FACEINDONESIA.CO.ID- Pembangunan Blok Masela membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Maluku melalui investasi, lapangan kerja, dan pengembangan usaha lokal.
Proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela mulai memasuki tahap pembangunan setelah groundbreaking pada Juli 2026. Proyek strategis nasional dengan nilai investasi sekitar US$20,9 miliar ini diharapkan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Tanimbar.
Blok Masela dioperasikan INPEX Masela Ltd bersama PT Pertamina Hulu Energi dan Petronas Masela. Proyek ini memiliki cadangan gas sekitar 18,54 trillion cubic feet (TCF), dengan rencana produksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta standard cubic feet per day (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel kondensat per hari.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar Brampi Moriolkosu mengatakan pemerintah daerah tengah menyiapkan masyarakat agar dapat terlibat langsung dalam pembangunan Blok Masela.
Pemkab Kepulauan Tanimbar melakukan inventarisasi usaha kecil dan menengah (UKM), termasuk mengaktifkan kembali usaha yang belum berjalan. Pelaku usaha nantinya mendapat pendampingan agar mampu memenuhi kebutuhan proyek.
Selain itu, pemerintah daerah menyiapkan tenaga kerja lokal melalui kerja sama dengan pihak swasta serta pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jalan, jembatan dan fasilitas perkantoran.
Brampi berharap akses transportasi antarpulau semakin baik sehingga masyarakat dapat terhubung dengan pusat aktivitas ekonomi. Kolaborasi dengan INPEX dan SKK Migas juga diharapkan dapat dilakukan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Anggota Komisi XII DPR Bambang Wuryanto menilai Blok Masela berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia. Pembangunan pelabuhan dan fasilitas kilang di Pulau Nustual dinilai berpeluang mendorong terbentuknya pusat aktivitas ekonomi baru.
Menurut Bambang, proyek tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 10.000 hingga 15.000 pekerja pada puncak konstruksi. Tenaga kerja lokal dinilai memiliki peluang besar untuk terserap melalui program pelatihan.
Dari sisi energi, sekitar 40 persen produksi gas Blok Masela dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri. Pasokan tersebut diharapkan mendukung kebutuhan listrik, bahan baku pupuk, serta industri berbasis gas.
Pengamat energi Riki F. Ibrahim menilai pembangunan Blok Masela akan membawa dampak besar terhadap perekonomian Maluku. Namun, pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga tanah, inflasi daerah, serta dinamika antara pekerja lokal dan pendatang.
Riki juga mendorong pengelolaan participating interest (PI) 10 persen secara profesional. Menurutnya, penerimaan dari sektor migas perlu diarahkan untuk kepentingan jangka panjang melalui investasi di bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.
Penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) juga dinilai dapat memperkuat posisi Blok Masela sebagai proyek energi rendah emisi sekaligus meningkatkan daya saing gas Indonesia.
Dengan investasi sekitar US$20,9 miliar, Blok Masela kini memasuki fase penting. Keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh produksi gas, tetapi juga sejauh mana manfaat investasi, lapangan kerja, pengembangan usaha lokal dan peningkatan kesejahteraan dapat dirasakan masyarakat Maluku.(ZID)






