FACEINDONESIA.CO.ID- PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), memperluas pemanfaatan gas bumi melalui skema Compressed Natural Gas (CNG) di Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan.
Pengembangan CNG menyasar berbagai sektor, mulai dari komersial, perhotelan, kuliner, industri, UMKM hingga fasilitas pelayanan masyarakat.
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, mengatakan CNG menjadi salah satu pilihan energi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha.
“Kami melihat ini bukan soal menggantikan satu energi dengan energi lain, melainkan memperluas pilihan. Masyarakat maupun pelaku usaha membutuhkan akses terhadap beragam sumber energi yang andal, terjangkau, dan berbasis sumber daya dalam negeri,” ujar Santiaji, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, pengembangan CNG dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar dan kesiapan infrastruktur. Kehadiran CNG diharapkan memperluas pilihan energi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
“Semakin beragam pilihan energi yang tersedia, semakin kuat ketahanan energi kita sebagai bangsa. CNG hadir sebagai salah satu opsi yang melengkapi energi eksisting dalam kerangka bauran energi nasional,” katanya.
Saat ini, PGN Gagas melayani 20 pelanggan di wilayah Jawa Tengah bagian selatan dengan volume penyaluran sekitar 74.000 meter kubik per bulan. Wilayah layanan mencakup Sukoharjo, Yogyakarta, dan Magelang.
Gas bumi melalui skema CNG dapat dikirim menggunakan Gas Transportation Module (GTM) dari sumber pasokan menuju lokasi pelanggan. Model point to point ini memungkinkan gas bumi menjangkau pelanggan yang belum terhubung jaringan pipa.
Pengembangan CNG dinilai memiliki peluang di Yogyakarta seiring pertumbuhan sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, UMKM, dan jasa. Berbagai sektor tersebut membutuhkan energi untuk kegiatan memasak, pemanas, produksi makanan hingga laundry.
SPPG Jadi Salah Satu Pengguna CNG
Salah satu pelanggan PGN Gagas adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cepit Kulon, Kabupaten Magelang, yang dikelola Yayasan Cahaya Arsa Madani.
Pemanfaatan CNG di SPPG tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan memasak dan pengolahan makanan yang dilakukan secara rutin.
Manager SPPG Cepit Kulon, Achmad Chairul Jaza, mengatakan konsumsi CNG mengikuti aktivitas operasional dan volume produksi makanan.
“Konsumsi CNG di SPPG Cepit Kulon saat ini berada di kisaran 800 sampai 1.000 meter kubik per bulan. Kebutuhan tersebut menyesuaikan dengan aktivitas operasional SPPG dan volume produksi makanan yang harus disiapkan,” ujar Achmad.
Ia menambahkan, kebutuhan energi dapat meningkat seiring bertambahnya aktivitas produksi. Karena itu, kesinambungan layanan energi menjadi bagian penting dalam menjaga operasional SPPG.
PGN Kembangkan Jaringan Gas di Sleman
Selain CNG, PGN juga mengembangkan jaringan gas bumi di Kabupaten Sleman.
Berdasarkan data klasterisasi CNG Jargas Sleman, infrastruktur yang tersedia meliputi satu unit Pressure Regulating Station (PRS), pipa Distribution Through Meter (DTM) sepanjang 15,9 kilometer, lima unit Regulating Station (RS), serta pipa Distribution Through Regulator (DTR) sepanjang 125,5 kilometer.
Total panjang jaringan tersebut mencapai sekitar 141,4 kilometer dan telah melayani 4.545 pelanggan rumah tangga, enam pelanggan kecil, serta empat pelanggan komersial/industri. Secara keseluruhan terdapat sekitar 4.555 pelanggan.
PGN Gagas juga mengembangkan layanan Gaslink untuk pelanggan industri, komersial dan UMKM. Secara nasional, layanan tersebut telah melayani lebih dari 600 pelanggan dengan total penyaluran mencapai 4.067.002 MMBTU sepanjang 2025.
Santiaji menegaskan, pengembangan CNG tetap memperhatikan aspek keekonomian, kesiapan infrastruktur dan kebutuhan pasar.
Pasokan gas untuk CNG juga terintegrasi dengan jaringan infrastruktur PGN sehingga mendukung optimalisasi pemanfaatan gas bumi domestik.
Pengembangan CNG dan jaringan gas menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan gas bumi sesuai kebutuhan pelanggan, mulai dari rumah tangga hingga fasilitas pelayanan masyarakat.
Dengan perluasan tersebut, gas bumi diharapkan semakin berperan dalam mendukung aktivitas ekonomi dan memperkuat ketahanan energi di Yogyakarta serta Jawa Tengah bagian selatan.(ZID)






