FACEINDONESIA.CO.ID- Pemerintah mempercepat transisi energi menuju penggunaan energi bersih untuk meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan nilai tambah produk, menarik investasi, serta membuka peluang lapangan kerja baru.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan tren perdagangan dunia semakin mengarah pada produk yang dihasilkan melalui proses industri ramah lingkungan dan menggunakan energi bersih.
“Produk yang menggunakan energi bersih dan industri hijau nilainya pasti jauh lebih tinggi dibandingkan produk yang dihasilkan dari energi fosil,” ujar Bahlil saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (14/10/2026).
Menurut Bahlil, penggunaan energi dalam proses produksi kini menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam perdagangan internasional, selain harga dan kualitas produk. Karena itu, transisi energi menjadi bagian penting dari strategi industrialisasi nasional untuk menekan emisi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA).
Komitmen pemerintah tersebut tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Melalui rencana ini, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan sekitar 42,6 GW atau 61 persen di antaranya berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT).
Pengembangan sektor ketenagalistrikan tersebut diperkirakan membuka peluang investasi hingga Rp2.967,4 triliun. Pemerintah juga mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GW yang terintegrasi dengan jaringan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Selain itu, pengembangan ekosistem baterai serta pemanfaatan bioenergi melalui penerapan biodiesel B50 dan bioetanol E20 menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor energi. Strategi ini sekaligus diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik dan memperkuat industri nasional.
Bahlil menjelaskan, pengembangan energi surya diproyeksikan mampu menghasilkan penghematan sekitar Rp73,9 triliun per tahun dan membuka peluang kerja bagi 5,5 juta orang. Sementara itu, pengembangan bioenergi berpotensi menghemat devisa hingga Rp170 triliun dan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
Menurutnya, penguatan industri hilir yang didukung pasokan energi bersih dapat memperkokoh posisi Indonesia dalam perdagangan internasional. Pemanfaatan energi rendah emisi juga diharapkan membantu industri menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang lebih kompetitif di pasar global.
“Kalau ini mampu kita lakukan, saya yakin Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan untuk ekspor berkualitas dan mampu memberikan daya saing yang baik di mata dunia,” kata Bahlil.
Sinergi hilirisasi dan transisi energi diharapkan mempercepat transformasi ekonomi Indonesia, dari yang sebelumnya mengandalkan ekspor bahan mentah menjadi produsen barang olahan bernilai tambah tinggi.
Dengan pasokan energi yang andal dan lebih ramah lingkungan, Indonesia berpeluang memperkuat industri nasional, menarik investasi baru, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan daya saing ekspor di tengah tuntutan pasar global terhadap produk berkelanjutan.(ZID)






