PLN EPI Perkuat Reputasi Lewat Kolaborasi dan Komunikasi Strategis

FACEINDONESIA.CO.ID- PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi strategis untuk memperkuat reputasi perusahaan serta membangun kepercayaan publik. Publikasi dinilai belum cukup untuk menciptakan kredibilitas tanpa dukungan nyata dan keterlibatan para pemangku kepentingan.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, dalam konferensi The 8th Anugerah HUMAS INDONESIA (AHI) 2026 di Monumen Pers Nasional, Surakarta, Rabu (7/10/2026). Forum bertema “Membangun Transparansi, Menguatkan Kepercayaan Publik” itu dihadiri sejumlah praktisi komunikasi dari institusi pemerintah dan korporasi.

Bacaan Lainnya

Dalam paparannya bertajuk From Communication to Trust: Mengelola Stakeholder dan Reputasi di Tengah Ekspektasi Publik, Mamit menjelaskan bahwa bisnis energi primer, meliputi gas, gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), batu bara, dan biomassa, membutuhkan komunikasi yang efektif untuk membangun kepercayaan pemerintah, regulator, mitra bisnis, media, serta masyarakat.

Menurut Mamit, kepercayaan dalam bisnis yang melibatkan pemerintah dan mitra antarlembaga tidak cukup dibangun melalui luasnya jangkauan publikasi. Kredibilitas juga membutuhkan legitimasi dan dukungan nyata dari para pemangku kepentingan.

PLN EPI menerapkan pendekatan komunikasi inform, engage, dan trust untuk mendukung pengembangan infrastruktur energi, terutama proyek gasifikasi pembangkit. Strategi tersebut dilakukan melalui pemetaan pemangku kepentingan, komunikasi yang konsisten, serta penguatan kerja sama dengan pemerintah dan mitra strategis.

Salah satu implementasinya adalah program komunikasi GASKITA yang mendukung pengembangan infrastruktur gasifikasi PLN EPI. Program ini mencatat peningkatan jumlah pemberitaan dari 758 publikasi pada Agustus 2025 menjadi 1.194 pemberitaan hingga Juli 2026. Capaian tersebut menunjukkan kenaikan sekitar 57 persen.

Meski demikian, Mamit menegaskan bahwa jumlah pemberitaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan komunikasi perusahaan. Dukungan pemangku kepentingan, legitimasi institusional, serta kesinambungan kolaborasi juga menjadi faktor penting dalam menjaga kredibilitas.

Ia menjelaskan, strategi komunikasi PLN EPI diawali dengan pemetaan pemangku kepentingan berdasarkan tingkat pengaruh (power) dan kepentingan (interest). Pendekatan kemudian dilakukan kepada regulator, kepala daerah, mitra bisnis, hingga media untuk membangun hubungan yang saling mendukung.

Sementara itu, pendiri sekaligus CEO Humas Indonesia, Asmono Wikan, menyoroti pentingnya transparansi dan komunikasi dialogis dalam membangun kepercayaan publik. Menurutnya, fungsi kehumasan perlu berkembang dari sekadar menyampaikan informasi menjadi ruang dialog yang mampu menjawab kebutuhan dan ekspektasi masyarakat.

Konferensi AHI 2026 juga menghadirkan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Publik Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Mochamad Akbar Hadi Prabowo serta Direktur Kerja Sama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University Alfian Helmi.

Melalui penguatan komunikasi korporasi, PLN EPI berupaya menjaga reputasi perusahaan sekaligus mendukung pengembangan sektor energi nasional. Bagi perusahaan, publikasi berperan meningkatkan visibilitas, kolaborasi memperkuat legitimasi, sedangkan konsistensi menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan jangka panjang.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *