FACEINDONESIA.CO.ID- PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo, anggota holding Asuransi dan Penjaminan Indonesia Financial Group (IFG) dan bagian dari Danantara, menggelar edukasi literasi keuangan dan asuransi bertajuk Financial Survival Kit: Pentingnya Proteksi Bagi Gen Z di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU), Medan.
Direktur Utama Askrindo R. Mahelan Prabantarikso mengatakan, kegiatan tersebut menyasar mahasiswa yang aktif menggunakan teknologi digital, namun masih menghadapi kesenjangan dalam pemahaman dan pemanfaatan produk asuransi.
Berdasarkan hasil SNLIK 2026 yang dirilis OJK, LPS, dan BPS pada Agustus 2026, indeks literasi asuransi turun menjadi 42,84 persen dari 45,45 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, inklusi asuransi baru mencapai 29,55 persen.
“Pemahaman masyarakat terhadap keuangan secara umum meningkat, tetapi terhadap asuransi justru mundur. Ini bukan angka yang bisa kita biarkan, apalagi bagi generasi muda yang akan menjadi tulang punggung ekonomi dalam 5 sampai 10 tahun ke depan,” ujar Mahelan, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya Gen Z Paradox, yakni generasi yang sangat terkoneksi secara digital tetapi masih rentan terhadap risiko keuangan yang tidak terkelola.
Data menunjukkan 64,9 persen pengguna pinjaman online berusia 19-34 tahun, dengan 58 persen di antaranya menggunakannya untuk kebutuhan gaya hidup, bukan produktif.
“Mereka sangat digital literate, tapi belum financially literate. Akses digital membuka peluang besar, tapi juga membawa risiko baru, mulai dari konsumsi impulsif, penipuan digital, sampai keputusan finansial tanpa pendampingan yang memadai,” jelas Mahelan.
Dalam kegiatan tersebut, Mahelan memperkenalkan formula pengelolaan keuangan empat tahap, yakni menghasilkan (earn), mengelola (manage), melindungi (protect), dan mengembangkan (grow).
Ia menekankan, aspek perlindungan melalui asuransi kerap menjadi bagian yang terlewat oleh generasi muda.
“Penghasilan besar bukan jaminan aman secara finansial. Sepertiga orang berpenghasilan tinggi tetap mengalami stres finansial. Yang membedakan mereka yang bertahan adalah kesiapan, bukan sekadar kemampuan,” katanya.
Pemilihan FEB USU menjadi bagian dari strategi Askrindo memperluas edukasi keuangan dan asuransi hingga ke luar Pulau Jawa. Pihak kampus menyambut positif kegiatan tersebut karena mahasiswa membutuhkan pemahaman praktis dari pelaku industri asuransi.
Kegiatan di FEB USU merupakan bagian dari rangkaian program edukasi Askrindo sepanjang 2026. Program ini menegaskan komitmen perusahaan tidak hanya dalam bidang penjaminan dan asuransi, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perlindungan finansial.
“Proteksi bukan karena kita takut pada masa depan, tapi karena kita ingin tetap bisa melangkah saat hal tak terduga terjadi. Bermimpilah besar, mulailah dari hal kecil, dan persiapkan sedini mungkin,” pungkas Mahelan.(ZID)






