FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kesadaran sekaligus mendorong aksi nyata pelestarian keanekaragaman hayati.
Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen, Moch. Abduh, saat membuka The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB) 2026 di Bogor, Senin (5/10).
Abduh mengatakan, keanekaragaman hayati merupakan fondasi kehidupan yang mendukung sistem pangan, perekonomian, warisan budaya, dan keseimbangan ekologi. Namun, kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, degradasi lahan, serta pembangunan yang tidak berkelanjutan menjadi tantangan yang membutuhkan kolaborasi lintas negara dan disiplin ilmu.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk pola pikir, sikap, dan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan.
“Sekolah juga tidak terpisah dari lingkungannya. Lingkungan itu sendiri seharusnya menjadi ruang kelas hidup,” ujar Abduh dalam ICTB 2026 sekaligus peluncuran Program Praktik Baik Guru Berkelanjutan (PROTIBAGURU).
Ia menjelaskan, hutan, sungai, gunung, kawasan pesisir, hingga taman nasional dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kondisi nyata di lapangan.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, menambahkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati tidak dapat dilakukan oleh satu negara atau lembaga saja. Diperlukan keterhubungan antara sains, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan kolaborasi regional.
Koordinator ICTB 2026, Dewi Suryani, mengatakan konferensi tersebut menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengembangan kolaborasi di bidang biologi tropis.
ICTB 2026 menerima 51 makalah dan karya penelitian, terdiri dari 43 presentasi lisan dan delapan presentasi poster. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta, termasuk mahasiswa, guru, dan pemakalah dari sembilan negara.
Sementara itu, Deputy Director for Programme and Development SEAMEO Secretariat, John Arnold Sasi Siena, menekankan pentingnya strategi pelestarian, penelitian, dan tata kelola keanekaragaman hayati yang melampaui batas geografis.
Presiden IPB University sekaligus anggota Governing Board SEAMEO BIOTROP dari Indonesia, Alim Setiawan, menambahkan bahwa pengetahuan ilmiah perlu diterapkan dalam kebijakan dan praktik nyata.
Menurut Alim, pelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan pendidikan, literasi lingkungan, inovasi teknologi, serta kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga penelitian, masyarakat, dan sektor swasta.
ICTB 2026 diharapkan dapat memperluas jejaring kolaborasi serta menghasilkan peluang kerja sama di bidang penelitian, pendidikan, dan penerapan di masyarakat untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.(ZID)






