FACEINDONESIA.CO.ID- Percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.
Kebijakan afirmatif yang tepat sasaran diperlukan untuk mempercepat program tersebut, terutama dalam mengatasi persoalan tanaman sawit yang sudah tua serta legalitas lahan.
Kepala Pusat Studi Sawit IPB University, Prof Budi Mulyanto, mengatakan percepatan PSR diperlukan karena banyak perkebunan sawit rakyat telah memasuki usia tua sehingga produktivitasnya menurun.
Tanaman kelapa sawit berusia 25 tahun atau lebih berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku bagi industri sawit nasional. Kondisi tersebut juga dapat berdampak terhadap program hilirisasi kelapa sawit.
“Peremajaan sawit ini sangat penting. Saat ini hampir 50 persen sawit Indonesia merupakan sawit rakyat dan sebagian besar tanaman sudah tua. Kalau tidak diremajakan, maka bagaimana kita bicara program hilirisasi? Karena produksi menentukan hilirisasi,” kata Budi di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurut Budi, salah satu cara mempercepat PSR adalah melalui kebijakan afirmatif yang memberikan kemudahan kepada petani sawit rakyat, khususnya dalam menghadapi kendala administratif dan legalitas lahan.
“Percepatan program peremajaan sawit rakyat membutuhkan kebijakan afirmatif terkait masalah legalitas lahan. Kebijakan afirmatif tersebut harus berbasiskan pada prinsip kepastian, kemanfaatan, dan keadilan,” ujarnya.
Budi juga menilai kinerja Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam menjalankan Program PSR cukup baik. Program tersebut dinilai memberikan manfaat bagi petani, lingkungan, serta keberlanjutan industri sawit nasional.
Ia menambahkan, penyaluran dana dukungan BPDP untuk peremajaan sawit rakyat telah menerapkan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang bertanggung jawab.
“Dalam memberikan dukungan pendanaan Program PSR, BPDP sudah sangat prudent. Prinsip kehati-hatian yang diterapkan oleh BPDP itu sangat penting,” tegasnya.
Sementara itu, Head of International Relation DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Djono Albar Burhan, mengatakan Program PSR yang dilaksanakan BPDP telah memberikan manfaat positif bagi petani.
Menurut Djono, PSR menjadi momentum bagi petani untuk melakukan regenerasi tanaman sekaligus meningkatkan produksi melalui penggunaan benih bersertifikat dan tata kelola perkebunan yang lebih baik.
“Petani sawit sangat terbantu dengan program peremajaan. Di tengah produktivitas yang menurun saat umur tanaman sawit sudah di atas 25 tahun dan produktivitas di bawah 10 ton per hektare per tahun, peremajaan menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas,” katanya.
Djono berharap pemerintah terus memberikan kemudahan bagi petani dalam memenuhi persyaratan Program PSR. Kemudahan tersebut diyakini dapat mempercepat pelaksanaan peremajaan sawit rakyat di berbagai daerah.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk membantu petani mengikuti Program PSR. Selain itu, kepastian berusaha, terutama terkait legalitas lahan, perlu diperkuat.
“Perlu ada kepastian berusaha bagi para petani sawit karena saat ini masih ada isu-isu terkait legalitas lahan,” pungkasnya.(ZID)






