FACEINDONESIA.CO.ID-Aktivitas pelanggan kereta api di sejumlah stasiun di Jawa dan Sumatra menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang Januari–September 2026. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat Stasiun Bogor Paledang menjadi salah satu stasiun dengan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 108,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan data KAI, aktivitas naik dan turun pelanggan di Stasiun Bogor Paledang meningkat dari 395.471 aktivitas pada Januari–September 2025 menjadi 825.011 aktivitas pada periode yang sama 2026.
Pertumbuhan juga terjadi di Stasiun Purwakarta, Jawa Barat, yang mencatat kenaikan 59,14 persen, dari 201.953 menjadi 321.384 aktivitas. Sementara itu, Stasiun Air Tawar di Sumatra Barat mengalami peningkatan 27,66 persen, dari 258.929 menjadi 330.554 aktivitas.
Stasiun Purwosari di Solo mencatat 494.319 aktivitas, tumbuh 22,17 persen. Adapun Stasiun Karawang mencapai 306.533 aktivitas atau meningkat 21,98 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan mobilitas masyarakat yang tersebar di berbagai wilayah, dengan karakteristik perjalanan yang beragam.
“Yang menarik dari data ini adalah pertumbuhan muncul dengan karakter wilayah yang berbeda. Ada kota penyangga metropolitan, pusat kegiatan regional, kawasan pendidikan, kota industri, sampai destinasi perjalanan masyarakat. Kereta api digunakan untuk kebutuhan yang semakin beragam,” ujar Anne dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2026).
Selain stasiun-stasiun tersebut, pertumbuhan aktivitas pelanggan juga tercatat di sejumlah wilayah lainnya. Stasiun Semarang Tawang membukukan 3.329.748 aktivitas atau meningkat 16,68 persen. Stasiun Cilacap mencapai 358.605 aktivitas, tumbuh 17,51 persen, sedangkan Stasiun Baturaja di Sumatra Selatan mencatat 293.252 aktivitas atau naik 16,57 persen.
Di Sumatra, Stasiun Tanjungkarang mencatat 562.993 aktivitas, meningkat 13,99 persen. Stasiun Kertapati mencapai 862.450 aktivitas atau tumbuh 13,78 persen, sementara Stasiun Padang membukukan 921.282 aktivitas, naik 13,74 persen.
Pertumbuhan juga terjadi di stasiun dengan volume pelanggan besar. Stasiun Purwokerto mencatat 2.770.189 aktivitas atau meningkat 12,41 persen. Sementara itu, Stasiun Surabaya Pasarturi mencapai 2.789.112 aktivitas, tumbuh 12,32 persen dibandingkan Januari–September 2025.
Anne menjelaskan, aktivitas stasiun dihitung berdasarkan akumulasi pelanggan yang naik dan turun kereta api. Indikator tersebut menggambarkan intensitas penggunaan stasiun sebagai titik keberangkatan maupun tujuan perjalanan masyarakat.
“Setiap stasiun punya cerita pergerakan yang berbeda. Purwokerto dan Surabaya Pasarturi memiliki volume besar, sementara Bogor Paledang dan Purwakarta memperlihatkan laju pertumbuhan yang tinggi. Data seperti ini membantu kami melihat bagaimana kebutuhan perjalanan berkembang dari satu daerah ke daerah lain,” katanya.
Peningkatan aktivitas stasiun tersebut berlangsung di tengah tingginya mobilitas masyarakat secara nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perjalanan wisatawan nusantara mencapai 104,30 juta perjalanan pada Agustus 2026, meningkat 11,47 persen dibandingkan Agustus 2025.
Menurut Anne, data perjalanan wisatawan nusantara dan aktivitas pelanggan stasiun merupakan indikator yang berbeda. Meski demikian, kedua data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai dinamika pergerakan masyarakat antardaerah.
KAI memanfaatkan perkembangan aktivitas pelanggan sebagai bahan evaluasi untuk menyesuaikan kebutuhan pelayanan di setiap stasiun. Evaluasi mencakup kapasitas ruang pelanggan, pola perjalanan, jadwal kereta api, hingga akses menuju dan dari stasiun.
“Pertumbuhan pelanggan perlu dibaca sampai tingkat stasiun karena kebutuhan setiap daerah berbeda. Ada stasiun yang berkembang bersama kawasan wisata, pendidikan, industri, pusat pemerintahan, maupun aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari,” ujar Anne.
KAI akan terus memantau data perjalanan untuk memahami perubahan kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah operasional. Langkah ini diharapkan dapat mendukung penyediaan layanan kereta api yang sesuai dengan karakteristik dan perkembangan mobilitas masyarakat di setiap daerah.
“Ketika aktivitas stasiun meningkat, artinya semakin banyak perjalanan masyarakat yang bertemu dengan jaringan kereta api. Kami ingin pertumbuhan itu diikuti layanan yang relevan dengan karakter masing-masing daerah,” tutup Anne.(ZID)






