dunia usaha agar seluruh prosesnya berjalan dengan baik,” ujar Anindya Novyan Bakrie dalam keterangan pers, di Jakarta, Rabu (18/3/2026).

Investigasi tersebut merujuk pada Section 301 Trade Act 1974. Dua isu utama yang disorot adalah kelebihan kapasitas produksi yang memicu dumping dan dugaan tenaga kerja paksa.

Anindya menilai, persiapan ini penting untuk melindungi ekosistem industri dalam negeri. Pemerintah dan pelaku usaha diminta menjaga daya saing di tengah tekanan global.

“Jadi kita mesti berpikir untuk menjaga dan meningkatkan kapasitas industri pada saat ini,” katanya.

Meski ada investigasi, ia menilai situasi masih terkendali. Produk ekspor utama Indonesia ke Amerika Serikat tidak termasuk dalam objek yang diselidiki.

Komoditas seperti alas kaki, tekstil, furnitur, elektronik, hingga minyak kelapa sawit diperkirakan tidak terdampak langsung. Hal ini dinilai menjadi faktor penenang bagi pelaku usaha.

“Yang paling menenangkan adalah seluruh fokus ekspor utama Indonesia tidak masuk dalam subjek investigasi tersebut,” jelasnya.

Dia juga memastikan isu tenaga kerja paksa tidak ditemukan di Indonesia. Regulasi nasional melarang praktik tersebut dalam kegiatan produksi.

Selain itu, isu kelebihan kapasitas yang memicu dumping dinilai tidak relevan. Struktur industri nasional saat ini lebih berfokus pada pemenuhan pasar domestik.

Anindya menekankan, Indonesia tetap perlu optimistis menghadapi dinamika perdagangan global. Peluang pasar baru juga mulai terbuka di kawasan lain.

“Jadi kita mesti berpikir untuk menjaga dan meningkatkan kapasitas pada saatnya,” pungkasnya. (Fjr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *