FACEINDONESIA.CO.ID-PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat volume angkutan barang non-batu bara mencapai 9,15 juta ton sepanjang Januari–September 2026. Angka ini meningkat 2,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 8,91 juta ton, dengan kontribusi utama berasal dari wilayah Jawa dan Sumatra.
Berdasarkan laporan kinerja angkutan barang KAI, total volume angkutan non-batu bara mencapai 9.148.571 ton hingga September 2026. Layanan ini mencakup berbagai komoditas, mulai dari barang industri, petikemas, bahan bakar minyak (BBM), hasil perkebunan, hingga barang ritel.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan setiap wilayah memiliki karakteristik ekonomi dan kebutuhan distribusi yang berbeda. Karena itu, pengelolaan angkutan barang perlu disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, kesiapan jalur, serta kapasitas operasional.
“Setiap wilayah memiliki kegiatan ekonomi dan kebutuhan distribusi yang berbeda. Jaringan kereta api membantu menghubungkan kebutuhan tersebut melalui layanan angkutan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing koridor,” ujar Anne.
Dari total volume tersebut, wilayah Jawa menyumbang 6.684.683 ton atau sekitar 73 persen. Sementara itu, Sumatra mencatat 2.463.889 ton, setara dengan sekitar 27 persen dari keseluruhan angkutan barang non-batu bara KAI.
Di Jawa, Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta menjadi penyumbang volume terbesar dengan 2.567.115 ton. Posisi berikutnya ditempati Daop 8 Surabaya sebanyak 2.260.233 ton dan Daop 5 Purwokerto sebesar 1.006.418 ton. Angkutan barang juga dilayani di enam daerah operasi lainnya sesuai kebutuhan distribusi setiap wilayah.
Adapun di Sumatra, Divisi Regional (Divre) II Sumatera Barat mencatat volume 893.635 ton, disusul Divre III Palembang sebanyak 646.893 ton, Divre I Sumatera Utara sebesar 626.185 ton, serta Divre IV Tanjungkarang sebanyak 297.175 ton selama Januari–September 2026.
Anne menjelaskan, kelancaran angkutan barang membutuhkan perencanaan yang mencakup kesiapan sarana, kapasitas lintas, fasilitas pemuatan dan pembongkaran, serta kepastian jadwal pengiriman.
Menurutnya, pengembangan layanan angkutan kereta api perlu mempertimbangkan potensi wilayah dan kebutuhan industri agar distribusi barang dapat berlangsung lebih efektif.
“Ketika kapasitas kereta, kesiapan prasarana, dan pola pengiriman dapat direncanakan dengan baik, transportasi berbasis rel memiliki ruang untuk melayani lebih banyak kebutuhan distribusi,” katanya.
Ke depan, KAI akan terus mengevaluasi peluang pengembangan angkutan barang berdasarkan potensi daerah, kebutuhan pelanggan, dan kesiapan jaringan. Langkah ini diharapkan memperkuat peran kereta api sebagai alternatif transportasi logistik untuk mendukung distribusi barang antardaerah dan aktivitas ekonomi nasional.
“Setiap wilayah memiliki peran dalam pergerakan logistik nasional. KAI ingin memastikan jaringan dan layanan angkutan barang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan pelanggan, dengan perencanaan yang terukur dan operasional yang andal,” tutup Anne.(ZID)






