FACEINDONESIA.CO.ID – Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, menilai proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatera pascagangguan interkoneksi harus dilakukan secara bertahap, terukur, dan mengutamakan stabilitas sistem.
Ia menjelaskan, dalam sistem kelistrikan interkoneksi besar, gangguan dapat berkembang cepat menjadi cascading failure atau efek domino ketika keseimbangan frekuensi dan beban terganggu. Kondisi ini juga pernah terjadi di berbagai negara seperti Amerika Serikat, India, Spanyol, Inggris, hingga Australia Selatan.
Menurutnya, tantangan terbesar justru muncul pada tahap pemulihan (recovery), karena operator harus menjaga kestabilan frekuensi, tegangan, dan sinkronisasi antar pembangkit agar sistem tidak kembali mengalami gangguan.
Abra mencontohkan blackout besar di Amerika Utara tahun 2003, India tahun 2012, serta gangguan di Eropa yang menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam proses penyalaan kembali sistem listrik.
Ia menegaskan, kesalahan sinkronisasi saat proses recovery dapat memicu gangguan lanjutan bahkan blackout ulang, sehingga diperlukan prosedur yang sangat hati-hati.
Pembangkit listrik juga memiliki karakter pemulihan berbeda.
Pembangkit hidro dan gas relatif lebih cepat kembali beroperasi, sementara PLTU membutuhkan waktu lebih lama karena harus melalui proses teknis seperti pemanasan boiler, sinkronisasi frekuensi, hingga stabilisasi sistem.
Proses ini bisa memakan waktu hingga 15–20 jam.
Abra menilai, sistem kelistrikan Sumatera memiliki tantangan tersendiri karena jaringan transmisi yang cenderung memanjang dan minim jalur alternatif. Hal ini membuat gangguan pada satu titik dapat berdampak luas.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan jaringan transmisi melalui konsep Green Enabling Super Grid yang telah masuk dalam RUPTL 2025–2034.
Menurutnya, pembangunan jaringan transmisi modern, smart grid, serta sistem digitalisasi kelistrikan menjadi kunci untuk meningkatkan keandalan sistem sekaligus mendukung transisi energi baru terbarukan.
Ia juga mendorong percepatan investasi pada infrastruktur pendukung seperti gardu induk, sistem proteksi, automatic generation control, battery energy storage system, hingga teknologi pemantauan real-time.
“Transmisi harus menjadi sistem yang adaptif dan cerdas, bukan sekadar infrastruktur pasif,” ujarnya.
Abra menutup dengan menegaskan bahwa penguatan sistem transmisi harus dipandang sebagai investasi ketahanan ekonomi nasional, bukan hanya kebutuhan teknis sektor kelistrikan. (San)





