FACEINDONESIA.CO.ID- PT Pupuk Indonesia (Persero) akan mereinvestasikan peningkatan kinerja keuangan perusahaan untuk membangun dan merevitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun ke depan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, penguatan kinerja keuangan memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas industri sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian industri nasional.
“Pertumbuhan kinerja tidak berhenti sebagai capaian finansial saja, tetapi menjadi ruang bagi perusahaan untuk terus membangun kapasitas industri yang dibutuhkan Indonesia dalam jangka panjang,” ujar Rahmad di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Pada Semester I 2026, Pupuk Indonesia mencatat laba bersih Rp8,51 triliun, melonjak 253 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga naik 51 persen menjadi Rp59,67 triliun, sedangkan EBITDA tumbuh 140 persen menjadi Rp14,28 triliun.
Kinerja tersebut didukung peningkatan volume produksi dan efisiensi biaya operasional. Transformasi bisnis dilakukan melalui penguatan operasional dan digital, penyederhanaan bisnis, optimalisasi distribusi pupuk bersubsidi, serta penguatan bisnis komersial.
Delapan proyek yang akan dibangun dan direvitalisasi meliputi Amurea Pusri IIIB, Amurea Papua Barat, Amurea PIM III, serta Pabrik NPK Steam Granulasi Gresik.
Selain sektor pupuk, Pupuk Indonesia mengembangkan bisnis kimia bernilai tambah melalui proyek Soda Ash di Bontang dan Gresik, serta hilirisasi gas bumi melalui proyek metanol di Lhokseumawe dan Bontang.
Perusahaan juga memiliki rencana jangka panjang untuk mengembangkan Kawasan Industri Pupuk Fakfak di Papua Barat serta pembangunan pabrik amonia dan urea di Maluku.
Menurut Rahmad, pengembangan tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai tambah sumber daya alam, membuka lapangan kerja, memperkuat ekosistem industri nasional, dan mendorong pertumbuhan ekonomi baru, khususnya di Indonesia Timur.
Dengan kapasitas produksi sekitar 14,8 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia terus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri. Perusahaan juga melakukan revitalisasi pabrik, menambah kapasitas produksi, serta melakukan diversifikasi usaha untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
Pada 2025, Pupuk Indonesia menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi, meningkat 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penyaluran tersebut didukung sistem i-Pubers, Command Center, serta penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025.
Rahmad menegaskan, keberhasilan transformasi Pupuk Indonesia tidak hanya diukur dari kinerja keuangan dan jumlah produksi, tetapi juga dari kontribusi perusahaan dalam memudahkan petani memperoleh pupuk, memperkuat industri nasional, serta mendukung keberlanjutan swasembada pangan.(ZID)






