KS Orka Gunakan Teknologi Adaptif untuk Jaga Produksi Panas Bumi

FACEINDONESIA.CO.ID- PT KS Orka Renewables mengandalkan teknologi adaptif untuk menjaga produksi listrik panas bumi di tengah perubahan kondisi reservoir. Pendekatan tersebut diperkenalkan dalam The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta.

Chief Operation Officer KS Orka Renewables Pte. Ltd. Dr. Yan Tang mengatakan, perubahan tekanan, temperatur, entalpi, dan laju aliran reservoir dapat memengaruhi produksi pembangkit. Karena itu, sistem pembangkit perlu menyesuaikan kondisi reservoir agar potensi energi panas bumi tetap optimal sepanjang umur lapangan.

“Ketika karakteristik reservoir berubah, sebagian sumber daya panas bumi tidak lagi sesuai dengan sistem pembangkitan terpasang,” ujar Yan dalam pleno IIGCE 2026, Kamis (20/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Yan memperkenalkan Reservoir-Adaptive Geothermal Power Plant (RAGPP), sistem pembangkit yang dapat menyesuaikan konfigurasi berdasarkan kondisi reservoir.

Teknologi ini menggabungkan steam screw expander, Organic Rankine Cycle (ORC) untuk uap basah, serta ORC brine. Kombinasi tersebut memungkinkan energi panas bumi diekstraksi secara bertahap, mulai dari tekanan, panas laten uap, hingga panas sensibel brine.

Sistem modular ini memungkinkan konfigurasi pembangkit disesuaikan ketika karakteristik sumur berubah selama masa produksi.

“Tujuannya bukan hanya memaksimalkan kapasitas awal, tetapi memaksimalkan akumulasi listrik sepanjang umur reservoir,” kata Yan.

Penerapan pendekatan tersebut terlihat pada Sorik Marapi Geothermal Power Plant (SMGP) di Sumatera Utara. Pengembangan SMGP dimulai melalui pengeboran sumur pertama pada Oktober 2016 dan menghasilkan lima unit pembangkit dalam delapan tahun.

Unit pertama beroperasi secara komersial pada Oktober 2019, sedangkan unit kelima mulai beroperasi pada Desember 2024.

Dalam pengujian Unit Rated Capacity (URC) pada Desember 2024, lima unit pembangkit menghasilkan 202,69 megawatt (MW) bruto atau 177,57 MW bersih.

Pembangkitan bersih SMGP meningkat dari 84,80 gigawatt jam (GWh) pada 2019 menjadi 1.445,97 GWh pada 2025. Sementara pada Januari-Juni 2026, pembangkitan mencapai 695,23 GWh dengan kinerja pembangkit tetap di atas 90 persen.

Pada 2025, SMGP mencatat availability factor 94,5 persen dan net capacity factor 99,9 persen. Pada Januari-Juni 2026, masing-masing mencapai 93,6 persen dan 99,8 persen.

Salah satu penerapan teknologi adaptif dilakukan pada sumur T-10 yang mengalami perubahan karakteristik reservoir. Sumur tersebut dialihkan dari sistem tekanan tinggi 10,7 bar(a) menuju sistem tekanan menengah 5,7 bar(a).

Penyesuaian itu memungkinkan sumur tetap berkontribusi terhadap pembangkitan tanpa memerlukan modifikasi besar pada fasilitas.

Menurut Yan, fleksibilitas sistem dapat mengurangi risiko sumur kehilangan fungsi ketika tekanan reservoir menurun.

“Sumur tidak harus langsung dianggap tidak produktif ketika tekanannya menurun, karena sistem pembangkit dapat disesuaikan,” jelasnya.

Yan menambahkan, pengembangan panas bumi membutuhkan investasi besar dengan risiko tinggi sehingga kepastian operasi menjadi penting. Teknologi adaptif dinilai dapat membantu menjaga pemanfaatan sumber daya sekaligus mengantisipasi perubahan kondisi lapangan dalam jangka panjang.

Sementara itu, VP Corporate Stakeholder and Relation KS Orka Ali Sahid mengatakan, pengembangan panas bumi Indonesia masih memiliki peluang yang besar.

Menurut Ali, Indonesia memiliki lebih dari 300 lapangan panas bumi, tetapi baru sekitar 16 lapangan yang beroperasi. Artinya, masih terdapat sekitar 280 lapangan yang berpotensi dikembangkan.

“Transisi menuju Net Zero Emission 2060 tidak bisa dihindari. Ini tidak menjadi pilihan lagi tapi menjadi keharusan bagi Indonesia,” tegas Ali.

Namun, pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama perizinan dan koordinasi lintas sektor. Proses pengeboran awal membutuhkan sejumlah izin yang melibatkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, serta sektor kehutanan dan lingkungan.

Lokasi proyek yang umumnya berada di kawasan terpencil sekitar gunung berapi juga menjadi tantangan. Kondisi tersebut berkaitan dengan akses pendidikan, kesehatan, pendapatan masyarakat, serta penerimaan terhadap kegiatan proyek.

Perkuat Keterlibatan Masyarakat

Untuk menangani persoalan sosial, KS Orka menerapkan Grievance Mechanism atau mekanisme keluhan bagi masyarakat terdampak.

Setiap keluhan dapat ditindaklanjuti bersama pemerintah setempat dan pihak independen agar persoalan dapat diperiksa secara terbuka.

KS Orka juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui Corporate Social Responsibility (CSR), Local Business Development (LBD), dan Community Based Security.

Program tersebut mencakup bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, sosial budaya, serta pemberian kesempatan kerja bagi pelaku usaha lokal.

Di SMGP, sekitar 600-700 orang menerima manfaat CSR. Sebanyak 1.100 orang memperoleh BPJS melalui Gerakan Lingkar, sedangkan 150 orang mendapatkan pekerjaan melalui program LBD.

Kasus sosial di sekitar wilayah operasi juga turun dari 107 kasus pada 2022 menjadi 34 kasus pada 2024. Hingga 2026, Ali menyebut hanya terdapat satu kasus sosial yang tercatat.

Selain SMGP, KS Orka mengembangkan proyek Sokoria di Nusa Tenggara Timur dengan kapasitas 8 MW. Perusahaan berencana menambah Unit 3 berkapasitas 11 MW pada tahun depan serta melakukan pengeboran baru di SMGP pada 2027.

Bagi KS Orka, pengembangan panas bumi tidak hanya mengenai penambahan kapasitas listrik. Teknologi yang mampu beradaptasi dengan kondisi reservoir dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan pembangkit serta memperpanjang manfaat ekonomi proyek.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *