FACEINDONESIA.CO.ID – PT Kereta Api Indonesia (Persero) sepanjang tahun 2025 menghadirkan Rail Clinic sebagai layanan kesehatan bergerak yang melaju menyapa masyarakat di sekitar jalur rel. Melalui 19 kegiatan di berbagai wilayah, Rail Clinic mencatat 8.374 kunjungan warga, meningkat dibandingkan 7.076 kunjungan pada 2024 dan 5.101 kunjungan pada 2023. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kehadiran layanan kesehatan dan edukasi berbasis rel semakin dibutuhkan oleh masyarakat.
Rail Clinic singgah di berbagai lokasi, antara lain Stasiun Serang, Stasiun Klari, Stasiun Cikadongdong, Stasiun Manonjaya, Stasiun Arjawinangun, Stasiun Kedungjati, Stasiun Kebasen, Stasiun Pasarnguter, Klinik Mediska Madiun, PP Kanzul Ulum Madiun, PP Al Fatah Temboro Magetan, Stasiun Krian, Stasiun Ledokombo, Stasiun Siantar, Stasiun Bajalingge, Stasiun Simpang, Stasiun Payakabung, Stasiun Kotabumi, dan Stasiun Tegineneng. Setiap perhentian menjadi ruang temu antara kebutuhan masyarakat dan kepedulian perusahaan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa Rail Clinic dirancang sebagai jembatan empati antara KAI dan masyarakat di sekitar jalur kereta api.
“Di sepanjang rel itu ada kehidupan, ada keluarga, ada anak-anak, dan ada harapan. Rail Clinic kami hadirkan agar masyarakat di sekitar jalur kereta api dapat merasakan akses layanan kesehatan dan edukasi yang layak, dekat, dan tanpa biaya. Ketika kereta api berhenti, yang kami bawa adalah kepedulian,” ujar Anne.
Di setiap lokasi, Rail Clinic menghadirkan layanan kesehatan gratis yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Pemeriksaan dokter umum, kesehatan gigi, kesehatan ibu dan anak, pemeriksaan mata, hingga laboratorium sederhana dilakukan oleh tenaga medis profesional. Layanan ini dilengkapi pemberian obat dan kacamata sesuai kebutuhan, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, edukasi TBC, serta penguatan kesadaran keselamatan perjalanan kereta api.
Sejumlah kegiatan Rail Clinic juga menghadirkan Rail Library, ruang literasi berjalan dengan koleksi buku bacaan fisik dan e-library. Dari total kunjungan Rail Clinic sepanjang 2025, 828 kunjungan tercatat pada kunjungan Rail Library. Anak-anak membaca, orang tua mengenal literasi digital, dan keluarga membawa pulang pengalaman belajar yang membekas. Pada kesempatan yang sama, Rail Clinic juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil dan anak sekolah sebagai dukungan gizi bagi keluarga.
Rail Clinic dirancang sebagai poliklinik berjalan yang memanfaatkan jaringan rel kereta api untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses kendaraan darat. Kereta api ini singgah di stasiun-stasiun tertentu sesuai jadwal, dan masyarakat dapat langsung datang untuk memperoleh layanan tanpa biaya. Pendekatan ini menjadikan rel sebagai penghubung layanan kesehatan, edukasi, dan interaksi sosial yang bermakna.
Melalui Rail Clinic, KAI menegaskan perannya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar jalur kereta api. Data kunjungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa layanan kesehatan dan literasi berbasis rel memberi dampak nyata.
“Program ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan KAI dalam mendukung kualitas hidup masyarakat, sekaligus menghadirkan wajah transportasi publik yang peduli, hangat, dan dekat dengan keseharian,” tutup Anne. (San)





